Memotret ubur-ubur di lepas pantai Sligo pada musim panas 2024 ternyata bukan sekadar hobi dadakan, melainkan sebuah titik balik yang mengirimkan sang fotografer, Yvette Monahan, menyelam lebih dalam ke dunia fotografi yang berorientasi pada cerita laut yang krusial, apalagi di tengah gelombang pemanasan global yang makin mengkhawatirkan. Sebuah momen pencerahan di bawah permukaan air yang mengubah seluruh fokus praktiknya, dari sekadar menangkap gambar menjadi juru cerita visual mengenai anomali samudera.
Laut, bagi Monahan, bukanlah entitas asing. Tumbuh besar di pesisir Atlantik Sligo, dikelilingi oleh orang tua yang gemar menyelam scuba, dan terhipnotis oleh keajaiban visual Jacques Cousteau dalam “The Silent World”, telah menanamkan kekaguman yang tak pernah pudar. Pengalaman tiga bulan di Madagaskar, mengumpulkan data ilmiah bawah laut menggunakan scuba di usia 20-an, semakin memperkuat ikatan tersebut. Praktik fotografi Monahan, yang sebelumnya telah piawai dalam mengungkap narasi tak kasat mata yang tersimpan dalam lanskap daratan, kini berlayar menuju kedalaman laut yang misterius.
Sang Laut sebagai Arsip Kehidupan yang Terlupakan
Sebuah mandat dari Belfast Photo Festival membuka gerbang kolaborasi Monahan dengan Dr. Ewan Hunter, seorang ekolog perilaku di Agri-Food and Biosciences Institute. Percakapan mereka adalah jembatan antara sains dan seni, menggali bagaimana kedua disiplin ini, meskipun berbeda medium, pada hakikatnya sama-sama berfungsi sebagai saksi dunia. Para ilmuwan dan seniman, pada dasarnya, adalah penerjemah observasi menjadi bentuk pemahaman yang berbeda; satu melalui data empiris, yang lain melalui interpretasi visual dan emosional.
Dr. Hunter memperkenalkan Monahan pada konsep otoliths—batu telinga kecil pada ikan yang mencatat riwayat hidup mereka dalam lapisan-lapisan. Bayangkan cincin pertumbuhan pohon, namun di dalam telinga ikan. Struktur mikroskopis ini menyimpan kronologi migrasi, pola makan, dan bahkan jejak perubahan lingkungan yang dialami ikan sepanjang hidupnya. Fenomena serupa juga teramati pada sisik ikan salmon, yang ternyata menyimpan peta tak terlihat dari perjalanan dan kondisi ekologis mereka.
Ide revolusioner ini menjadi fondasi utama proyek fotografi Monahan yang diberi tajuk The Ocean Within. Proyek ini secara mendalam menggali potensi ikan sebagai arsip hidup dari lautan. Melalui lensa kameranya, Monahan mengajak audiens untuk melihat lebih dari sekadar biota laut; ia menyajikan mereka sebagai perpustakaan bergerak yang merekam sejarah samudra.
Eksplorasi Artistik Melalui Arsip Biologis
The Ocean Within saat ini sedang dipamerkan di Photo Museum Ireland, sebagai bagian dari program Groundswell, sebuah inisiatif Eropa yang mengintegrasikan para seniman dengan aksi iklim. Di tengah ketidakpastian ekologis yang membayangi planet, proyek ini menjadi undangan kuat untuk mendengarkan bisikan di bawah permukaan air, untuk mengingat kembali “samudra di dalam diri” yang seringkali terlupakan dalam hiruk-pikuk kehidupan modern.
Keterlibatan Monahan dengan Dr. Hunter bukan sekadar pertukaran informasi. Ini adalah proses simbiosis artistik-ilmiah. Sains memberikan data mentah, sebuah ‘bahasa’ yang terstruktur namun terkadang sulit diakses oleh khalayak umum. Seni, dalam hal ini fotografi Monahan, bertugas menerjemahkan ‘bahasa’ sains tersebut menjadi narasi visual yang lebih intuitif, emosional, dan mudah dicerna. Hasilnya adalah serangkaian gambar yang tidak hanya memukau secara estetika, tetapi juga sarat makna edukatif.
Fokus pada otoliths dan sisik ikan membawa sebuah perspektif baru dalam seni fotografi alam. Alih-alih sekadar menampilkan keindahan permukaan laut atau kepiawaian dalam menangkap momen dramatis kehidupan bawah air, Monahan memilih untuk menggali lapisan-lapisan tersembunyi dari keberadaan organisme laut. Setiap gambar menjadi jendela ke masa lalu, bukti bisu dari tantangan dan adaptasi yang telah dilalui oleh makhluk-makhluk ini.
Sains dan Seni: Dua Sisi Mata Uang Narasi Lingkungan
Kolaborasi antara fotografer dan ilmuwan seperti Monahan dan Hunter menandakan pergeseran paradigma dalam komunikasi sains. Industri fotografi alam, yang terkadang dianggap hanya berfokus pada aspek visual semata, kini semakin merangkul konten yang lebih substansial dan relevan dengan isu-isu mendesak seperti perubahan iklim. The Ocean Within adalah contoh cemerlang bagaimana seni dapat menjadi katalisator untuk kesadaran lingkungan.
Pertanyaan yang diajukan oleh proyek ini sangat relevan: Bagaimana cara manusia dapat belajar “mendengarkan” lebih baik terhadap lautan, terutama di era krisis iklim? Jawabannya mungkin terletak pada kemampuan untuk menafsirkan “bahasa” yang ditawarkan oleh alam itu sendiri, bahasa yang diungkapkan melalui struktur biologis ikan, pola cuaca ekstrem, atau bahkan perubahan komposisi kimia air laut. Seni, dengan kemampuannya melampaui batasan rasional, dapat menjadi medium yang kuat untuk menjembatani pemahaman antara data ilmiah dan resonansi emosional manusia.
Pameran ini, yang bertempat di Photo Museum Ireland, bukan hanya pajangan karya fotografi. Ini adalah sebuah deklarasi seni yang berani di tengah krisis lingkungan. Monahan menggunakan kamera bukan hanya sebagai alat merekam, tetapi sebagai instrumen riset visual, menyingkap lapisan-lapisan cerita yang tersembunyi di dalam organisme terkecil sekalipun. Ia mengajak penonton untuk melihat ikan bukan hanya sebagai objek konsumsi atau subjek penelitian, melainkan sebagai penjaga memori samudra yang kaya.
Proyek ini juga secara implisit mengkritik pendekatan antropomorfik dalam melihat alam. Alih-alih memproyeksikan emosi atau kebutuhan manusia ke dunia alam, Monahan mengajak kita untuk mengapresiasi “kehidupan” dan “sejarah” yang dimiliki oleh entitas non-manusia itu sendiri. Arsip biologis dalam bentuk otoliths dan sisik ikan memberikan bukti konkret akan keberadaan, perjalanan, dan perjuangan organisme tersebut jauh sebelum manusia mulai memikirkan dampaknya terhadap lingkungan.
The Ocean Within adalah pengingat bahwa lautan menyimpan lebih banyak cerita daripada yang bisa kita bayangkan. Kisah-kisah ini, tertulis dalam lapisan-lapisan halus batu telinga ikan atau jejak tak terlihat pada sisik mereka, menawarkan wawasan berharga tentang kesehatan planet kita. Melalui seni, Monahan berhasil mengubah data biologis yang kering menjadi narasi visual yang kuat, mendorong audiens untuk merenungkan hubungan mereka dengan dunia bawah laut dan urgensi untuk melindunginya.


