Bisa jadi, makan sayur dan buah yang sehat justru jadi biang keladi penyakit mematikan. Mungkin ini alasan kenapa lung cancer makin marak menyerang anak muda yang jelas-jelas nggak pernah nyentuh rokok. Lupakan dulu klaim ‘makan sehat bikin awet muda’, ada skenario baru yang bikin geleng-geleng kepala, berkat studi kecil yang mencoba membongkar misteri di balik fenomena ini.
Sebuah studi, meski belum tembus jurnal ilmiah bergengsi, mengemukakan temuan yang cukup mencengangkan. Pesertanya adalah 187 pasien di bawah usia 50 tahun yang divonis menderita lung cancer. Mayoritas dari mereka adalah non-perokok. Yang bikin tambah bikin kening berkerut, para responden ini justru punya pola makan yang tergolong ‘sehat’, lebih banyak mengonsumsi buah, sayur, dan biji-bijian utuh dibandingkan populasi umum Amerika Serikat. Indeks Kesehatan Makan (Healthy Eating Index/HEI) mereka rata-rata 65 dari 100, jauh di atas rata-rata nasional 57. Bahkan, partisipan perempuan cenderung memiliki skor HEI lebih tinggi lagi.
Para peneliti menggali lebih dalam, membandingkan pola makan partisipan dengan data kesehatan umum. Hasilnya, mereka yang terkena lung cancer di usia muda justru mengonsumsi lebih banyak buah, sayur, dan whole grains. Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa mungkin ada faktor risiko lingkungan yang tersembunyi di balik konsumsi makanan ‘baik’ ini. Jorge Nieva, MD, seorang onkolog dan spesialis lung cancer yang memimpin studi ini, menyatakan bahwa temuan yang berlawanan dengan intuisi ini memunculkan pertanyaan krusial mengenai faktor risiko lingkungan yang belum teridentifikasi, terkait dengan makanan yang seharusnya bermanfaat. Potensi adanya residu pestisida pada produk pertanian non-organik menjadi salah satu hipotesis yang diperkuat oleh penelitian sebelumnya mengenai pekerja pertanian yang terpapar pestisida dan memiliki risiko lung cancer lebih tinggi.
Siapa Sangka, Sayuran Bisa Jadi Senjata Makan Tuan?
Tren lung cancer yang menurun sejak 1980-an di Amerika Serikat, seiring dengan meredupnya kebiasaan merokok, memang patut disyukuri. Namun, ironisnya, tren ini tidak berlaku pada kelompok non-perokok usia 50 tahun ke bawah, terutama perempuan. Mereka kini justru lebih rentan terserang penyakit ini dibandingkan laki-laki. Jimmy Johannes, MD, seorang pulmonolog dan spesialis kedokteran kritis, mengakui bahwa situasi ini sangat mengkhawatirkan dan mendesak adanya riset lebih lanjut untuk memahami akar masalahnya.
Studi ini mencoba menjajaki kemungkinan adanya kaitan antara paparan pestisida dengan peningkatan kasus lung cancer pada kelompok usia muda. Produk pertanian komersial, terutama buah, sayuran, dan biji-bijian non-organik, kerap memiliki kadar pestisida yang lebih tinggi dibandingkan makanan olahan, daging, atau produk susu. Hipotesis ini diperkuat oleh riset yang menunjukkan peningkatan risiko lung cancer pada pekerja pertanian yang terpapar pestisida secara intensif.
Para peneliti mengukur diet partisipan menggunakan Healthy Eating Index (HEI). Nilai HEI yang lebih tinggi pada kelompok lung cancer muda menunjukkan asupan makanan yang lebih tinggi dalam kategori buah, sayuran, dan biji-bijian utuh. Temuan ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah ada sesuatu dalam rantai pasokan makanan sehat yang justru berisiko bagi kesehatan? Hipotesis mengenai residu pestisida yang mungkin tertinggal pada produk-produk tersebut menjadi fokus investigasi.
Selanjutnya, para peneliti berencana untuk mengukur kadar pestisida dalam sampel darah dan urin pasien lung cancer. Langkah ini krusial untuk memverifikasi dugaan asosiasi antara paparan pestisida dan penyakit ini pada populasi muda, khususnya perempuan. Harapannya, temuan ini dapat memandu rekomendasi kesehatan publik dan riset di masa depan mengenai pencegahan lung cancer.
Waspada, Tapi Jangan Lantas Musuhi Brokoli!
Meskipun studi ini memunculkan teori yang menarik, para ahli kesehatan tetap mengingatkan agar tidak gegabah mengurangi konsumsi buah dan sayuran. Melissa Mroz-Planells, seorang ahli gizi terdaftar, menekankan bahwa studi ini masih berskala kecil dan belum membuktikan adanya hubungan sebab-akibat yang definitif. Ia menegaskan bahwa selama puluhan tahun, bukti ilmiah konsisten menunjukkan bahwa diet kaya buah dan sayuran justru menurunkan risiko kanker. Menghentikan konsumsi makanan nabati hanya berdasarkan satu studi ini adalah langkah yang tidak bijaksana.
Dana Hunnes, PhD, seorang ahli gizi senior di UCLA Health, menyuarakan keprihatinan mengenai penggunaan pestisida yang meluas. Ia menyebut pestisida sebagai racun yang dirancang untuk membunuh hama, namun kini telah mencemari sebagian besar pasokan makanan. Hunnes berpendapat bahwa regulasi yang lebih ketat atau bahkan eliminasi pestisida dari produksi pertanian sangat diperlukan untuk pendekatan kesehatan publik yang komprehensif. Namun, hal ini memerlukan kemauan politik dan perubahan fundamental dalam sistem pangan global, mulai dari praktik bertani hingga kebiasaan mengonsumsi makanan.
George Chaux, MD, seorang pulmonolog intervensi, menambahkan bahwa peningkatan tren lung cancer di kalangan non-perokok muda bisa jadi disebabkan oleh kombinasi faktor, termasuk predisposisi genetik dan paparan lingkungan tertentu, dengan etnisitas tertentu seperti keturunan Asia yang memiliki risiko lebih tinggi. Ia sepakat bahwa pestisida adalah karsinogen potensial, dan paparan intensif seperti pada pekerja pertanian memang meningkatkan risiko lung cancer. Oleh karena itu, mencuci buah dan sayuran sebelum dikonsumsi sangatlah penting.
Namun, Chaux juga menekankan bahwa data studi ini belum cukup kuat untuk merekomendasikan penghindaran diet sehat berbahan dasar buah dan sayuran. Ia menyarankan agar masyarakat tetap mengonsumsi makanan sehat ini, yang telah terbukti secara konsisten meningkatkan kesehatan secara keseluruhan, termasuk menurunkan risiko penyakit lain seperti kanker usus besar dan penyakit jantung. Mengenai makanan organik, ia berpendapat bahwa fokus utama seharusnya pada kebersihan, yaitu mencuci produk secara menyeluruh sebelum dikonsumsi, daripada terpaku pada pilihan organik yang cenderung lebih mahal.
Amy Bragagnini, seorang ahli gizi onkologi klinis, sependapat bahwa mencuci semua jenis produk segar, baik organik maupun konvensional, adalah praktik yang baik. Proses mencuci dengan air dingin dan gosokan ringan dapat mengurangi residu bakteri, kotoran, bahan kimia, dan pestisida. Ia juga mendorong pasien untuk mendatangi pasar petani lokal atau bahkan mencoba menanam sendiri produk mereka, menekankan kepuasan tersendiri dari menikmati bahan makanan yang segar langsung dari kebun sendiri.
Intinya, meski studi ini menyoroti potensi risiko dari konsumsi makanan sehat yang mungkin terpapar pestisida, para ahli sepakat bahwa manfaat jangka panjang dari diet kaya buah dan sayuran jauh lebih besar daripada potensi risiko yang belum terkonfirmasi secara definitif. Kuncinya adalah kesadaran dan kehati-hatian dalam memilih dan mengolah bahan makanan. Jadi, silakan nikmati salad segar Anda, tapi jangan lupa bilas dulu sampai bersih!

