Inggris, negara yang konon katanya sedang “menghapus” Hepatitis C dari peta kesehatan mereka, ternyata masih punya PR segunung kalau mau benar-benar mengejar target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Laporan terbaru per akhir 2024 ini membuktikan, kemajuan memang ada, tapi kayak lari maraton sambil ditahan-tahan; napasnya masih ngos-ngosan. Padahal, Hepatitis C ini virus yang bikin liver jadi ‘amunisi’ buat penyakit lebih serius kayak sirosis, gagal hati, sampai kanker hati. Global? Ada sekitar 50 juta jiwa terjangkit. Di Inggris sendiri, datanya tunjukkan penurunan infeksi kronis dan perbaikan cakupan pengobatan, tapi ya itu, lubang di bagian diagnosis dan pencegahan, terutama buat kelompok berisiko tinggi, masih menganga lebar. Kayak mau bangun kastil pasir tapi pasirnya basah kuyup, repot!
Nafas Lega karena Pengobatan, Tapi Kok Masih Ada yang Ngos-ngosan?
Angka infeksi kronis Hepatitis C di Inggris terus merosot, di 2024 diperkirakan ada 50.200 orang dewasa yang masih terjangkit. Turun 61,1% sejak 2015. Ini sih hasil ‘kerja keras’ dari kampanye tes yang digencarkan dan penggunaan terapi antivirus langsung bertindak (direct-acting antiviral therapy) yang makin marak. Bayangkan, pengobatan super singkat 8-12 minggu ini sudah bikin banyak pasien bilang ‘bye-bye’ sama virusnya. Bahkan di kalangan pengguna narkoba suntik, kelompok paling rentan kena infeksi ini, prevalensinya juga turun jadi 5,2% di 2024. Lebih gilanya lagi, 46,8% dari mereka sudah bebas dari virus, angka ini lebih dari dua kali lipat dibanding tahun 2015. Kayak tim sepak bola yang tadinya terpuruk, sekarang bangkit dan mendominasi liga, tapi kok masih ada celah di pertahanan?
Lubang Menganga di Diagnosis: Masih Saja Ada yang Terlambat Ngeh
Target WHO sih 90% orang terdiagnosis, tapi Inggris baru menyentuh angka 84,6%. Ya, memang tidak buruk, tapi masih ada sekitar 15.4% penduduk yang hidup dengan Hepatitis C tanpa menyadarinya. Mirisnya, sekitar 9.800 orang yang tidak punya riwayat pemakaian narkoba suntik juga diduga terinfeksi, tapi datanya masih abu-abu. Dari laporan laboratorium, dari kasus-kasus baru yang tercatat seksnya, lebih dari dua pertiga ternyata menimpa laki-laki. Yang bikin gregetan, diagnosis terlambat masih jadi momok. Ada saja yang baru ketahuan pas livernya sudah mulai menuju fibrosis stadium lanjut atau bahkan sirosis. Ini namanya sudah kebelet pipis baru cari toilet, ya jelas telat.
Harm Reduction: Udah Oke, Tapi Kok Masih Ada yang ‘Nyeleneh’?
Kemajuan yang dicapai Inggris sangat berkaitan erat dengan layanan harm reduction, tapi ya itu, masih ada saja celah. Sekitar sepertiga pengguna narkoba suntik mengeluh akses jarum suntik steril yang kurang memadai. Distribusinya juga masih di bawah target WHO. Akibatnya, angka infeksi ulang masih lumayan tinggi, terutama di kalangan mereka yang baru saja selesai diobati atau punya riwayat pernah dipenjara. Ini menunjukkan bahwa risiko paparan masih terus mengintai. Jadi, mau berantas virusnya sih boleh, tapi kalau pencegahan sekundernya bolong, ya sama saja kayak menambal ban bocor pakai selotip.
Tes Makin Gencar, Tapi Diagnosis Masih Punya ‘PR’
Inisiatif tes yang menyasar kelompok tertentu, termasuk program opt-out di unit gawat darurat, berhasil menjangkau individu yang tidak terbiasa dengan layanan kesehatan rutin. Namun, hasil tes paling ‘manjur’ alias diagnostik yield tertinggi tetap datang dari layanan narkoba, penjara, dan program penjangkauan komunitas. Ironisnya, data dari UK Health Security Agency masih menyoroti adanya stigma sebagai hambatan utama yang memengaruhi tingkat tes, kepatuhan berobat, dan kesejahteraan pasien. Ini membuktikan, pendekatan yang lebih personal dan dukungan sebaya masih sangat dibutuhkan. Kematian terkait Hepatitis C di Inggris memang tergolong rendah, berkisar 0,40 hingga 0,86 kematian per 100.000 penduduk di tahun 2024, jauh di bawah ambang batas WHO 2 per 100.000. Tapi, ini bukan berarti bisa santai. Upaya berkelanjutan dalam pencegahan, diagnosis, dan akses pengobatan yang merata adalah kunci untuk benar-benar mencapai eliminasi.


