Oke, mari kita buat artikel dengan gaya Mojok yang membahas tentang cara deploy GitLab di LAN. Siap-siap ngakak sambil ngoprek!
Ngaku deh, siapa di sini yang masih pakai cara jadul buat kolaborasi coding? Kirim file ZIP lewat email, lalu bingung sendiri versi terakhirnya yang mana. Udah kayak nyari jodoh, ribetnya minta ampun. Padahal, ada GitLab yang bisa bikin hidup lebih tenang daripada rebahan di kasur sambil dengerin lo-fi hip hop.
GitLab ini bukan sekadar tempat nyimpan kode. Ini adalah playground buat para developer dengan segala pernak-perniknya: kontrol versi dengan Git, CI/CD pipelines yang otomatis, issue tracking biar nggak ada drama, dan security scanning biar kode nggak bolong kayak tahu Sumedang. Singkatnya, GitLab ini kayak Indomie: praktis, bikin nagih, dan jadi andalan anak kos.
Nah, GitLab ini bisa dipakai lewat cloud, tapi kalau pengen lebih hemat dan menjaga privasi perusahaan kayak nyimpen aib mantan, mending deploy sendiri di LAN (Local Area Network). Kedengarannya ribet? Tenang, lebih gampang daripada ngajak gebetan coding bareng kok.
Kenapa Deploy GitLab di LAN? Biar Nggak Boncos dan Lebih Aman!
Bayangin gini, kalau tim kamu kerjaannya utak-atik kode yang sensitif, nyimpan di cloud itu kayak nyimpen foto aib di HP teman. Sekali bocor, bisa runyam urusannya. Dengan deploy di LAN, data tetap di dalam jaringan sendiri, aman dari intipan orang luar. Ibaratnya, punya benteng sendiri daripada numpang di rumah orang.
Selain itu, deploy GitLab di LAN juga bisa lebih hemat. Nggak perlu bayar langganan bulanan yang kadang bikin dompet menjerit. Uangnya bisa dialokasikan buat beli kopi atau snack biar semangat coding nggak kendor. Lumayan kan, bisa nabung buat beli RTX 4090!
Jadi, dengan deploy GitLab di LAN, kamu bisa dapat dua keuntungan sekaligus: keamanan data terjaga dan dompet tetap tebal. Kurang enak apa coba?
Siapkan Dulu Senjata Tempur: Docker dan Ubuntu Server
Sebelum mulai berperang melawan keribetan kolaborasi kode, ada beberapa senjata yang perlu disiapkan. Pertama, Docker. Ini adalah semacam kontainer yang bisa membungkus aplikasi beserta semua dependensinya. Jadi, aplikasi bisa jalan di mana saja tanpa masalah, kayak pindahan rumah yang nggak perlu bongkar pasang perabotan.
Kedua, Ubuntu Server 24.04. Ini adalah sistem operasi yang ringan dan stabil, cocok buat jadi landasan pacu GitLab. Tapi, kalau kamu lebih suka pakai sistem operasi lain, nggak masalah. Asal bisa dipasang Docker, semua beres.
Intinya, siapkan mesin yang kuat buat nampung GitLab. Ibaratnya, jangan pakai gerobak buat narik tank. Nggak bakal kuat, Bro!
Cara Pasang Docker: Lebih Gampang dari Masak Mie Instan!
Oke, sekarang kita masuk ke tahap pemasangan Docker. Buat yang belum punya Docker, tenang, caranya nggak serumit ngitung algoritma kriptografi kok.
Pertama, tambahkan key GPG resmi dari Docker dengan perintah berikut:
Lalu, tambahkan repository Docker dengan perintah:
Setelah itu, pasang semua komponen Docker dengan perintah:
Jangan lupa tambahkan user kamu ke grup Docker biar nggak perlu pakai sudo setiap kali menjalankan perintah Docker:
Terakhir, logout lalu login lagi biar perubahan生效. Beres! Sekarang Docker sudah siap tempur.
Deploy GitLab: Kayak Main Game Strategi, Tapi Lebih Seru!
Saatnya deploy GitLab! Pertama, tarik image GitLab resmi dari Docker Hub dengan perintah:
Tunggu sampai proses pulling selesai. Ini mungkin butuh waktu, tergantung kecepatan internet kamu. Sambil nunggu, bisa sambil ngopi atau dengerin musik biar nggak bosen.
Setelah selesai, cek apakah image GitLab sudah berhasil di-pull dengan perintah:
Kalau muncul image GitLab di daftar, berarti kamu sudah siap melangkah ke tahap selanjutnya.
Sekarang, jalankan kontainer GitLab dengan perintah:
Perhatikan port 8000. Kalau port itu sudah dipakai oleh aplikasi lain, ganti dengan port yang kosong. Jangan sampai terjadi bentrok kepentingan, Bro!
Proses deployment ini butuh waktu sekitar 5-20 menit. Jadi, sabar ya. Sambil nunggu, bisa sambil main Mobile Legends atau nyemil keripik kentang.
Akses GitLab: Saatnya Berkolaborasi!
Setelah proses deployment selesai, buka browser di LAN kamu dan ketik http://SERVER:8000 (ganti SERVER dengan alamat IP server kamu). Kalau muncul jendela login, berarti GitLab sudah berhasil di-deploy.
Tapi, tunggu dulu! Username dan password-nya apa? Tenang, jangan panik. Username-nya adalah root. Untuk password, kita perlu masuk ke dalam kontainer Docker.
Cari tahu ID kontainer GitLab dengan perintah:
Setelah dapat ID kontainer, masuk ke dalam kontainer dengan perintah:
Ganti ID dengan ID kontainer kamu. Di dalam kontainer, jalankan perintah berikut:
Perintah ini akan menampilkan password root GitLab kamu. Catat baik-baik, karena password ini akan otomatis dihapus setelah 24 jam setelah login pertama.
Kembali ke jendela login GitLab, masukkan root sebagai username dan password yang tadi kamu dapat. Selamat! Sekarang kamu sudah masuk ke dalam GitLab.
Setting Penting: Matikan Pendaftaran Pengguna Baru!
Sebelum mulai menggunakan GitLab, ada satu hal penting yang perlu dilakukan: matikan pendaftaran pengguna baru. Ini penting untuk menjaga keamanan GitLab kamu dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Caranya gampang, tinggal klik tombol “deactivate” di halaman pengaturan.
Dengan begitu, hanya orang-orang yang kamu izinkan saja yang bisa masuk ke GitLab. Aman kan?
Selamat Menikmati Aroma CI/CD yang Segar!
Itulah cara deploy GitLab di LAN. Sekarang tim kamu bisa berkolaborasi coding dengan lebih mudah, aman, dan hemat. Nggak perlu lagi kirim file ZIP lewat email atau bingung versi terakhirnya yang mana. Selamat menikmati aroma CI/CD yang segar!
Gimana? Nggak sesulit yang dibayangkan kan? Sekarang, saatnya kembali ke meja coding dan buat aplikasi yang keren abis!


