Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Indiana Jones Desktop Adventures: Game Jelek yang Mengajariku Nikmati Proses

Kalian mungkin pernah menyaksikan riuh rendah di jagat maya perihal film animasi terbaru dari waralaba Super Mario Galaxy. Satu kubu bersikeras bahwa anak-anak patut disuguhi tayangan berkualitas tinggi, sementara kubu lain berdalih bahwa paparan terhadap tontonan ‘apa adanya’ justru penting agar mereka bisa mengecap ragam pengalaman dan mengasah selera. Entah kalian ikut dalam pusaran debat itu atau justru menikmati filmnya dalam damai, fenomena ini menggelitik untuk merenungkan sebuah karya lawas dari masa kanak-kanak yang, meski penuh kekurangan, masih membekas hingga tiga dekade kemudian: Indiana Jones and His Desktop Adventures.

Sebuah Warisan Penuh Teka-Teki di Era Desktop

Ini adalah sebuah gim aksi-petualangan dalam pengertian orisinalnya: padat teka-teki sebagai elemen petualangan, dibalut aksi tembak-menembak dan adegan berbahaya. Sang Indy yang tampak ringkih digiring ke peta acak dengan narasi yang dipilih secara acak pula dari sekumpulan skenario yang terbatas. Semua cerita berkisar pada pencarian sebuah artefak atau objek penting, sembari menggagalkan rencana Sang Penjahat Jahat yang berniat merebutnya lebih dulu. Tak ketinggalan, kehadiran kaum Nazi dan penggambaran stereotipikal masyarakat adat—semua elemen klise yang melekat pada identitas Indiana Jones.

Indiana Jones on a hill in Desktop Adventures Image: Lucasfilm Games LLC

Di luar narasi, permainannya sendiri sungguh minimalis. Inti dari Indiana Jones and His Desktop Adventures adalah pergerakan bolak-balik sang protagonis melintasi lanskap Amerika Tengah yang minim penghuni. Misi utama adalah mengumpulkan objek untuk menyelesaikan teka-teki, yang kemudian dihadiahkan objek lain untuk ditukarkan—kembali lagi ke teka-teki. Ada sedikit reruntuhan kuno yang menyimpan ‘Rahasia Besar’ (baca: lebih banyak objek untuk teka-teki), kerangka hidup yang bisa bicara, macan tutul yang sepuluh kali lipat lebih mematikan dan agresif daripada Nazi, serta tequila—sebuah substansi yang kala itu belum dikenal, namun terdengar sangat Indiana Jones dan keren. Tantangan yang dihadapi pun terbilang kasar, sebatas mendorong batu dalam urutan yang tepat.

Sistem ‘Run Away’ Sebagai Strategi Utama

Musuh dalam gim ini bergerak tiga kali lebih cepat dari pemain dan mampu menyerang dari sudut diagonal, sebuah manuver yang sulit ditandingi oleh pemain sendiri, sehingga pertempuran selalu timpang sebelah. Menjalankan diri adalah opsi yang jauh lebih bijak daripada melawan—sebuah konsep yang diadopsi dengan jauh lebih baik oleh MachineGames dalam pengembangan The Great Circle. Setelah berhasil menyelesaikan satu skenario, pemain dapat memulai gim baru dan mengulang mekanisme yang sama, hanya dengan peta yang sedikit berbeda dan lokasi yang diacak.

Indiana Jones in a forest in Desktop Adventures Image: Lucasfilm Games LLC

Secara objektif, gim ini terdengar mengerikan, dan memang demikian adanya. Namun, kanak-kanak berusia enam tahun yang belum memiliki standar kritis yang terbentuk justru terpikat sepenuhnya. Model karakter yang ‘kurang sedap dipandang’ tidak menjadi masalah. Gim favorit kala itu adalah seri Pokémon awal dan gim ski aneh yang menakutkan yang bisa dijalankan oleh komputer mana pun. Bagi seorang anak, gim adalah tentang melakukan aksi, bukan sekadar apresiasi visual, dan waktu bermain yang terbatas membatasi ruang gerak untuk eksplorasi. Aturan ketat orang tua mengenai ‘batas waktu bermain gim 30 menit beberapa kali sehari’ membuat proses penyelesaian satu skenario memakan waktu berhari-hari, apalagi untuk menyadari betapa repetitifnya gim ini.

Perbandingan dengan ‘Saudara Kembar’ yang Lebih Berkilah

Penulis menyadari bahwa gim ini tidak semenarik atau sefleksibel Yoda Stories, yang pada dasarnya memiliki konsep serupa namun dengan variasi skenario yang lebih dinamis. Dalam Yoda Stories, kemunculan Darth Vader bisa saja terjadi, pemain bisa mendarat di Hoth alih-alih Endor, atau warna lightsaber berubah menjadi hijau seiring kematangan pengalaman Jedi (diukur dari jumlah skenario yang diselesaikan). Indiana Jones and His Desktop Adventures tidak menawarkan variasi semacam itu. Namun, latar yang terasa lebih ‘nyata’ (dalam benak seorang anak) dan nuansa historis yang samar memberikannya aura misteri yang tidak dimiliki Yoda Stories.

Dampak Jangka Panjang dari Kualitas ‘Membingungkan’

Indiana Jones and His Desktop Adventures jelas bukan gim yang bagus. Namun, ia berhasil menanamkan kecintaan pada teka-teki dan proses pemecahan masalah, serta menemukan kebahagiaan dalam usaha itu sendiri, meskipun waktu bermain terbatas. Tiga dekade berlalu, kecintaan pada gim petualangan tetap bertahan karena alasan yang sama, sekalipun selera visual dan mekanika permainan telah berkembang pesat—sebuah perkembangan yang patut disyukuri. Mungkin, terpapar pada sebuah karya medioker di masa kecil justru memberikan fondasi yang tak terduga untuk apresiasi terhadap kualitas yang lebih baik di kemudian hari.

Previous Post

BAFTA Tarik Trailer Game ‘The Quiet Things’: Seni Trauma vs. Sensitivitas Penonton

Next Post

Sayur dan Buah Sehat: Bisa Jadi Ancaman Lung Cancer Mengerikan?

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *