Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Industri Gaming Inggris Terluka: Saatnya Pemerintah Suntik Modal?

Ternyata, industri game di Inggris lagi ngalamin senam jantung terparah sepanjang sejarahnya. Bukan cuma sedikit goyangan, tapi kayak abis kena serangan DDoS masif dari realitas ekonomi. TIGA, sang asosiasi dagang yang katanya ‘ngerti banget’ soal game di Inggris, lagi panik sejadi-jadinya, teriak-teriak ke pemerintah biar cepet kasih pertolongan. Soalnya, angkatan kerja di sektor development makin menipis kayak HP yang jatuh dari lantai tiga, dan studio-studio baru muncul lebih jarang dari event gratisan di game AAA. Ini bukan lagi soal update kecil, ini kayak lagi kena patch yang bikin crash seluruh sistem.

Laporan terbaru TIGA, yang judulnya lumayan ‘membekas’ kayak skin langka, “Making Games in the UK”, mencatat ada penurunan paling tajam dalam rekam jejak sektor game development di Inggris. Bukan cuma sekadar sedikit berkurang, tapi angkatinvestasi, jumlah studio, dan jumlah karyawan lagi amblas kayak saldo pasca-gajian. Kebayang kan, di saat negara lain lagi nyiapin event esports akbar dan ngasih insentif gede buat developer, Inggris malah sibuk ngurusin data decline yang bikin kepala geleng-geleng.

Angka-angka dari laporan itu cukup bikin merinding bagi siapa pun yang pernah nge-grind berjam-jam demi sebuah achievement. Antara September 2024 sampai September 2025, sektor game development di Inggris kehilangan sekitar 1.537 pekerjaan. Kalau dihitung persentase, ini jatuh 4,5% – rekor terburuk sepanjang masa. Parahnya lagi, ini pertama kalinya sejak tahun 2011 angka lapangan kerja di sini malah turun, bukan malah nanjak kayak nilai saham crypto pas awal peluncuran.

Total tenaga kerja development game di Inggris terpangkas dari 28.516 menjadi 27.347. Walaupun ada sedikit ceruk pertumbuhan di kalangan pekerja lepas (freelancer) yang jumlahnya tembus 4.245 kontraktor, itu aja nggak cukup buat nutupin lubang menganga di sektor inti. Ibaratnya, ada beberapa bot yang masih aktif main, tapi server utamanya udah mau di-shutdown.

Lebih miris lagi, jumlah studio game baru yang dibentuk dalam setahun terakhir anjlok lebih dari 30%, dan ini udah kejadian tiga tahun berturut-turut. Dari data yang ada, jumlah total perusahaan game development di Inggris sekarang berada di angka 2.110, turun jauh dari puncaknya di 2.175 perusahaan pada tahun 2023. Ini artinya, kompetisi jadi makin nggak sehat, dan para developer independen yang baru mau merintis karir harus siap-siap melawan badai yang lebih besar.

Nggak berhenti sampai di situ, selama periode survei, ada 206 perusahaan yang memilih bubar jalan atau hengkang dari industri game. Ini jadi angka penutupan perusahaan tertinggi kedua dalam sejarah, cuma kalah tipis sama rekor tahun 2024 yang lalu. Jadi, nggak heran kalo TIGA lagi pasang mode panik, karena angkanya menunjukkan tren yang sama sekali nggak ada harapan cerah, kecuali ada intervensi besar-besaran.

Nasib Kredit Pajak Gaming yang Ketinggalan Zaman

Menyikapi fenomena ‘melandai’ yang berujung negatif ini, TIGA jelas nggak tinggal diam. Asosiasi ini punya jurus pamungkas yang diharapin bisa jadi ‘cheat code’ buat menyelamatkan industri. TIGA mendesak Pemerintah Inggris untuk segera ‘mempermak’ kebijakan Video Games Expenditure Credit (VGEC). Kebijakan yang sekarang ini ibarat spek PC kentang yang dipaksa jalanin game AAA terbaru – nggak sanggup.

VGEC saat ini memungkinkan perusahaan game untuk mengklaim pengembalian dana sebesar 34% dari total biaya yang memenuhi syarat pengembangan mereka, tapi cuma dari 80% biaya itu. Angka ini, meskipun terdengar lumayan, ternyata nggak lagi relevan buat menopang industri yang makin kompetitif dan mahal. Ibaratnya, dikasih diskon 34% tapi cuma buat barang yang 80% udah kena markup harga.

TIGA ngusulin agar pemerintah naikkan tarif pengembalian dana jadi 53% untuk proyek-proyek dengan nilai hingga £23,5 juta. Estimasi dari mereka, kebijakan ini bisa membuka lapangan kerja baru untuk 6.952 orang. Walaupun pemerintah mesti ngeluarin tambahan £135 juta buat HMRC (His Majesty’s Revenue & Customs), TIGA mengklaim peningkatan ini bakal ngasih balik Rp 156,4 juta dalam bentuk penerimaan pajak. Logikanya gini, investasi awal memang bikin kas keluar, tapi potensi balik modalnya jauh lebih gede.

Lebih jauh lagi, TIGA juga mendorong pemerintah buat mempertimbangkan revisi dari persentase biaya yang memenuhi syarat. Mereka mau angka 80% itu diganti jadi 100%. Kalau ini terwujud, diperkirakan bisa menciptakan 10.551 lapangan kerja baru, termasuk 1.292 posisi khusus developer. Ini kayak ngasih semua item langka ke pemain, biar dia bisa ngalahin bos terakhir tanpa kesulitan. Tujuannya jelas, biar industri game Inggris bisa bangkit lagi dan bersaing di kancah global.

As UK game development suffers its ‘sharpest recorded decline’, trade association calls on UK Government to act
TIGA CEO Dr Richard Wilson is calling on the UK Government to enhance its games sector credit policy.

Potensi ‘New IP’ dan Ancaman Negara Tetangga

Dr. Richard Wilson OBE, CEO TIGA, menyuarakan keprihatinan dengan nada yang lebih serius. Beliau menekankan bahwa industri game Inggris bukan sekadar ‘salah satu dari sekian banyak’. Faktanya, ini adalah industri game terbesar di Eropa, dengan talenta kelas dunia, studio-studio inovatif, dan universitas yang terus menghasilkan bibit-bibit unggul. Riset TIGA sebelumnya dengan University of Portsmouth mengkonfirmasi bahwa sektor ini menyumbang £12 miliar untuk Gross Value Added (GVA). Angka yang bukan kaleng-kaleng, tapi kok malah makin terpuruk?

“Setelah 14 tahun pertumbuhan tanpa henti, kita kini menyaksikan penurunan dengan skala dan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ujar Dr. Wilson. Pernyataannya itu kayak alarm kebakaran yang berbunyi di tengah malam. Ia menambahkan bahwa tanpa intervensi kebijakan yang tegas, Inggris berisiko kehilangan ribuan pekerjaan yang sangat terampil dan menyerahkan posisi strategisnya kepada kompetitor internasional yang justru mendapatkan dukungan lebih baik. Ini bukan sekadar soal ‘jual beli’ game, tapi soal ‘peta kekuasaan’ dalam industri global.

Dr. Wilson yakin bahwa peningkatan VGEC bisa jadi jurus ampuh. “Meningkatkan VGEC dapat menciptakan ribuan pekerjaan development, memperkuat kekuatan finansial studio, memungkinkan pengembangan new IP (Intellectual Property) baru, dan mengembalikan sektor ini ke jalur pertumbuhan,” jelasnya. Fokus pada pengembangan IP baru ini krusial. Tanpa adanya kekayaan intelektual orisinal yang kuat, studio-studio Inggris akan terus bergantung pada lisensi atau franchise yang sudah ada, yang notabene lebih berisiko dan kurang menguntungkan dalam jangka panjang.

Masalahnya, negara-negara lain nggak tinggal diam. Mereka udah sadar betul betapa menggiurkannya industri game. Irlandia, misalnya, dengan skema insentif pajaknya yang agresif, udah menarik banyak investasi dari studio-studio besar. Kanada juga punya program dukungan yang kuat, termasuk insentif pajak dan pendanaan riset. Di Eropa sendiri, negara-negara seperti Polandia dan Spanyol juga mulai agresif menawarkan paket-paket menarik buat para developer. Inggris, yang dulu jadi pemain utama, sekarang malah kelihatan kayak lagi ketinggalan kereta api kargo yang penuh muatan emas.

Strategi untuk Comeback: Lebih dari Sekadar Patching

Kondisi ini menuntut strategi yang lebih dari sekadar ‘tambal sulam’ atau ‘patch minor’. Pemerintah Inggris harus melihat ini sebagai kesempatan untuk melakukan ‘reboot’ total terhadap kebijakan industri game. Peningkatan VGEC memang langkah awal yang krusial, tapi perlu dibarengi dengan ekosistem pendukung yang lebih kokoh. Ini termasuk investasi dalam program pelatihan untuk meningkatkan skill developer, insentif bagi startup untuk menumbuhkan inovasi, serta kampanye promosi untuk menjadikan Inggris sebagai destinasi utama bagi talenta game global.

Salah satu poin penting yang sering terlewatkan adalah peran pendidikan tinggi. Universitas di Inggris punya potensi besar untuk menjadi inkubator bagi para developer masa depan. Kolaborasi yang lebih erat antara institusi pendidikan dan industri bisa memastikan lulusan-lulusan yang dihasilkan memang sesuai dengan kebutuhan pasar. Bukan cuma jago bikin coding, tapi juga paham soal desain game, manajemen proyek, bahkan aspek pemasaran dan bisnisnya. Kalo nggak, lulusan yang dihasilkan cuma jadi ‘NPC’ di industri yang terus berkembang.

Perlu juga ada perhatian khusus pada genre-genre game yang sedang naik daun dan berpotensi menghasilkan keuntungan besar. Misalkan game-game indie yang inovatif, atau game berbasis komunitas yang punya potensi monetisasi jangka panjang. Dukungan ini bisa berupa pendanaan awal, bantuan akses pasar, atau bahkan mentor-mentor berpengalaman yang siap berbagi ilmu. Ini kayak ngasih ‘skill tree’ yang lengkap buat studio-studio kecil, biar mereka bisa berkembang lebih pesat.

Pada akhirnya, nasib industri game development Inggris ada di tangan para pembuat kebijakan. Apakah mereka akan memilih untuk diam dan membiarkan ‘game over’ terjadi, ataukah mereka akan segera menekan tombol ‘continue’ dengan strategi yang cerdas dan berani? Pilihan ini akan menentukan apakah Inggris akan tetap jadi ‘pemain’ kuat di panggung game global, atau hanya akan menjadi kenangan ‘nostalgia’ dari masa lalu yang pernah jaya.