Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Transformasi Digital Transportasi: Inovasi Riset TUT Dorong Industri Lebih Gesit dan Cerdas

Bayangkan jalanan di Indonesia ini seperti open world game yang belum di-patch. Banyak bug visual, tekstur jalanan low-res, dan kadang ada invisible wall berupa lubang yang siap memangsa ban mobil. Untungnya, ada sekelompok developer dari Tshwane University of Technology (TUT) yang lagi nge-debug jalanan ini dengan teknologi canggih.

Ketika Kampus Ikut Turun Tangan Benerin Jalan

Tshwane University of Technology (TUT), bekerja sama dengan Transport Education Training Authority (TETA), baru-baru ini mengadakan seminar penelitian yang nggak kalah seru dari launching game baru. Mereka pamer hasil riset TETA Research Chair for an Agile Transportation Industry. Intinya, mereka lagi berusaha bikin jalanan di Indonesia (dan mungkin negara lain juga) jadi lebih mulus dan aman.

Seminar ini dihadiri oleh para developer (baca: peneliti) dari TUT, University of Gustave Eiffel (UGE), French South African Institute of Technology (F’SATI), dan TUT AI Hub of the AI Institute of South Africa. Para mahasiswa S2 dan S3 yang jadi beta tester juga ikut nimbrung, presentasi hasil riset mereka.

Misi Utama: Bikin Jalanan Nggak Jadi Arena Mario Kart Beneran

TETA Research Chair, yang berdiri sejak 2022, punya misi mulia: membantu mengembangkan teknologi dan skill digital untuk manajemen infrastruktur jalan. Mereka fokus pada empat hal: riset dan inovasi, pengembangan kapasitas mahasiswa pascasarjana, pengembangan skill anak sekolah dan pengangguran, serta pelatihan untuk UMKM.

Profesor Anish Kurien, sang ketua tim developer, bilang bahwa salah satu pertanyaan yang memandu riset mereka adalah, “Gimana caranya mengatasi beban yang terkait dengan memantau jalan di Afrika Selatan?” Kalau di Indonesia, mungkin pertanyaannya jadi, “Gimana caranya biar nggak kesel tiap lewat jalan berlubang?”

Selama ini, pantauan kondisi jalan dilakukan secara manual. Ada mobil yang keliling sambil mencatat kerusakan jalan. Prof Kurien bilang cara ini nggak efisien. Makanya, mereka mikir gimana caranya mendigitalisasi proses ini dengan visualisasi kondisi jalan yang jelas.

Aplikasi HP Jadi Senjata Rahasia

Strategi pertama mereka adalah pakai aplikasi bernama Miranda, hasil kerja sama dengan UGE. Aplikasi ini bisa jalan di HP Android dan memanfaatkan sensor-sensor di HP (accelerometer, GPS, dll.) buat ngumpulin data kondisi jalan. Tujuannya jelas: biar data bisa dikumpulkan dengan mudah dan kualitas jalan bisa diklasifikasi.

Road Quality Measurement: Lebih Canggih dari Sekadar Feeling

Setelah proyek pertama berhasil mengklasifikasi kualitas jalan nasional, provinsi, dan regional, mereka mulaiIntegrasikan teknologi berbasis AI. Tujuannya? Menggantikan inspeksi visual manual dengan sistem otomatis yang lebih akurat dan efisien. Basically, mereka mau ngurangin potensi human error dan beban kerja manusia.

Kendaraan Khusus: Nggak Cuma Buat Mudik, Tapi Juga Buat Pantau Jalan

Riset ini membuahkan hasil yang nggak main-main: TUT mengembangkan kendaraan khusus buat memantau kondisi jalan. Kendaraan ini dilengkapi berbagai sensor (accelerometer, GPS, Lidar) yang bisa ngumpulin data jalan secara otomatis. Ada juga kamera depan buat ngerekam video dan gambar.

Inovasi Low-Cost: Biar Nggak Cuma Pemerintah yang Bisa Punya

Tim riset juga bikin versi low-cost dari platform UniBox, biar lebih terjangkau buat konteks Afrika Selatan dan Afrika pada umumnya. Platform ini, yang disebut RoadSense, bisa ngumpulin data sensor yang sama kayak UniBox.

“Alat ini udah diuji coba di kampus dan di jalanan luar kampus. Keduanya bisa ngasih informasi tentang kualitas jalan. Manfaat utamanya adalah kemampuannya buat ngumpulin informasi secara otomatis dan nyimpennya setelah selesai berkendara,” jelas Prof Kurien.

Deteksi Kelelahan Pengemudi: Biar Nggak Ada Lagi yang Nyetir Sambil Ngantuk

Selain masalah jalan rusak, TUT juga lagi ngembangin solusi buat analisis kelelahan pengemudi. Mereka pakai pendekatan multi-modal dengan menggabungkan data detak jantung dan video. Tujuannya? Biar bisa mendeteksi pengemudi yang lagi distress.

Hasil kerja keras para developer ini udah menghasilkan enam artikel di jurnal-jurnal bergengsi. Nggak cuma itu, mereka juga udah ngasih dukungan buat 10 mahasiswa S1, dua mahasiswa S2, tiga mahasiswa S3, dan satu postdoctoral fellow.

Skills Development: Nggak Cuma Benerin Jalan, Tapi Juga Benerin Masa Depan

Lewat program Chair, mereka juga ngadain dua short-learning programme (SLP). Satu buat 80 peserta dengan fokus pada pemahaman dasar tentang AI, dan satu lagi buat anak muda yang pengangguran dengan fokus pada rapid prototyping biar mereka bisa mandiri di bidang kayak servis HP.

Dr Vathiswa Papu-Zamxaka, sang Deputy Vice-Chancellor for Research, Innovation and Engagement, menekankan pentingnya inovasi dan infrastruktur yang kuat buat pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Dia juga bilang bahwa kemitraan dan kolaborasi itu penting banget buat riset yang berdampak.

Jadi, lain kali kalo lo ngelewatin jalan yang mulus, ingetlah bahwa ada sekelompok developer yang udah kerja keras buat nge-patch jalanan ini. Dan siapa tahu, berkat mereka, jalanan di Indonesia juga bisa jadi lebih nyaman dan aman kayak jalanan di game AAA.

Previous Post

Alergi & Asma: Resolusi Simpel Ini Bisa Bikin 2026 Lebih Lega!

Next Post

Maximilian Dood Dikonfrontasi Soal Marvel vs. Capcom: Infinite, Begini Ceritanya!

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *