Lupakan sejenak soal paru-paru yang merana atau napas bau naga. Ternyata, kesenangan sesaat dari vape bisa meninggalkan jejak yang lebih kelam—secara harfiah, pada deretan gigi depan. Seorang mantan perawat gigi harus menelan pil pahit (dan merogoh kocek Rp 3,8 juta) untuk menutupi dua gigi depannya yang berubah warna menjadi hitam pekat gara-gara kebiasaan nge-vape yang menguras kantong hingga Rp 2,3 juta per bulan. Sebuah peringatan mengerikan yang mungkin selama ini terabaikan di balik klaim ‘lebih aman’.
Stacey Gardiner, 41 tahun, dari Swansea, mengakui kecanduannya terhadap vape dimulai pada tahun 2017. Tak tanggung-tanggung, satu unit vape sekali pakai dengan kapasitas 600 puff bisa ludes dalam sehari. Kebiasaan ini meresap begitu dalam, hingga ia baru tersadar setelah seorang dokter gigi menatap giginya dengan prihatin dan menyatakan noda hitam di dua gigi depannya kemungkinan besar adalah “dampak dari nge-vape”. Sebuah diagnosis yang cukup mengejutkan, mengingat Gardiner mengaku rutin membersihkan gigi dua kali sehari dan tidak mengonsumsi makanan manis. Awalnya, ia sama sekali tidak menyadari apa yang menjadi biang kerok di balik perubahan warna giginya yang dramatis itu.
Kini, senyumnya telah kembali berkat penambahan lapisan veneer klip-on senilai £200 (sekitar Rp 3,8 juta) yang menutupi kerusakan pada gigi depannya. Gardiner memaparkan bahwa residue dari cairan vape, yang mengandung aneka perasa manis, cenderung mengendap di sekitar garis gusi dan bagian atas gigi. Endapan inilah yang diduga kuat menjadi penyebab kerusakan estetis yang dialaminya. Ia pertama kali menyadari adanya noda hitam di gigi depannya yang kanan sekitar lima tahun lalu, namun saat itu pikirannya belum sampai mengaitkannya dengan kebiasaan nge-vape yang sedang digelutinya.
Keputusan untuk berhenti nge-vape, yang ia jalani “cold turkey” (tanpa bantuan bertahap) enam bulan lalu, ternyata membawanya pada kesadaran baru: ternyata ia tidak benar-benar menikmati aktivitas tersebut. Ini bukanlah adiksi nikotin murni, melainkan lebih karena kebiasaan yang mendarah daging. Vape sekali pakai dengan 600 puff yang dulu begitu mudah didapat, kini ia sadari, seringkali hanya bertahan sehari dalam penggunaannya yang intens. Sulit baginya untuk melacak seberapa banyak ia sebenarnya menghabiskan waktu untuk menghirup uap beraroma itu. Berbeda dengan rokok konvensional yang setidaknya memberikan gambaran kuantitatif mengenai jumlah batang yang diisap, nge-vape terasa lebih ambigu dan mudah tergelincir dalam frekuensi penggunaan.
Perjuangan untuk menghentikan kebiasaan ini memang tidak mudah. Meskipun dokter umum meresepkan koyo nikotin untuk mengatasi rasa kangen, upaya tersebut ternyata tidak memberikan hasil yang signifikan. “Sangat sulit untuk berhenti,” akuinya. Ia menggarisbawahi bahwa adiksi yang ia rasakan lebih bersifat psikologis, sebuah ritual yang sudah menjadi bagian dari rutinitas harian, bukan semata-mata tuntutan fisik dari zat nikotin. Setelah melewati masa-masa sulit, ia akhirnya berhasil melepaskan diri dari jerat vape melalui metode “cold turkey”. Pengalaman ini, ditambah dengan efek positif dari veneer yang meningkatkan kepercayaan dirinya, membuatnya lebih berani beraktivitas sosial.
Vape: Lebih dari Sekadar Risiko Paru-Paru
Gardiner kini lebih selektif dalam menggunakan veneer klip-onnya. Ia tidak memakainya di rumah, namun akan memasangnya jika berencana keluar rumah atau berinteraksi secara sosial. Dahulu, ketidakpercayaan diri akibat gigi yang menghitam membuatnya enggan bersosialisasi dan bahkan menghindari percakapan. Bentuk dan warna giginya yang jelas terlihat saat berbicara membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Dalam setiap foto, ia selalu memilih pose “pout” atau memanyunkan bibir, demi menutupi senyum yang tersembunyi di balik rasa malu. Penampilannya yang kini kembali normal berkat veneer telah memulihkan aspek sosial dalam hidupnya yang sempat terganggu.
