Lima cowok cakep yang bikin histeris era 90-an comeback? Jangan panik, ini bukan konser nostalgia sambil nyari jodoh, tapi reuni boyband yang dulu bikin kita bolos les demi nonton MTV. Five, dengan single macam “Keep on Movin'” dan “Everybody Get Up”, kini hadir kembali. Apakah ini ide bagus? Mari kita bedah sambil ngopi, karena reuni kadang semanis mantan, kadang se-zonk sinyal wifi di pelosok desa.
Di era ketika boyband menjamur bagai cendawan di musim hujan, Five muncul sebagai antitesis. Mereka nggak modal tampang doang, tapi juga punya attitude urakan yang bikin ABG klepek-klepek. Bayangkan, di tengah persaingan ketat dengan Backstreet Boys dan N’Sync yang serba clean-cut, Five berani tampil dengan gaya streetwear dan lirik yang lebih nge-gas. Hasilnya? Ledakan popularitas yang bikin mereka kewalahan sendiri.
Namun, layaknya petasan yang terlalu cepat dinyalakan, Five meledak terlalu dini. Di puncak kejayaan, mereka bubar jalan karena tekanan dan jadwal yang menggila. Abz mengakui itu terlalu cepat. Ritchie merasa seperti roket. Sean bahkan cuma ingat sepotong-sepotong, maklum masih bocah ingusan waktu itu. Sekarang, setelah dua dekade lebih, mereka mencoba peruntungan lagi. Tapi, mampukah mereka mengulang kesuksesan di tengah gempuran K-Pop dan TikTok?
Nostalgia: Antara Berkah dan Musibah
Reuni band memang jadi tren belakangan ini. Oasis sukses besar, tapi nggak sedikit juga yang flop total. Scott bahkan sampai nggak bisa tidur mikirin kemungkinan terburuk: “Gimana kalo nggak ada yang peduli? Kalo kita ngerasa ini bakal jadi big thing, tapi ternyata semua bilang, ‘Bodo amat’?” Pertanyaan yang jujur, mengingat selera musik anak muda sekarang sudah berubah drastis. Dengerin Five mungkin sama nostalgianya kayak nginget Friendster.
Tapi, ternyata fans Five masih setia menunggu. Tur mereka di berbagai negara nyaris ludes terjual. Ritchie bahkan kaget sendiri: “Kita tahu kita dulu lumayan sukses, tapi nggak nyangka dampaknya segede ini. Banyak orang yang bilang hidup mereka terpengaruh musik kita.” Mungkin ini yang namanya kekuatan nostalgia. Musik Five jadi soundtrack masa muda yang nggak bisa digantikan, bahkan oleh BTS sekalipun. Atau mungkin, ini cuma euforia sesaat sebelum kembali dilupakan?
Selain soal popularitas, ada satu hal lagi yang bikin Five deg-degan: apakah mereka masih sanggup nyanyi dan nari seperti dulu? Sean mengakui mereka jual tur tanpa tahu pasti bisa atau nggak. Untungnya, setelah latihan keras, mereka bisa bernapas lega. “Ternyata masih ada!” katanya. Tapi, apakah stamina mereka masih sekuat dulu? Kita tunggu saja aksi panggung mereka nanti. Siap-siap joget sampai encok, ya.
Dulu Mimpi, Sekarang Realita
Dulu waktu masih remaja, Five merasa seperti menang lotre. Semua impian jadi kenyataan. Tapi, di balik gemerlap panggung dan teriakan fans, ada sisi gelap yang nggak mereka duga. Ritchie bilang itu jadi mimpi buruk psikologis. J merasa seperti dikejar-kejar sesuatu. Mungkin yang mereka kejar sebenarnya cuma validasi dan pengakuan, seperti kebanyakan dari kita di era media sosial ini.
Yang menarik, inisiatif reuni ini justru datang dari Scott yang sudah 10 tahun nggak ngobrol sama Abz. “Yang penting bukan soal tur, tapi soal jadi teman lagi,” katanya. Pengakuan yang mengharukan, mengingat dulu mereka seringkali berseteru karena ego masing-masing. Mungkin, setelah melewati berbagai masalah hidup, mereka sadar bahwa persahabatan itu lebih berharga daripada sekadar popularitas.
Robbie Williams Effect: Dari Rival Jadi Motivator
Siapa sangka, mantan personel Take That, Robbie Williams, punya peran penting dalam reuni Five. Setelah kolaborasi di konsernya, Robbie mengajak mereka ngobrol dan berbagi pengalaman. Robbie bilang trauma masa lalu itu seperti membawa tas berisi batu besar yang harus dikosongkan setiap hari. Analogi yang pas buat menggambarkan beban mental yang harus ditanggung para personel boyband.
Buat J, pengalaman reuni ini justru jadi antitesis dari masa lalu. Sekarang mereka dikelilingi orang-orang yang lebih profesional dan perhatian. Manajemen yang lebih baik, dukungan yang lebih besar. Dulu mereka belajar sambil jalan, sekarang mereka punya peta yang lebih jelas. Tapi, apakah peta itu akan membawa mereka ke tempat yang lebih baik? Atau justru tersesat di rimba persaingan industri musik yang semakin kejam?
Keputusan (Tidak) Menyesal: Andai Waktu Bisa Diputar
Pertanyaan terakhir: andai waktu bisa diputar, apakah Five mau mengulang masa lalu? Abz bilang mau, tapi dengan cara yang berbeda. Ritchie bercanda ingin lebih teliti soal urusan keuangan. Jawaban yang jujur dan realistis. Mereka nggak menyesal pernah jadi bagian dari Five, tapi mereka belajar banyak dari kesalahan masa lalu. Pengalaman itu yang membentuk mereka jadi seperti sekarang ini.
Boyband Zaman Now: Lebih Kompleks dari Sekadar Tampang
Kisah Five ini jadi cermin buat industri musik modern. Bahwa jadi boyband itu nggak cuma soal tampang dan koreografi. Ada tekanan mental, persaingan ketat, dan ekspektasi yang nggak realistis. Tapi, di sisi lain, ada juga persahabatan, loyalitas fans, dan kesempatan untuk menginspirasi banyak orang. Reuni Five ini bukan cuma soal nostalgia, tapi juga soal pembuktian. Bahwa mereka masih punya sesuatu untuk ditawarkan, bahkan setelah dua dekade berlalu.
Move On atau Keep on Movin’? Pilihan Ada di Telinga Pendengar
Pada akhirnya, kesuksesan reuni Five ini tergantung pada satu hal: apakah musik mereka masih relevan dengan selera anak muda sekarang? Apakah mereka bisa menjangkau generasi baru tanpa kehilangan identitas lama? Waktu yang akan menjawab. Yang jelas, Five sudah membuktikan bahwa persahabatan dan keberanian untuk mencoba lagi itu lebih penting daripada sekadar mengejar popularitas. Jadi, mari kita keep on movin’, apapun yang terjadi!
Five: Still Movin’ bisa ditonton di BBC iPlayer mulai 28 Oktober. Tur mereka dimulai 29 Oktober di Cardiff. Siapkah Anda bernostalgia dan joget sampai lupa umur?


