Dunia game, yang nilainya setara dengan anggaran belanja negara kecil, ternyata tidak hanya dikuasai oleh Amerika, China, dan Jepang. Studio game indie di daerah-daerah mulai bermunculan. Bahkan, Pilbara, sebuah wilayah di Australia Barat yang lebih terkenal dengan tambang, ikut-ikutan bikin studio game. Ini seperti menemukan berlian di tumpukan batu bara, atau mungkin easter egg di game yang selama ini kita mainkan.
Di Australia sendiri, ada sekitar 137 perusahaan yang mengembangkan game di tahun 2024, dengan jumlah karyawan hampir 2.500 orang. Ini menunjukkan bahwa industri game bukan sekadar hobi, tapi juga ladang bisnis yang serius. Lalu, apa yang membuat studio game di daerah seperti Pilbara ini bisa eksis?
Jai Macphail, seorang pemuda berusia 24 tahun, adalah otak di balik Red Dog Studios, studio game pertama di Pilbara. Baginya, Karratha, kota yang lebih dikenal dengan ekspor gas dan bijih besi, justru menjadi tempat yang ideal untuk mengembangkan studio game. Alasannya? Selain karena dia cinta komunitas di sana, Karratha juga punya sumber energi matahari yang melimpah. Bayangkan, studio game yang ramah lingkungan, bisa jadi tren baru di masa depan.
Energi Matahari untuk Pixel dan Kode: Karratha Jadi Silicon Valley-nya Game Indie?
Macphail menjelaskan bahwa produksi pertama mereka, yang diberi judul “The Farlands,” telah mendapat dukungan yang luar biasa. Game ini menawarkan pengalaman bermain di dunia fantasi abad pertengahan, di mana pemain dapat menjelajah, membuat kerajinan, dan berpetualang bersama teman-teman mereka. Kedengarannya seperti gabungan antara Minecraft dan Lord of the Rings, tapi dengan sentuhan lokal Pilbara.
Langkah Macphail ini ternyata mendapat dukungan dari pemerintah kota Karratha berupa dana hibah sebesar 20.000 dollar Australia. Walikota Karratha, Daniel Scott, mengatakan bahwa dukungan ini penting untuk diversifikasi industri di wilayah tersebut. Selama ini, Karratha memang dikenal dengan industri berat, tapi Cr Scott melihat potensi besar dalam industri game.
Scott menambahkan, biasanya orang-orang dengan skill di bidang game akan pergi ke kota-kota besar untuk mengembangkan ide mereka. Namun, dengan dukungan lokal, Karratha berharap bisa menjadi pusat ekonomi digital baru. Ini seperti pepatah, “Jangan mencari rumput tetangga, kalau di halaman sendiri bisa ditanami intan.”
Ekonomi Digital: Dari Tambang ke Pixel, Masa Depan Cerah?
Menurut Paris Buttfield-Addison, direktur kreatif studio Secret Lab di Tasmania, peningkatan jumlah pembuat game di luar kota-kota besar disebabkan oleh kemudahan akses. Dulu, membuat game di daerah terpencil terasa seperti mengirim pesan dengan merpati pos. Sekarang, dengan internet super cepat, semua jadi lebih mudah.
“Dulu, kita harus mengirim hard drive berisi data dengan FedEx agar sampai ke kolaborator dengan cepat. Sekarang, kita bisa upload dan download dengan mudah,” kata Buttfield-Addison. Ini menunjukkan bahwa industri game adalah “ekspor tanpa bobot”, tidak perlu kapal atau truk untuk mengirim produk ke seluruh dunia.
Hal senada juga diungkapkan oleh Nathan Groves, direktur kreatif studio Salty Games di Darwin. Studio ini sedang mengembangkan game berjudul “Pasture: The Livestock Simulator,” yang terinspirasi dari industri peternakan sapi di Northern Territory. Groves mengatakan bahwa keterpencilan bukan lagi masalah besar seperti dulu.
Skill Transfer: Kunci Utama Mengembangkan Game di Daerah Terpencil
Groves menambahkan, masalah utama sekarang adalah transfer skill di daerah-daerah. Menurutnya, hal ini bisa diatasi melalui mentoring. “Bagi saya, ini adalah kepingan terakhir dari teka-teki untuk membuat pengembang regional bisa bekerja dan membuat game dari tempat mereka berada,” ujarnya. Ini seperti memberikan pancing, bukan ikan, agar orang bisa mandiri.
Li Ping Thong, Associate Dean of Digital Design di RMIT, mengatakan bahwa game adalah salah satu sektor kreatif dengan pertumbuhan tercepat di Australia. Studio-studio lokal, yang umumnya kecil dan independen, mampu menciptakan karya yang kompetitif secara global dan relevan secara budaya. Ini membuktikan bahwa kualitas tidak selalu bergantung pada ukuran atau lokasi.
Thong juga menambahkan bahwa game dari pengembang regional seringkali memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman lokal. “Karya mereka terkadang mengambil inspirasi dari tempat, iklim, dan komunitas. Sehingga menghasilkan estetika dan gaya yang berbeda, lebih bijaksana, dan terasa lebih membumi,” jelasnya. Ini seperti menambahkan bumbu lokal pada masakan internasional, menciptakan rasa yang unik dan otentik.
Unik dan Lokal: Ketika Game Menjadi Jendela Budaya
Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari fenomena ini? Pertama, industri game tidak lagi didominasi oleh kota-kota besar. Daerah-daerah terpencil pun punya potensi untuk menjadi pusat pengembangan game. Kedua, dukungan pemerintah dan komunitas lokal sangat penting untuk mendorong pertumbuhan industri game di daerah. Ketiga, sentuhan lokal bisa menjadi nilai jual yang unik dan membedakan game dari pengembang regional dengan game dari studio besar.
Industri game di daerah-daerah terpencil ini seperti oase di tengah gurun. Mereka membuktikan bahwa kreativitas tidak mengenal batas geografis. Dengan dukungan yang tepat, siapa tahu, Pilbara bisa menjadi Silicon Valley-nya game indie. Atau mungkin, Indonesia juga bisa mengikuti jejak Australia dan mengembangkan industri game di daerah-daerah terpencil. Bayangkan, game tentang budaya lokal yang mendunia, siapa yang tidak bangga?
Melihat perkembangan ini, mungkin sudah saatnya kita berhenti meremehkan potensi anak daerah. Siapa tahu, game yang sedang kamu mainkan saat ini adalah hasil karya seorang pemuda dari desa terpencil, yang bermimpi untuk mengubah dunia melalui pixel dan kode. Dan ingat, jangan kaget kalau suatu saat nanti, kamu menemukan easter egg berupa warung kopi di tengah game fantasi, atau karakter NPC yang logatnya medok abis.


