Pengakuan dosa seorang gamer: ada banyak sekali game yang dimulai, tapi nyaris tak ada yang selesai. Fenomena ini bukan cuma terjadi di kalangan gamer amatir, tapi juga menimpa mereka yang mengaku dirinya “kritikus” atau “pengamat” video game. Ironis, bukan? Seolah-olah kita ini pelari maraton yang cuma sanggup lari 100 meter pertama.
Di tahun 2025, ada sekitar 26 judul game yang dicicipi, dijajal, tapi kemudian diabaikan begitu saja. Alasannya beragam, mulai dari “bosan”, “terlalu mudah”, sampai “ketagihan World of Warcraft lagi”. Sebuah lingkaran setan yang akrab di telinga para gamer yang punya segudang alasan untuk tidak menamatkan game.
Apakah ini pertanda kiamat industri game? Tentu tidak. Tapi, fenomena “tidak tamat-tamat” ini menarik untuk diulik. Kenapa kita lebih memilih menumpuk pile of shame daripada menikmati ending sebuah game? Apakah ini refleksi dari budaya instan yang serba cepat, atau sekadar masalah kurangnya komitmen?
FOMO Game: Musuh Terbesar Para Completionist Gadungan
Salah satu penyebab utama kenapa banyak game terbengkalai adalah FOMO alias Fear of Missing Out. Belum juga menamatkan satu game, eh, sudah ada trailer game baru yang lebih menarik. Belum lagi godaan dari media sosial yang setiap hari memamerkan screenshot dan video gameplay dari game-game hype.
Alhasil, kita pun tergoda untuk mencicipi game baru, meninggalkan game lama yang masih belum selesai. Sebuah siklus yang tak berujung, seperti drama Korea yang episode-nya tak kunjung tamat. Bedanya, kalau drama Korea masih bisa ditonton sambil rebahan, game menuntut interaksi aktif yang kadang bikin malas.
FOMO ini seperti hantu yang terus berbisik, “Hei, ada game yang lebih seru tuh di luar sana!” Padahal, siapa tahu game yang sedang kita mainkan sebenarnya lebih bagus, hanya saja kita belum memberinya kesempatan yang cukup. Ibarat mencari jodoh, terlalu sibuk mencari yang “lebih baik” malah membuat kita kehilangan yang “terbaik”.
Steam Deck dan Kutukan Portabilitas
Kehadiran Steam Deck seharusnya menjadi berkah bagi para gamer. Dengan alat ini, kita bisa bermain game di mana saja dan kapan saja. Tapi, di sisi lain, Steam Deck juga memperparah masalah “tidak tamat-tamat”. Kenapa?
Karena Steam Deck membuat kita semakin mudah tergoda untuk mencoba game-game baru. Tinggal klik, unduh, dan mainkan. Tanpa perlu repot-repot duduk di depan PC atau TV. Akibatnya, kita jadi punya terlalu banyak pilihan, dan akhirnya tidak ada satu pun yang benar-benar kita nikmati.
Steam Deck ini seperti prasmanan. Ada banyak sekali makanan enak yang menggugah selera, tapi perut kita cuma muat sedikit. Ujung-ujungnya, kita cuma mencicipi sana-sini, tanpa benar-benar merasakan nikmatnya setiap hidangan.
The List of Shame: Daftar Game yang Terlupakan
Berikut ini adalah daftar game yang “hampir” tamat, tapi kemudian ditinggalkan begitu saja. Daftar ini disusun berdasarkan tingkat kesukaan, bukan berdasarkan potensi untuk ditamatkan. Siapa tahu, daftar ini bisa menjadi inspirasi bagi para gamer lain yang mengalami masalah serupa.
- Baldur’s Gate 3
- Disco Elysium
- Elden Ring
- Divinity: Original Sin 2
- Hades II
- Hollow Knight
- Death Stranding 2: On The Beach
- Final Fantasy Tactics: The Ivalice Chronicles
- Tactics Ogre: Reborn
- Hades
- Warhammer 40,000: Rogue Trader
- Path of Exile 2
- The Hundred Line: Last Defense Academy
- Unicorn Overlord
- Blue Prince
- Norco
- Trails in the Sky 1st Chapter (Remake)
- The Legend of Heroes: Trails in the Sky
- Granblue Fantasy: Relink
- Fire Emblem Engage
- LIVE A LIVE
- Danganronpa: Trigger Happy Havoc
- Red Dead Redemption 2
- Marvel’s Midnight Suns
- Monster Hunter Wilds
- Getting my wallet emptied out by yet another Steam sale of games I will never finish
- Assassin’s Creed Valhalla
Solusi: Kembali ke Esensi Gaming
Lalu, bagaimana cara mengatasi masalah “tidak tamat-tamat” ini? Jawabannya sederhana: kembali ke esensi gaming. Ingat-ingat lagi kenapa kita dulu suka bermain game. Apakah karena ingin mencari tantangan, ingin menikmati cerita yang bagus, atau sekadar ingin bersenang-senang?
Jika kita sudah menemukan esensi tersebut, maka kita akan lebih mudah untuk fokus dan berkomitmen pada sebuah game. Kita tidak akan lagi tergoda oleh FOMO, dan kita akan lebih menghargai pengalaman bermain game secara utuh.
Selain itu, cobalah untuk membuat batasan yang jelas. Misalnya, tetapkan target untuk menamatkan satu game setiap bulan. Atau, buat aturan untuk tidak membeli game baru sebelum menamatkan game yang sedang dimainkan. Disiplin memang berat di awal, tapi hasilnya akan sepadan.
Intinya, bermain game itu seperti menjalin hubungan. Butuh komitmen, kesabaran, dan komunikasi yang baik. Kalau kita terlalu sering selingkuh dengan game lain, jangan heran kalau game yang sedang kita mainkan akhirnya kabur.
Gaming yang Tidak Tamat-Tamat: Sebuah Refleksi Zaman?
Mungkin, fenomena gaming yang tidak tamat-tamat ini adalah refleksi dari zaman kita. Zaman di mana segala sesuatu serba cepat, instan, dan mudah didapatkan. Kita terbiasa dengan kepuasan instan, sehingga sulit untuk fokus pada sesuatu yang membutuhkan waktu dan usaha.
Tapi, di sisi lain, gaming juga menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar hiburan. Gaming bisa menjadi media untuk belajar, bersosialisasi, dan mengeksplorasi diri. Kalau kita bisa memanfaatkan potensi tersebut, maka gaming tidak hanya menjadi pelarian, tapi juga menjadi bagian penting dari kehidupan kita.
Jadi, mari kita berhenti menumpuk pile of shame, dan mulai menamatkan game-game yang sudah kita beli. Siapa tahu, di balik setiap game yang tamat, ada pelajaran berharga yang bisa kita petik. Atau setidaknya, kita bisa pamer ke teman-teman kalau kita bukan cuma jago mulai, tapi juga jago menyelesaikan.