Ia merasa ada kesenjangan informasi yang signifikan mengenai bahaya vape. Fokus utama peringatan kesehatan seringkali tertuju pada dampak buruknya terhadap paru-paru, sementara efek merusak pada gigi seperti yang dialaminya seringkali terabaikan. Gardiner mengkhawatirkan generasi muda yang mungkin terjebak dalam perangkap yang sama. “Jika ada remaja berusia 15 tahun yang mulai seperti saya, mereka bisa berada dalam posisi yang sama pada usia 20 tahun,” ujarnya, menekankan minimnya kesadaran mengenai bahaya rasa manis dan residu yang ditinggalkan vape pada gigi. Kekhawatiran ini merujuk pada komposisi cairan vape yang kaya akan pemanis buatan, yang belum tentu aman jika terpapar terus-menerus pada enamel gigi.
Meskipun NHS Better Health menyatakan bahwa vape “memiliki risiko yang jauh lebih kecil dibandingkan merokok,” pernyataan ini seringkali disalahartikan sebagai bukti keamanan absolut. Regulasi di Inggris mewajibkan semua produk vape yang dijual harus terdaftar pada Medicines and Healthcare products Regulatory Agency (MHRA), termasuk daftar lengkap bahan-bahan yang terkandung di dalamnya. Imbauan agar konsumen selalu membeli produk vape dari penyedia terpercaya seperti toko vape spesialis, apotek, supermarket, atau pengecer online berbasis di Inggris, bertujuan untuk memastikan produk tersebut memenuhi standar keamanan dan kualitas Inggris. Namun, standar keamanan tersebut belum tentu mencakup perlindungan menyeluruh terhadap kesehatan gigi.
Gardiner menambahkan bahwa ketidakpedulian terhadap potensi kerusakan gigi ini diperparah oleh tren pemasaran vape yang seringkali mengedepankan variasi rasa yang menarik, seolah-olah produk tersebut aman dikonsumsi dalam jumlah berapa pun. Campuran perasa buah-buahan tropis, permen karet, atau bahkan hidangan penutup, memang menggugah selera, namun di balik rasa manisnya, terkandung zat-zat kimia yang dapat bereaksi dengan plak gigi, menciptakan lingkungan asam yang merusak. Fenomena ini menciptakan paradoks: di satu sisi ada peringatan tentang bahaya nikotin dan tar, namun di sisi lain, aspek estetika dan kesehatan gigi seringkali luput dari perhatian publik, terutama di kalangan pengguna muda yang cenderung lebih peduli pada tren daripada potensi jangka panjang.
Faktanya, tidak semua kandungan dalam cairan vape telah sepenuhnya dikaji dampaknya terhadap kesehatan gigi dalam jangka panjang. Residu lengket yang ditinggalkan oleh uap vape dapat menjadi tempat berkembang biaknya bakteri di dalam mulut. Bakteri ini kemudian memetabolisme gula dan perasa dalam cairan vape, menghasilkan asam yang menyerang enamel gigi. Proses ini serupa dengan apa yang terjadi ketika seseorang terlalu sering mengonsumsi minuman manis atau makanan ringan yang tinggi gula, namun dalam kasus vape, paparan residu tersebut bisa lebih intensif dan terkonsentrasi di area tertentu, terutama di dekat garis gusi dan permukaan gigi yang terkena uap secara langsung.
Selain perubahan warna, kebiasaan nge-vape juga berpotensi meningkatkan risiko masalah gusi. Beberapa studi awal menunjukkan adanya korelasi antara penggunaan vape dengan peradangan gusi dan penurunan kesehatan periodontal secara umum. Ini bisa disebabkan oleh bahan kimia tertentu dalam cairan vape yang mengiritasi jaringan gusi, atau oleh perubahan pada komposisi mikrobioma mulut yang dipicu oleh uap vape. Ketika gusi meradang dan kehilangan kesehatannya, gigi menjadi lebih rentan terhadap masalah lain, termasuk kerusakan pada akar gigi dan, dalam kasus yang parah, kerontokan gigi. Ini adalah konsekuensi yang jauh lebih serius daripada sekadar perubahan warna estetis.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah bagaimana industri vape cenderung meminimalkan risiko-risiko non-paru-paru ini. Pemasaran yang cerdas seringkali hanya menyoroti perbandingan dengan rokok konvensional, mengaburkan fakta bahwa inovasi produk ini membawa serangkaian tantangan kesehatan baru yang belum sepenuhnya dipahami. Stacey Gardiner, dengan pengalamannya yang pahit, menjadi suara penting yang mengingatkan bahwa pertempuran melawan kecanduan produk tembakau dan nikotin harus mencakup kesadaran holistik terhadap seluruh aspek kesehatan, termasuk kebersihan dan kekuatan gigi serta gusi. Jangan sampai kenikmatan sesaat dari vape malah merusak aset berharga yang seharusnya dijaga seumur hidup.

