Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Industri Game 2025: Akuisisi EA, Penundaan GTA 6, dan Strategi Konsol yang Berubah

Industri game itu kayak roller coaster – kadang bikin nagih, kadang bikin mules. Tahun 2025 ini, lebih tepatnya bikin dompet menjerit histeris. Konsolidasi raksasa, penundaan game, dan strategi konsol yang berubah-ubah. Bikin kita bertanya-tanya, ini industri game mau dibawa ke mana, gimana?

Geger di Wall Street: EA Dibeli Kerajaan Saudi?

Bayangkan Electronic Arts (EA), rumah bagi FIFA (sekarang EA Sports FC), Battlefield, dan Apex Legends, tiba-tiba jadi milik konsorsium yang dipimpin Public Investment Fund (PIF) dari Arab Saudi. Nilai akuisisinya? Fantastis, 55 miliar dolar AS! Ini bukan lagi level sultan, tapi udah level raja minyak main game. Pertanyaannya, EA mau dijadiin alat promosi negara atau mesin penghasil uang? Kita tunggu saja episode selanjutnya.

Analis dari Omdia punya tebakan sendiri. Apakah PIF akan menjalankan EA sebagai “proyek PR” atau “untuk menghasilkan keuntungan maksimum” dari perusahaan. Kalau jadi proyek PR, mungkin kita bakal lihat game dengan konten yang lebih Islami atau promosi pariwisata Saudi di dalam game. Kalau buat cari untung, siap-siap aja ada lebih banyak microtransaction dan konten berbayar lainnya.

Sementara itu, di Prancis sana, Ubisoft berusaha bangkit dari keterpurukan. Sayangnya, mereka malah memulai tahun 2025 dengan menunda lagi perilisan Assassin’s Creed Shadows. Padahal, ini salah satu judul andalan mereka. Mungkin para developer-nya lagi sibuk main game lain, jadi lupa ngerjain game sendiri?

Ubisoft Gandeng Tencent: Strategi Jitu atau Jual Diri?

Ada kabar baiknya juga buat Ubisoft. Saham mereka sempat naik setelah mengumumkan kerjasama dengan raksasa teknologi Tiongkok, Tencent. Mereka membentuk anak perusahaan baru bernama Vantage Studios yang akan fokus pada IP (Intellectual Property) utama Ubisoft seperti Far Cry, Assassin’s Creed, dan Tom Clancy’s Rainbow Six.

Kolaborasi ini bisa jadi angin segar buat Ubisoft. Tencent punya sumber daya yang besar dan pengalaman di pasar Asia. Tapi, ada juga yang khawatir kalau Ubisoft cuma jadi “boneka” Tencent. Kita lihat saja nanti, apakah Vantage Studios bakal menghasilkan game berkualitas atau cuma jadi mesin pencetak uang buat Tencent.

Namun, terlepas dari upaya Ubisoft, saham mereka terus merosot. Udah hilang lebih dari separuh nilai mereka sejak awal tahun, dan turun lebih dari 90% dari puncak di tahun 2021. Kayaknya, butuh keajaiban atau cheat code dewa buat Ubisoft buat balikin kejayaan mereka.

GTA 6: Ditunggu Bakal Jodoh, Eh Malah Diundur

Di sisi lain, Take-Two Interactive, perusahaan di balik Grand Theft Auto (GTA), justru menikmati kenaikan saham sepanjang tahun 2025. Antusiasme terhadap GTA 6 sangat tinggi, maklum aja, udah 12 tahun sejak GTA 5 dirilis. Fans udah nungguin kayak nungguin jodoh, eh malah diundur.

Awalnya, GTA 6 dijadwalkan rilis pada 26 Mei 2026. Tapi, karena satu dan lain hal, tanggal rilisnya diundur lagi jadi 19 November 2026. CEO Take-Two, Strauss Zelnick, sih bilang dia “sangat, sangat yakin” tanggal rilis awal bisa dicapai. Tapi, namanya juga CEO, ya kan? Biasanya omongannya manis di depan, pait di belakang.

Penundaan ini langsung bikin saham Take-Two terjun bebas. Padahal, ekspektasi terhadap GTA 6 udah setinggi langit. Tapi, ya namanya juga industri game, penuh dengan drama dan kejutan yang bikin jantung deg-degan.

Konsol Mulai Gak Eksklusif: Era Open Source Gaming?

GTA 6 ini rencananya bakal dirilis di masa senja PlayStation 5 dan Xbox Series X/S. Artinya, kedua konsol ini udah berumur enam tahun saat GTA 6 rilis. Fokus pun mulai bergeser ke generasi konsol berikutnya. Nah, di generasi ini, kita lihat perubahan strategi yang cukup signifikan dari Sony dan Microsoft.

Xbox mulai meninggalkan game eksklusif. Beberapa judul andalan mereka seperti Indiana Jones dan Forza Horizon, juga dirilis di PS5. Sementara itu, PlayStation juga mulai bereksperimen dengan merilis game mereka di PC. Jadi, mulai banyak judul yang bisa dimainkan di berbagai platform. Ini semacam “open source” di dunia game?

Strauss Zelnick dari Take-Two berpendapat kalau pergeseran strategi ini bakal bikin industri game jadi lebih terbuka. Dia bahkan bilang kalau konsol bakal tetap eksis dalam lima sampai 10 tahun ke depan, tapi bakal lebih mirip PC. “Bisnis ini bergerak menuju terbuka, bukan tertutup,” katanya.

Konsol Masih Relevan? “Tempat Nongkrong” Para Gamer Premium

George Jijiashvili, analis senior dari Omdia, punya pendapat lain. Dia bilang kalau konsol masih punya peran penting di pasar game. Menurutnya, konsol masih jadi “tempat nongkrong” para gamer premium yang cari pengalaman bermain game yang lebih maksimal.

Data dari Omdia juga menunjukkan kalau konsol adalah kategori terbesar kedua dalam hal pengeluaran konsumen. 60% pengeluaran konsumen dihabiskan untuk game mobile, 23% untuk konsol, dan 16% untuk PC. Jadi, meski game mobile merajalela, konsol masih punya tempat di hati para gamer.

Nintendo: Satu-satunya yang Kekeh dengan Eksklusivitas

Di tengah perubahan strategi yang dilakukan Sony dan Microsoft, Nintendo justru tetap kekeh dengan strategi eksklusivitas. Mereka merilis beberapa judul eksklusif untuk konsol Switch 2 mereka, termasuk open-world Mario Kart dan game Donkey Kong baru.

Hasilnya? Switch 2 langsung jadi konsol dengan penjualan tercepat dalam sejarah. Mereka berhasil menjual 10,36 juta unit dalam empat bulan pertama. Ini bukti kalau strategi eksklusivitas masih bisa berhasil, asalkan game-nya berkualitas dan bikin penasaran.

Tapi, gak semua orang yakin dengan strategi Nintendo. Christopher Dring dari The Game Business bilang kalau Nintendo punya tantangan dalam mempertahankan permintaan terhadap konsol mereka. “Tidak seperti PlayStation dan Xbox, orang beli Nintendo karena game Nintendo. Kalau mereka gak punya game baru, mereka gak bisa mengandalkan developer lain,” ujarnya.

Intinya? Industri game itu dinamis banget. Perubahan strategi, akuisisi raksasa, dan penundaan game jadi bumbu yang bikin industri ini makin seru (sekaligus bikin dompet makin tipis). Kita sebagai konsumen cuma bisa berharap semoga semua perubahan ini membawa dampak positif dan bikin game yang kita mainkan makin berkualitas. Atau jangan-jangan, kita semua cuma jadi pion dalam permainan para korporat raksasa? Siapa tahu…

Previous Post

Artileri Canggih untuk Pertahanan NATO: Inggris & Jerman Perkuat Kerja Sama Militer

Next Post

Steely Dan Tidak Setuju: Kisah di Balik Lagu Talking Heads yang Ikonik

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *