Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

ZZ Top: Apakah ‘Afterburner’ Terbang Terlalu Dekat Matahari Setelah ‘Eliminator’?

Mari kita jujur, ada kalanya band kesayangan kita flop juga. Bukan karena mereka nggak niat, tapi ya… namanya juga hidup, kadang naik, kadang kayak sinyal di pelosok desa, hilang timbul. Nah, mari kita bedah album ZZ Top, Afterburner, yang sempat bikin kita bertanya-tanya: ini ZZ Top yang sama yang dulu bikin “Legs” itu?

ZZ Top dan Formula Ajaib yang (Nyaris) Berhasil

ZZ Top, trio berjenggot dari Texas ini, memang jagoan meramu blues rock dengan sentuhan Tex-Mex yang khas. Mereka bukan cuma musisi, tapi juga trendsetter. Album Eliminator di tahun 1983 itu buktinya. Dengan “Sharp Dressed Man” dan “Legs”, mereka sukses menggabungkan gitar yang garang dengan synthesizer dan drum yang diprogram. Hasilnya? Ledakan dahsyat di dunia musik!

Tapi, kesuksesan itu kadang bikin bingung. Mau tetap aman dengan formula lama, atau mencoba hal baru yang lebih berani? ZZ Top memilih opsi kedua. Mereka terjun lebih dalam ke dunia teknologi di album Afterburner (1985). Keputusan yang berani, sekaligus sedikit gambling.

“Sleeping Bag”: Ketika ZZ Top Nge-Hip Hop

Afterburner dibuka dengan “Sleeping Bag”, sebuah lagu yang langsung menunjukkan niat ZZ Top untuk bereksperimen. Mereka nggak cuma memakai synthesizer dan drum yang diprogram, tapi juga menambahkan scratching ala hip hop. Bayangkan, blues rock Texas ketemu musik jalanan New York! Awalnya mungkin terasa aneh, tapi ternyata… enak juga!

“Stages” menyusul dengan pop catchiness yang bikin kita ikut berdendang. Sayangnya, setelah dua lagu pembuka yang ciamik ini, ide-ide segar mulai menipis. Ibarat kuota internet, di awal bulan lancar jaya, tapi di akhir bulan mulai lemot.

Ketika Formula Jadi Bumerang

Beberapa lagu seperti “Woke Up With Wood”, “Planet of Women”, “Dipping Low (In the Lap of Luxury)”, dan “I Got the Message” terasa seperti formula yang diulang-ulang. Nggak jelek sih, tapi juga nggak istimewa. Mirip kayak makan nasi goreng setiap hari. Enak, tapi lama-lama bosen juga.

“Rough Boy”: Balada yang Bikin Bingung

Nah, ini dia yang kontroversial: “Rough Boy”. Balada ini memang menampilkan solo gitar yang memukau dari Billy Gibbons, dan vokal yang emosional. Tapi, aransemennya… hmm, agak mencurigakan. Apakah cuma saya yang merasa ada aura Genesis era Invisible Touch di sini? Atau malah… Rod Stewart versi 80-an?

Mencari Secercah Harapan di Tengah Kegelapan

Tenang, masih ada kok yang bisa dinikmati di Afterburner. Vokal Dusty Hill yang serak dan riff gitar yang menggigit di “Can’t Stop Rockin'” dan “Delirious” memberikan sentuhan bluesy yang kita rindukan. “Velcro Fly” juga lumayan asyik dengan nuansa dance floor yang baru. Lumayan buat goyang-goyang di kamar.

Ekspektasi vs. Realita: Antara Eliminator dan Afterburner

Setelah pembukaan yang menjanjikan, Afterburner sayangnya gagal memenuhi ekspektasi. Album ini nggak jelek, tapi juga nggak seajaib Eliminator. Ibarat mau masak Indomie, tapi bumbunya kurang lengkap. Tetap bisa dimakan, tapi rasanya kurang nendang.

Lompatan Jauh ke Depan Atau Sekadar Jauh dari Akarnya?

Album ini seperti sebuah eksperimen yang berani dari ZZ Top. Mereka mencoba menggabungkan elemen-elemen baru ke dalam musik mereka. Namun, eksperimen ini tidak sepenuhnya berhasil. Beberapa penggemar mungkin menyukai arah baru ini, sementara yang lain mungkin merindukan suara ZZ Top yang lebih tradisional. Apakah Afterburner adalah langkah yang benar atau salah? Itu tergantung pada perspektif masing-masing pendengar.

Terlalu Banyak Sintetis?

Salah satu kritik utama terhadap Afterburner adalah penggunaan synthesizer dan drum machine yang berlebihan. Ini memberi album ini suara yang lebih artifisial dan kurang organik dibandingkan dengan karya ZZ Top sebelumnya. Bagi sebagian orang, ini adalah penyimpangan yang tidak menyenangkan dari suara blues-rock akar mereka. Bagi yang lain, itu adalah eksperimen yang menarik yang menunjukkan kesediaan band untuk berkembang.

Sedikit Sentuhan Hip-Hop?

Unsur hip-hop dalam “Sleeping Bag” adalah aspek lain dari Afterburner yang memecah belah penggemar. Menggabungkan scratching dan beat hip-hop ke dalam blues-rock adalah langkah yang berisiko, dan hasilnya beragam. Beberapa orang menganggapnya sebagai inovasi yang menyegarkan, sementara yang lain menganggapnya tidak pada tempatnya dan dipaksakan.

Album Penentu Atau Sekadar Sebuah Fase?

Meskipun bukan tanpa kekurangannya, Afterburner tetap menjadi album penting dalam katalog ZZ Top. Itu menunjukkan bahwa band itu bersedia mengambil risiko dan menjelajahi wilayah musik baru. Itu juga menghasilkan beberapa single yang sukses, seperti “Sleeping Bag” dan “Stages”, yang menjadi pokok di radio dan MTV. Pada akhirnya, Afterburner mungkin bukan karya ZZ Top yang paling konsisten, tetapi itu adalah rekaman yang menarik dan layak untuk diingat.

Recycler: Ketika Daur Ulang Tak Selalu Berarti Lebih Baik

Tren penurunan ini berlanjut di album ZZ Top berikutnya, Recycler (1990), yang sayangnya dinamai dengan tepat. Setelah itu, trio ini akan membawa lebih banyak elemen organik kembali ke suara mereka. Mungkin mereka sadar, daur ulang ide memang penting, tapi jangan sampai lupa sama esensi diri sendiri.

Jadi, Apakah Afterburner Layak Didengar?

Afterburner itu seperti teman yang punya potensi besar, tapi kadang salah kostum. Ada momen-momen brilian, tapi ada juga momen-momen yang bikin kita garuk-garuk kepala. Tapi, justru karena itulah album ini menarik. Sebuah eksperimen yang berani, meskipun nggak semuanya berhasil. Sebuah pengingat bahwa bahkan band sehebat ZZ Top pun pernah mengalami masa-masa sulit. Dan yang terpenting, sebuah bukti bahwa dalam musik, yang penting itu bukan cuma kesempurnaan, tapi juga keberanian untuk mencoba hal baru. Walaupun hasilnya… ya, gitu deh.

Previous Post

Amiibo Street Fighter 6: Kartu Baru Ungkap Desain Ingrid & Alex yang Memukau!

Next Post

Studio Otomasi Kreatif Tiger Pistol: Iklan Lokal Skala Nasional Jadi Lebih Mudah!

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *