Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

HBOT: Oksigen untuk Trauma, Bye-bye Nightmare!

Dunia medis sering kali seperti gudang barang antik yang terlupakan, menyimpan alat-alat yang dulunya hanya untuk peselam tangguh atau awak kapal selam yang tertekan, kini malah jadi penyelamat jiwa-jiwa yang rapuh. Lupakan sejenak soal menyelam ke dasar laut untuk mencari harta karun, karena sekarang ada teknologi pernapasan ala dewa yang lagi diperhitungkan serius untuk mengobati trauma yang membelenggu. Ya, Hyperbaric Oxygen Therapy (HBOT), yang dulu identik dengan pencegahan penyakit dekompresi, kini malah jadi harapan baru bagi mereka yang dihantui masa lalu kelam.

Cerita Sarah (nama disamarkan) adalah gambaran nyata betapa ganasnya efek trauma. Belasan tahun mengabdi sebagai paramedis tempur di Angkatan Udara Israel, ia menyaksikan dan menangani situasi yang bikin bulu kuduk berdiri. Dari melihat rekan hancur lebur, merawat korban di bawah gempuran api, hingga momen paling mengerikan, memisahkan jenazah ibu dari dua anaknya yang terbakar parah. Gambar-gambar itu menetap, membayangi hingga pensiun tiba. Namun, bukannya damai, justru setelah lepas dinas gejalanya makin menjadi. Terlambat datang, tapi sangat menyesakkan.

Ironisnya, saat ia sudah menapaki jenjang karier baru sebagai perawat praktisi di unit perawatan intensif, tekanan kerja justru memicu PTSD yang tertunda. Kehidupan sehari-hari berubah jadi medan perang pribadi. Sifatnya jadi mudah marah, semangat anjlok, dan rasa malu yang memuncak menguasai diri. Bahkan urusan makan pun jadi rumit; ia tak sanggup lagi menguliti ayam karena teringat adegan mengerikan itu. Kilas balik dan mimpi buruk, terutama tentang anak-anak yang terbakar, jadi langganan. Ditambah depresi ringan, kecemasan akut, gangguan tidur, dan hiperarousal yang tak kunjung reda. Puncaknya, terpaksa tinggalkan pekerjaan, didorong suami untuk cari bantuan.

Usaha talk therapy dan obat-obatan SSRI terbukti hanya menahan badai, bukan menghentikannya. Di usia 60, Sarah didiagnosis mengidap PTSD resisten terapi. Di sinilah HBOT masuk ke arena. Berdasarkan laporan kasus yang dipublikasikan pada 2024 oleh tim medis Israel di Annals of Case Reports, sesi terapi HBOT secara ajaib menghentikan mimpi buruk Sarah, bahkan membuatnya mampu mengingat kembali momen-momen bahagia di masa lalu. Perasaan damai perlahan tumbuh. Tiga bulan pasca terapi, evaluasi menunjukkan penurunan drastis pada kecemasan dan rasa menyalahkan diri. Skor pada skala PTSD, CAPS-5, anjlok dari 34 menjadi 10, menandakan berkurangnya intrusi, penghindaran, dan hiperarousal.

Lebih dari sekadar meredakan gejala, analisis lebih lanjut mengungkap peningkatan fleksibilitas kognitif Sarah, memungkinkannya beradaptasi lebih baik terhadap perubahan dan menekan respons otomatis yang tidak diinginkan. Pemindaian otak sebelum dan sesudah terapi menunjukkan perubahan signifikan: aktivitas meningkat di area frontal, parietal, dan temporal. Perubahan ini berkorelasi dengan perbaikan memori kerja, koordinasi, perhatian, dan pemahaman bahasa. Seolah-olah otak yang tadinya kusut akibat trauma, kini tersusun kembali dengan lebih rapi.

Kala Otak ‘Koprol’ Akibat Trauma

Tidak sendirian, Sarah hanyalah satu dari sekian banyak personel militer yang berjuang melawan PTSD. Data menyebutkan, hingga 30% veteran tempur di seluruh dunia mengalami kondisi ini, seperti dilaporkan JAMA Psychiatry pada 2015. Standar penanganan PTSD sejauh ini masih berkutat pada terapi psikologis, seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT), dan obat-obatan. Namun, kenyataan pahitnya, sekitar sepertiga penderita tidak merespons pengobatan konvensional, dan separuhnya lagi resisten terhadap CBT, menurut laporan Advances in Psychiatric Treatment tahun 2013. Angkatan Pertahanan Israel sendiri mencatat hanya 39% pasien yang menunjukkan perbaikan klinis signifikan dengan metode standar.

Situasi genting ini mendorong para peneliti untuk melihat lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi di dalam otak para penyintas trauma. Dr. Keren Doenyas-Barak, kepala Unit Gangguan Stres Pascatrauma di Shamir Medical Center, menegaskan bahwa trauma meninggalkan jejak fisik di otak, terutama pada sirkuit frontolimbik, yang bisa memicu perubahan struktural dan fungsional jangka panjang. Penurunan aktivitas bahkan volume hipokampus juga dikaitkan dengan respons buruk terhadap terapi yang ada. Jika PTSD berakar pada kerusakan fisik otak, maka perbaikan kerusakan itu menjadi kunci penyembuhan yang lebih efektif.

