Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Maximilian Dood Dikonfrontasi Soal Marvel vs. Capcom: Infinite, Begini Ceritanya!

Marvel vs. Capcom: Infinite, sebuah game yang dulu sempat bikin heboh jagat fighting game, kini jadi bahan nostalgia yang… gimana ya, getir-getir lucu gitu deh. Bayangin aja, udah delapan tahun berlalu sejak game ini dirilis, tapi dampaknya masih terasa kayak utang mantan yang belum lunas. Nah, baru-baru ini, Maximilian Dood, seorang tokoh penting di komunitas fighting game, cerita-cerita masa lalu soal game ini. Kisahnya? Dijamin bikin kamu garuk-garuk kepala sambil ketawa miris.

X-Men dan Hak Cipta yang Bikin Pusing

Jadi, ceritanya begini. Maximilian Dood pernah berusaha mati-matian buat menekankan betapa pentingnya karakter X-Men dalam Marvel vs. Capcom. Masalahnya, waktu itu Disney belum punya hak film atas X-Men. Alhasil, karakter-karakter mutan ini jadi anak tiri di proyek Marvel vs. Capcom: Infinite. Padahal, fans berat game ini tetep pengen banget liat Wolverine, Storm, dan kawan-kawan unjuk gigi. Ironis, kan?

Dulu, Maximilian sempet diwawancara sama produser Marvel vs. Capcom: Infinite buat sebuah klip “hot takes”. Tapi, gara-gara Maximilian ngotot soal representasi X-Men, klip itu kayaknya nggak pernah tayang deh. Mungkin para produser mikir, “Wah, ini orang kenapa sih ribet amat soal X-Men?” Ya namanya juga fans, kan punya hak buat berharap?

Ketika Kritikus Bertemu… Audio Engineer?

Nah, ini nih yang lebih seru. Maximilian cerita lagi soal pengalamannya ketemu sama seseorang yang terlibat dalam pengembangan Marvel vs. Capcom: Infinite. Kejadiannya di sebuah acara Comic-Con. Ternyata, orang ini nggak seneng sama kritik-kritik yang Maximilian lontarkan soal game tersebut.

Another funny MvCI story, is that… I’ve been in your guys’ position. And you know what? I have eyes or ears. And I can tell that this [crap] big sucks,” kata Maximilian, menirukan perkataannya dulu. Intinya, dia bilang dia paham betul kenapa game itu kurang memuaskan.

“Kenapa Lo Ngomong Jelek Soal Game Kami?”

Menurut Maximilian, orang ini (yang ternyata adalah seorang lead audio engineer atau semacamnya) nyamperin dia dan nanya kenapa dia ngomong jelek soal Marvel vs. Capcom: Infinite. Bayangin deh, lagi asyik-asyik jalan di Comic-Con, tiba-tiba ada yang nyolot nanya soal kritik game. Suasana kayaknya bisa langsung panas tuh.

Situasi kayak gini sebenernya potensial banget buat jadi drama publik yang seru. Tapi, Maximilian bukan tipe content creator yang doyan cari ribut. Dia lebih milih buat meredakan suasana daripada ikut-ikutan panas.

Taktik Jitu Menghindari Drama ala Maximilian Dood

I’m like, ‘Hey, man, I got to get going,’” kata Maximilian. Singkat cerita, dia milih buat cabut daripada debat kusir sama orang yang lagi emosi. Mungkin dia mikir, “Nggak ada gunanya juga ngeladenin orang yang lagi baper.” Sebuah keputusan bijak, menurut kami.

Moral dari Kisah Ini: Jangan Baper Jadi Developer!

Dari kisah Maximilian Dood ini, kita bisa belajar beberapa hal. Pertama, fans itu punya hak buat ngasih kritik. Kedua, developer juga punya hak buat baper (sedikit). Tapi, yang paling penting, jangan sampe baper itu bikin kita jadi nggak bisa nerima masukan. Apalagi kalo masukan itu datang dari orang yang beneran peduli sama game kita.

Marvel vs. Capcom: Infinite: Antara Cinta dan Benci

Marvel vs. Capcom: Infinite memang bukan game yang sempurna. Banyak banget masalah yang bikin fans kecewa. Mulai dari desain karakter yang kurang oke, cerita yang nggak jelas, sampe absennya karakter X-Men yang ikonik. Tapi, di balik semua kekurangan itu, tetep ada elemen gameplay yang seru dan bikin nagih. Makanya, game ini tetep punya tempat khusus di hati sebagian fans.

Mungkin, suatu saat nanti, Marvel vs. Capcom bakal bangkit lagi dengan iterasi baru yang lebih baik. Tapi, untuk sekarang, kita nikmatin aja dulu nostalgia getir-getir lucu soal Marvel vs. Capcom: Infinite. Siapa tahu, dari situ kita bisa belajar buat jadi fans dan developer yang lebih bijak.

Buat yang penasaran sama cerita lengkapnya, langsung aja tonton video dari IHeartJustice di bawah ini:

Intinya, jadi developer game itu emang nggak gampang. Harus siap nerima kritik, harus pinter ngadepin fans yang macem-macem, dan yang paling penting, harus tetep rendah hati. Kalo nggak, ya siap-siap aja jadi bahan omongan di warung kopi.

Previous Post

Transformasi Digital Transportasi: Inovasi Riset TUT Dorong Industri Lebih Gesit dan Cerdas

Next Post

Ron The Barber: Ikon Cloverdale Tutup Toko, Lalu Apa Kabarnya?

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *