Di tengah gegap gempita nomine Ivor Novello Awards tahun ini, ada pemandangan yang sama familiar seperti kekalahan tim sepak bola kesayangan di menit akhir: duo nominasi yang memimpin daftar. Olivia Dean, Ellie Rowsell dari Wolf Alice, Jacob Alon, Self Esteem, dan Kae Tempest, nama-nama yang sudah malang melintang di panggung musik, kembali bersaing. Johan Hugo, sang cowriter Self Esteem, dan Fraser T Smith, tandem Kae Tempest, juga turut mendominasi arena. Ini bukan sekadar daftar nama, ini adalah peta kekuatan industri yang terus bergeser, di mana talenta bersinar terang di bawah sorotan lampu penghargaan yang bergengsi.
Para Ratu Panggung dan Sang Maestro Lirika
Kae Tempest, sosok yang tak asing lagi dengan kata-kata berbobot, justru menciptakan sebuah duel internal yang menarik dalam kategori lagu kontemporer terbaik. Dengan dua nominasinya, “I Stand on the Line” dan “Know Yourself,” yang keduanya ditulis bersama Fraser T Smith dari album Self Titled, Tempest membuktikan bahwa persaingan paling sengit justru datang dari dalam diri sendiri. Ini adalah sebuah manifestasi kecerdasan lirik yang mampu membelah diri, memberikan audiens pilihan sulit untuk bersorak pada karya mana yang lebih memukau. Fenomena ini menegaskan posisi Tempest sebagai salah satu penulis lirik paling vital di kancah musik Inggris dan Irlandia saat ini.
Di sisi lain, daftar nominasi ini secara telanjang mengungkap kembali kesenjangan gender yang menganga di industri musik Inggris dan Irlandia. Dengan total 40 nominator pria berbanding 19 wanita, ditambah dua artis non-binary, representasi perempuan terasa seperti encore yang tak terduga di tengah lautan nominasi pria. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari realitas yang lebih luas di mana suara perempuan dalam penulisan lagu masih berjuang untuk mendapatkan panggung yang setara. Riset dari Annenberg Inclusion Initiative di University of Southern California pun semakin memperkuat gambaran suram ini, menunjukkan penurunan drastis jumlah penulis lagu perempuan di 1.400 lagu terpopuler dari 18.9% di tahun 2024 menjadi 14.5% di tahun 2025. Ini bukan sekadar penurunan angka, ini adalah sinyal bahaya bagi keberagaman dan inklusivitas di dunia musik.
Veteran dan Pendatang Baru: Perpaduan Genre yang Menggugah
Namun, jangan salah, Ivor Novello Awards tahun ini juga menghadirkan perpaduan dinamis antara veteran dan pendatang baru yang menjanjikan. Nama-nama beken seperti Lily Allen, Florence + the Machine, dan Gorillaz berdiri berdampingan dengan talenta-talenta yang baru menjejakkan kaki di industri, seperti CMAT, Jerskin Fendrix, dan Lola Young, yang tahun lalu sempat mendominasi daftar nominasi. Keberadaan mereka dalam satu panggung nominasi menandakan bahwa Ivor tidak hanya menghargai konsistensi dan karya besar, tetapi juga merangkul inovasi dan keberanian dari generasi baru.
Para penyelenggara Ivor Novello Awards sendiri menggemakan penghargaan ini sebagai pengakuan atas “kerajinan luar biasa, orisinalitas, dan dampak budaya dalam penulisan lagu dan komposisi layar.” Lebih jauh lagi, mereka memposisikan diri sebagai “afirmasi kuat kreativitas manusia dan nilai budaya penulis lagu” di tengah kekhawatiran yang semakin merebak mengenai dampak AI terhadap mata pencaharian musisi. Di saat teknologi semakin canggih, Ivor justru kembali menegaskan esensi kemanusiaan dalam proses kreatif, sebuah pesan yang relevan dan krusial di era digital ini.
Perjalanan Lirik yang Menginspirasi dan Karya Monumental
Little Simz kembali mencuri perhatian dengan nominasi Ivors kelimanya untuk lagu “Free” dari album Lotus. Sementara itu, Lola Young menorehkan nominasi keempatnya, menyamai pencapaian Florence Welch. Lily Allen pun tak ketinggalan dengan nominasi ketiga, sebuah bukti nyata kekuatan liriknya yang telah mendefinisikan era, terutama melalui album kelimanya, West End Girl, yang tak lain adalah sebuah narasi semi-fiksi tentang retaknya pernikahan dengan aktor Stranger Things, David Harbour. Kisah-kisah personal yang divisualisasikan melalui lirik ini menunjukkan betapa dalamnya hubungan antara kehidupan dan seni.
Tak lupa, “Viva la Vida” milik Coldplay, lagu ikonik dari tahun 2008, kembali mendapatkan sorotan dengan nominasi ketiganya, kali ini untuk kategori karya paling banyak diputar, seiring dengan gemerlap tur global band tersebut. Ini adalah kali kedua lagu tersebut dinominasikan dalam kategori ini, setelah sebelumnya memenangkan penghargaan single Inggris terlaris pada tahun 2010. Keberlangsungan popularitas “Viva la Vida” di kancah nominasi adalah testimoni kekuatan sebuah komposisi yang mampu melintasi generasi dan terus relevan di telinga pendengar.
Best Album & Kolaborasi Tak Terduga
Kategori Best Album menampilkan perpaduan menarik. Lily Allen, Wolf Alice, Olivia Dean, CMAT, dan Jim Legxacy dengan album Black British Music-nya saling bersaing. Menariknya, Wolf Alice, Sugababes (untuk Best Song Musically and Lyrically), dan Divorce (untuk Rising Star) adalah satu-satunya grup yang masuk nominasi di tengah dominasi artis solo. Ini menunjukkan bagaimana lanskap industri musik saat ini lebih banyak diisi oleh talenta individual yang bersinar terang.
Di ranah skor film orisinal terbaik, Daniel Blumberg, mantan pentolan band Yuck, berpotensi menambah koleksi penghargaannya setelah Oscar di tahun 2025 untuk skor film The Brutalist. Namun, kategori ini sepenuhnya diisi oleh komposer pria, sebuah indikasi nyata betapa sulitnya musisi perempuan menembus ruang ini. Tantangan bagi perempuan di kancah komposisi musik latar film dan televisi masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi industri ini. Kehadiran Daniel Blumberg memang patut diapresiasi, namun tidak bisa menutupi fakta bahwa lanskap ini masih didominasi suara pria.
Persaingan Ketat dan Potensi Kemenangan
Tak ketinggalan, skor serial televisi Adolescence, karya Aaron May dan David Ridley, berpeluang melanjutkan dominasi penghargaan di kategori Best Television Soundtrack, bersaing dengan musik untuk Lazarus (Sarah Warne), Summerwater (Gazelle Twin), This City Is Ours (Rael Jones), dan Trespasses (David Holmes dan Brian Irvine). Kemenangan Adolescence akan menegaskan posisinya sebagai salah satu karya audio visual terdepan dalam penayangan serial televisi.
Tahun lalu, Charli XCX dinobatkan sebagai Songwriter of the Year berkat albumnya yang fenomenal, Brat. Pengumuman pemenang Ivor Novello Awards tahun ini sendiri akan dilangsungkan pada 21 Mei di London, di mana penghargaan pencapaian luar biasa lainnya, termasuk Songwriter of the Year, juga akan dibagikan. Malam penghargaan ini bukan hanya perayaan talenta, tetapi juga panggung untuk refleksi mendalam tentang arah industri musik ke depan, terutama dalam menghadapi arus teknologi yang terus berkembang pesat.
Daftar Lengkap Nominasi Ivor Novello Awards 2026
Best Album
- Jim Legxacy – Black British Music (ditulis oleh Legxacy dan Joe Stanley)
- CMAT – Euro Country (ditulis dan dibawakan oleh CMAT)
- Olivia Dean – The Art of Loving (ditulis oleh Dean, Bastian Langebaek, dan Max Wolfgang)
- Wolf Alice – The Clearing (ditulis oleh Joff Oddie dan Ellie Rowsell)
- Lily Allen – West End Girl (ditulis oleh Allen, Chloe Angelides, Kito, dan Blue May)
Best Contemporary Song
- Gorillaz – Damascus (feat. Omar Souleyman dan Yasiin Bey) (ditulis oleh Damon Albarn, Bey, dan Souleyman)
- Little Simz – Fire (ditulis oleh Simz, Alex Bonfanti, dan Miles Clinton James)
- Self Esteem – I Do and I Don’t Care (ditulis oleh Self Esteem dan Johan Hugo)
- Kae Tempest – I Stand on the Line (ditulis oleh Tempest dan Fraser T Smith)
- Kae Tempest – Know Yourself (ditulis oleh Tempest, Fraser T Smith, dan Tom Rowlands)
Best Song Musically and Lyrically
- Jacob Alon – Don’t Fall Asleep (ditulis oleh Alon)
- Florence + the Machine – Everybody Scream (ditulis oleh Florence Welch, Mark Bowen, dan Mitski)
- Self Esteem – Focus Is Power (ditulis oleh Self Esteem, Johan Hugo, dan Jacob Vetter)
- Wolf Alice – The Sofa (ditulis oleh Ellie Rowsell)
- Sugababes – Weeds (ditulis oleh Tove Burman, Anya Jones, dan Jon Shave)
PRS for Music Most-Performed Work
- Olivia Dean – Man I Need (ditulis oleh Dean, Tobias Jesso Jr, dan Zach Nahome)
- Lola Young – Messy (ditulis oleh Young)
- Myles Smith – Stargazing (ditulis oleh Smith, Peter Fenn, dan Jesse Fink)
- Chrystal – The Days (ditulis oleh Chrystal)
- Coldplay – Viva la Vida (ditulis oleh Guy Berryman, Jonny Buckland, Will Champion, dan Chris Martin)
Rising Star
- Chloe Qisha
- Divorce
- Jacob Alon
- Kwn
- Skye Newman
Best Original Film Score
- Jerskin Fendrix – Bugonia
- Raffertie – Dragonfly
- Robin Carolan – Nosferatu
- Tom Hodge – Testimony
- Daniel Blumberg – The Brutalist
Best Television Soundtrack
- Aaron May dan David Ridley – Adolescence
- Sarah Warne – Lazarus
- Gazelle Twin – Summerwater
- Rael Jones – This City Is Ours
- David Holmes dan Brian Irvine – Trespasses


