Selamat! Gajah-gajah di Bali Zoo akhirnya merasakan kebebasan dari teror naik-turun turis. Mulai 1 Januari 2026, atraksi yang katanya bikin ‘merinding’ ini, yaitu naik gajah, resmi jadi barang museum. Ini kabar gembira buat para aktivis kesejahteraan satwa yang sudah lama banget nyinyirin praktik yang katanya ‘etika’ ini. Kalo dulu orang heboh foto-foto nangkring di punggung gajah kayak raja, sekarang gajah-gajah itu mungkin bisa lebih nyantai, nggak perlu lagi mikirin jadwal parade demi meraup dolar turis.
Keputusan ini datang seiring dengan dorongan kuat dari berbagai kelompok advokasi yang gemas melihat satwa dijadikan tontonan. Bukan rahasia lagi, acara-acara yang melibatkan interaksi langsung dengan hewan liar seringkali menyimpan cerita kelam di baliknya. Mulai dari latihan yang menyakitkan sampai stres kronis yang dialami hewan, semua demi hiburan semata. Untungnya, kesadaran soal etika dan kesejahteraan hewan semakin merasuk, membuat praktik-praktik usang ini mulai ditinggalkan.
Emma Kristiana Chandra, selaku humas Bali Zoo, membenarkan bahwa tempatnya kini menaungi empat belas gajah Sumatera yang terancam punah. Pernyataan tersebut, yang dikutip oleh The Bali Sun, menegaskan komitmen kebun binatang untuk terus meningkatkan standar penanganan satwa, termasuk menghentikan pertunjukan dan kegiatan tunggang-binatang. Fokusnya kini beralih ke perawatan dan konservasi, sejalan dengan regulasi baru dari Kementerian Kehutanan. Ini bukan sekadar ganti baju, tapi perombakan total pendekatan terhadap tanggung jawab konservasi.
Dulu, Bali Zoo pernah bangga menjadi pelopor wahana wisata gajah di pulau dewata. Menawarkan pengalaman unik menunggangi gajah Sumatera melalui jalur-jalur eksotis, dengan tarif yang tidak main-main, sekitar 150 dolar. Pengunjung didampingi mahout, para ahli pawang gajah, yang akan mengarahkan punggung-punggung besar ini melewati rute yang dirancang indah. Bayangkan, duduk di atas ‘singgasana’ bergerak sambil menikmati pemandangan alam, bahkan sesekali menyeberangi sungai. Promosi lama memang memamerkan senyum lebar para penunggang di atas pelana empuk.
Namun, di balik semua itu, realitas bagi sang gajah sungguh berbeda. Beban fisik yang berat dan stres psikologis jangka panjang sudah jadi makanan sehari-hari. Para mahout pun tak jarang menggunakan cambuk logam tajam, yang dikenal sebagai bullhook, untuk memaksa kepatuhan demi kelancaran parade para turis. Sebuah ironi, di mana keindahan alam disajikan di atas penderitaan makhluk hidup. Kesenangan sesaat manusia dibayar dengan siksaan tak terucap oleh sang gajah.
Nasib Gajah di Bawah Kacamata Baru
Pada Januari 2026, laporan The Bali Sun menyoroti gerakan masif untuk mengakhiri tradisi tunggang gajah di Bali, menjulukinya ‘jumbo news’ bagi pulau tersebut. Gerakan ini dipelopori oleh Badan Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Bali, lembaga yang mengawasi kesejahteraan satwa di kebun binatang. Surat edaran yang disebar luas menegaskan penghentian demonstrasi tunggang gajah di institusi konservasi. Ratna Hendratmoko, Direktur BKSDA, menekankan, “Manajemen gajah harus beradab, penuh hormat, karena mereka adalah hewan, ciptaan Tuhan yang setara.” Ucapan yang sederhana namun sarat makna, menohok sekaligus mengingatkan.
Laporan dari Animal Survival International menambahkan bahwa keputusan Bali Zoo untuk menghentikan praktik tunggang gajah dipicu oleh imbauan dari BKSDA pada Desember 2025. Imbauan tersebut meminta atraksi wisata untuk menunjukkan penghormatan lebih besar kepada gajah dan beralih dari aktivitas menunggangi mereka. Ancaman penarikan izin operasional menjadi konsekuensi bagi yang membandel. Dukungan juga datang dari Southeast Asian Zoos and Aquarium Association, yang telah lama mengkritik keras praktik tunggang gajah. Ini menunjukkan adanya konsolidasi gerakan demi kebaikan satwa.
Selama beberapa dekade terakhir, berbagai organisasi pemerhati satwa, termasuk PETA dan World Animal Protection, secara vokal menyoroti praktik tunggang gajah di Bali Zoo sebagai tindakan yang “tidak etis” dan “kejam”. Mereka berargumen bahwa aktivitas tersebut mengganggu perilaku alami gajah, sosialisasi antarindividu, dan kebutuhan mereka akan pengayaan lingkungan di habitat aslinya. Pelabelan ini bukan sekadar retorika; ini adalah pengakuan atas dampak negatif yang nyata pada kesejahteraan hewan. Bali Zoo pun tak luput dari tudingan eksploitasi dan penganiayaan satwa.
Pernyataan resmi dari pihak kebun binatang, yang kini menjadi sorotan, menandakan adanya perubahan drastis dalam cara pandang terhadap satwa. Ini adalah refleksi pergeseran tanggung jawab kesejahteraan hewan yang telah lama digaungkan oleh para aktivis. Bukan sekadar mengikuti tren, tapi sebuah pengakuan atas pentingnya perlindungan dan perlakuan yang lebih baik bagi makhluk hidup lain. Suatu hal yang seharusnya menjadi pondasi utama operasional lembaga konservasi mana pun.
Persepsi publik terhadap wahana wisata semacam ini telah bergeser secara signifikan. Organisasi kesejahteraan hewan berhasil membingkai ulang pengalaman tunggang gajah dari sekadar petualangan seru menjadi tindakan eksploitatif. Kesadaran ini penting, karena seiring perubahan ekspektasi pengunjung, tempat-tempat yang masih ngotot menawarkan tunggang gajah berisiko menyinggung nilai-nilai komunitas dan standar pariwisata yang bertanggung jawab. Era ‘liar’ yang mengabaikan etika perlahan tapi pasti akan ditinggalkan.
Beberapa pihak mungkin akan berdalih bahwa perubahan ini sekadar manuver dagang untuk menarik eco-tourists yang kian sadar lingkungan. Namun, terlepas dari motifnya, ini adalah kemenangan mutlak bagi gajah dan para pengunjung yang kini bisa menikmati pengalaman yang lebih otentik dan etis. Dampak positif ini terasa ganda, menguntungkan satwa sekaligus membangun citra pariwisata yang lebih baik.
Perjalanan Menuju Konservasi Sejati
Larangan ini menjadi bukti nyata bahwa kerja keras yang didorong oleh empati, kolaborasi antara kelompok konservasi, pemerintah, industri pariwisata, dan publik, dapat menghasilkan perubahan positif. Ini membuka jalan agar gajah tidak lagi dieksploitasi demi hiburan semata. Pariwisata yang berfokus pada kesejahteraan satwa kini memiliki peluang besar untuk menjadi standar baru. Sebuah harapan yang membuncah bagi masa depan konservasi di Indonesia.
Suzanne Milthorpe, kepala kampanye World Animal Protection di ANZ, menyampaikan bahwa langkah ini merupakan buah dari advokasi bertahun-tahun. “Pengumuman Bali Zoo yang menghentikan tunggang gajah mengirimkan sinyal kuat kepada industri pariwisata bahwa tunggang gajah adalah sejarah,” ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa masa lalu yang kelam kini benar-benar ditinggalkan, membuka lembaran baru yang lebih baik bagi satwa.