HBOT, yang notabene bukan teknologi baru—sudah ada sekitar 100 tahun—awalnya digunakan untuk mengatasi masalah penyelam seperti penyakit dekompresi dan emboli udara. Namun, kini potensinya dalam regenerative medicine semakin terkuak. Dr. Doenyas-Barak membandingkan ruang terapi HBOT layaknya bejana bertekanan tinggi di mana pasien berbaring, menghirup oksigen murni dalam konsentrasi tinggi. Profesor Shai Efrati, penggagas protokol HBOT untuk regenerasi di Shamir Medical Center, menjelaskan bahwa tekanan dapat ditingkatkan hingga dua kali lipat dari tekanan atmosfer normal, sehingga meningkatkan kadar oksigen terlarut dalam darah secara drastis.

Prinsip dasarnya sederhana: semakin tinggi tekanan, semakin banyak oksigen larut dalam cairan. Ketika pasien menghirup konsentrasi oksigen tinggi di bawah tekanan, jumlah oksigen yang larut dalam plasma darah meningkat pesat. Oksigen ini mampu menjangkau area yang mungkin kekurangan pasokan, mempercepat penyembuhan, melawan infeksi, dan membantu perbaikan jaringan yang rusak. Fluktuasi kadar oksigen selama terapi—naik drastis lalu kembali normal secara berulang—menciptakan kondisi yang disebut relative hypoxia, yang terbukti memicu respons regeneratif.

Oksigen Bertekanan: Sinyal Perbaikan untuk Otak Trauma

Protokol khusus yang dikembangkan kini tidak hanya untuk veteran PTSD yang dirujuk Kementerian Pertahanan Israel, tetapi juga untuk warga sipil yang terdampak tragedi 7 Oktober, berkat dukungan donatur filantropis. Di klinik Dr. Doenyas-Barak, pasien menjalani 60 sesi selama 60 hari. Setiap sesi melibatkan 20 menit menghirup oksigen 100% melalui masker, lalu dilepas, diulang empat kali. Tujuannya? Menciptakan fluktuasi oksigen seluler yang memicu mekanisme perbaikan. Mekanisme ini awalnya terbukti efektif untuk luka diabetes yang sulit sembuh, dan kini diadaptasi untuk cedera otak.

“Kita tahu sekarang bahwa PTSD terkait dengan perubahan aktivitas otak, bahkan struktur otak, yang bersifat jangka panjang atau kronis,” ujar Dr. Doenyas-Barak. “Dengan terapi hiperbarik, kita bisa mengaktifkan kembali area otak yang bermasalah dan berkontribusi pada pemulihannya.” Riset timnya sejak 2017, jauh sebelum peristiwa 7 Oktober, pada 35 veteran PTSD yang tidak merespons terapi konvensional, menunjukkan “perbaikan signifikan gejala dan aktivasi area otak yang malfunctioning”.

Penelitian lanjutan, termasuk uji coba terkontrol plasebo yang rampung jelang 7 Oktober, diterbitkan dalam Journal of Clinical Psychiatry (November 2024). Hasilnya mengindikasikan protokol HBOT Israel “dapat menginduksi neuroplastisitas dan memperbaiki gejala klinis pasien PTSD”. Studi ini melibatkan 56 veteran pria dengan skor CAPS-5 di atas 20 (skala penilaian PTSD). Kelompok HBOT menunjukkan penurunan skor CAPS-5 drastis dari 42.57 menjadi 25.8 pasca-terapi, bahkan turun lagi ke 25.08 saat tindak lanjut. Sebaliknya, kelompok plasebo justru mengalami kenaikan skor.

Data pencitraan otak juga mengonfirmasi peningkatan konektivitas antar jaringan utama otak pada kelompok HBOT, sebuah perubahan yang tidak terlihat pada kelompok kontrol. Ketika perang 7 Oktober pecah, tim Shamir dengan sigap memperluas cakupan terapi dari veteran menjadi ratusan warga sipil terdampak, termasuk penyintas dari komunitas perbatasan Gaza dan festival Nova. Klinik yang semula menangani 50 pasien kini melayani 200 pasien setiap 60 hari, menargetkan 800 orang per tahun, dengan rencana ekspansi lebih lanjut.

Protokol ini kini telah divalidasi oleh Kementerian Kesehatan dan Pertahanan Israel, memungkinkan pusat mereka melayani berbagai kelompok pasien di seluruh Israel. Ambisi berikutnya: membawa model ini ke panggung global. Dr. Doenyas-Barak menekankan, kunci sukses bukan hanya pada protokol terapi, tetapi juga pada dukungan komprehensif yang menyertainya. Sistem ini mencakup psikoterapi, pekerja sosial, yoga fokus trauma, dan fisioterapis yang mengintegrasikan pendekatan gerakan dan olahraga. Sekitar 50 staf menjadi tulang punggung program di Shamir.

Ke depan, Dr. Doenyas-Barak memimpin studi yang lebih luas untuk mengidentifikasi biomarker biologis PTSD. Tujuannya adalah beralih dari diagnosis subjektif ke indikator terukur menggunakan MRI dan teknologi lain. “Saat ini, kita mendiagnosis PTSD berdasarkan laporan pasien dan kesan kita. Sangat subjektif,” jelasnya. “Jika kita bisa mengidentifikasi biomarker baru, diagnosis objektif akan memungkinkan.” Perbedaan jelas sudah terlihat pada pemindaian otak dan aktivitas sistem saraf otonom antara individu dengan dan tanpa PTSD. Dengan analisis canggih, dokter kelak dapat menggunakan ukuran objektif untuk diagnosis PTSD, meski individu belum sepenuhnya tercapai, optimisme tetap ada.

Previous Post

Justin Bieber di Coachella: Nostalgia ‘Baby’ atau Performa ‘Swag’?

Next Post

Moto, Kart, dan Reli: Balapan 2026 Makin Seru!

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *