Lupakan sejenak gemerlap panggung Korea dan Jepang yang sudah mendominasi layar gawai selama satu dekade terakhir. Saat grup seperti BTS dan EXO sukses mendunia lewat koreografi presisi tinggi dan kampanye pemasaran yang membangun kedekatan semu layaknya gebetan virtual, Tiongkok, negara tetangga dengan populasi delapan kali lipat gabungan keduanya, justru tertinggal dalam urusan melahirkan bintang idola sekaliber mereka. Alih-alih bersaing di kancah global, industri idola Tiongkok justru menghadapi badai regulasi pemerintah yang memangkas habis mimpi para calon bintang layar kaca.
Hingga 2021, acara-acara mirip X Factor versi Tiongkok dengan koreografi jauh lebih maut laris manis. Namun, euforia itu segera padam ketika pemerintah Tiongkok menggelar operasi sapu jagat terhadap ‘fandom toksik’. Melarang acara pengembangan idola menjadi dalih elegan untuk merapikan internet, seperti yang diungkapkan Emily Liu dari buletin Active Faults. Ditambah lagi, ketegangan geopolitik selama dekade terakhir secara tak resmi memblokir idola K-pop tampil di daratan Tiongkok. Nasib tragis pun menimpa IXFORM dan Into1; grup-grup ini terpaksa bubar setelah acara mereka dibatalkan, kehilangan panggung dan eksposur yang krusial untuk menjustifikasi biaya pelatihan idola yang selangit. Ibaratnya, aliran sungai yang menuju industri hilir dibendung, memutus peluang para idola untuk meniti karier. Tak heran, banyak talenta yang banting setir ke dunia akting atau meramaikan industri livestream, di mana penonton bisa membayar permintaan khusus kepada penari.
Api Pemberontakan di Balik Kamera
Namun, di tengah reruntuhan industri idola konvensional, sebuah gerakan bawah tanah mulai menggeliat di Tiongkok, menantang definisi idola yang kaku dan terkesan diproduksi massal. Kelompok-kelompok “alt-idol” bermunculan, dibentuk secara independen oleh para penggemar dan penampil paruh waktu. Mereka menolak cetak biru pop korporat yang menuntut kesempurnaan tanpa celah. “Orang-orang sudah lelah dengan Blackpink dan BTS,” ujar Liu. “Mereka haus akan sesuatu yang baru, terutama di Tiongkok.”
Zhao Beichen, pendiri dan produser Transparent Classroom dan Parallel Girls, menyamakannya dengan kemunculan alt-rock di AS pada era 80-an. Berbeda dengan konsep “underground idol” di Jepang yang sejatinya masih berlatih untuk industri mainstream, Zhao menyebut grupnya “alternatif” karena mengedepankan ketulusan dan kebebasan artistik. Ini adalah antitesis dari standar ketat idola mainstream: kriteria tak tertulis soal berat badan, warna kulit, hingga kesempurnaan teknis dalam koreografi. “Saat memilih anggota grup, saya mencari orang-orang yang tidak sesuai dengan definisi idola industri,” tegasnya.
Wajah Baru di Panggung Alternatif
Silver, salah satu anggota Transparent Classroom, berbagi pengalaman. “Waktu kecil, tidak ada sosok seperti saya di televisi Tiongkok.” Ia dan beberapa rekannya di grup tersebut memiliki potongan rambut pendek, sebuah anomali di dunia idola yang kerap identik dengan rambut panjang berkilau. Silver tumbuh besar mendengarkan K-pop dan band sekelas Radiohead. Ia pernah mencoba audisi untuk beberapa grup idola mainstream, namun nyaris menyerah sebelum bertemu Zhao di pasar loak, tempat Silver menjual gitar-gitar kesayangannya.
Konsep Transparent Classroom terlahir saat Zhao tinggal di Jepang. Terpesona oleh “daya sentuh hati” grup-grup underground di sana, ia mendalami riset pascasarjana tentang fenomena tersebut dan sempat bekerja untuk seorang produser idola. Pada 2019, ia kembali ke Tiongkok untuk meluncurkan proyeknya sendiri, tepat di saat industri musik pop Tiongkok berada di titik krusial. Jauh dari gemerlap konser stadium, grup seperti 7Sins dan Transparent Classroom mengusung gaya gothic dan nuansa penjelajah luar angkasa. 7Sins cenderung menyajikan rock berenergi tinggi, sementara Transparent Classroom menawarkan palet musik eklektik yang memadukan jangle-pop, punk, house, post-rock, jazz, dan berbagai genre lainnya. Eksperimentasi inilah yang menjadi daya tarik utama bagi penggemar seperti Ma, seorang fans Transparent Classroom dari Beijing. “Rasanya berbeda dari apa yang saya atau kebanyakan orang bayangkan tentang idola mainstream yang hanya memakai baju cantik dan menyanyikan lagu manis,” ujarnya.
Perjuangan dari Akar Rumput
Perlu dipahami, gerakan alt-idol ini sejatinya masih berjuang di medan yang jauh dari kata stabil secara komersial. Menjadikan aktivitas ini sebagai pekerjaan penuh waktu adalah kemewahan yang jarang terjangkau. Silver, misalnya, juga berprofesi sebagai guru Bahasa Inggris, sementara Kumiko dari 7Sins masih menyelesaikan studi pascasarjananya. Ketiadaan struktur komersial yang kokoh membuat kancah ini lebih rapuh. “Perubahan anggota sangat berdampak pada citra kami, karena tidak seperti grup bentukan perusahaan, kami dibangun atas ikatan erat antaranggota,” jelas Kumiko. Belum lama ini, 7Sins mengumumkan akan bubar pada Juni mendatang, sebagian karena kekhawatiran akan keberlanjutan formasi mereka dalam jangka panjang.
Situasi industri musik Tiongkok pun perlahan berubah. Tahun lalu, Hybe, perusahaan induk BTS, membuka kantor di Beijing, mengisyaratkan potensi pelonggaran pembekuan budaya pop Korea di Tiongkok. Zhao sendiri optimistis bahwa sektor idola cukup luas untuk menampung berbagai skena niche. Namun, ia tidak yakin bagaimana perubahan ini akan memengaruhi grup alt-idol. “Tidak bisa dipastikan apakah tren industri ke depan akan menekan subkultur ini, atau justru tumbuh bersamaan,” ungkapnya.
Kumiko telah mengembangkan proyek solo alt-rock dengan nama Kum1k0. Saat ditanya apa “pekerjaan utamanya”, Silver mengoreksi, “Karier saya adalah musik. Meski saya menghabiskan sebagian besar waktu untuk mencari uang sebagai guru, pikiran saya selalu tertuju pada musik.” Kata-kata Silver membongkar realitas di balik dunia alt-idol. Tanpa jaminan imbalan finansial di masa depan, kancah ini bertahan berkat gairah para anggotanya, yang terjun di dalamnya bukan untuk keuntungan semata, melainkan untuk kebahagiaan tampil. “Sekalipun tidak ada yang menonton, saya akan menari seharian,” tutur Silver. “Bisa tampil di depan penonton yang menyaksikan nyanyian dan tarian kami – itu sebuah privilese.” Keberadaan grup alt-idol Tiongkok adalah bukti nyata ketidakmungkinan membungkam sebuah budaya yang berbicara langsung kepada para pelakunya. Anda boleh saja membendung sungai, namun air akan selalu menemukan jalannya.


