Membawa ikon pop sekaliber Michael Jackson ke layar lebar adalah tugas yang bisa bikin lutut bergetar bagi aktor dan penyanyi pendatang baru mana pun. Tapi, sebentar lagi, beban itu terasa lebih personal bagi bintang 29 tahun, Jaafar Jackson, yang memerankan pamannya dalam film musikal arahan Antoine Fuqua bertajuk Michael. “Sebuah kehormatan seumur hidup. Pasti pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan,” ujar Jackson, putra Jermaine Jackson, salah satu kakak Michael dan mantan personel Jackson 5. “Tidak bisa lebih bangga dan bersyukur lagi bisa menceritakan kisah Michael dalam format sinematik.”
Sang Raja Pop Muncul dari Panggung Keluarga
Film ini akan mengupas perjalanan Michael Jackson dari masa Jackson 5 hingga menjadi “King of Pop” dunia. Ini adalah peran akting pertama Jackson – tidak ada tekanan sama sekali, kan? Untuk mempersiapkan proyek yang sedang hangat dibicarakan ini, Jackson menghabiskan dua tahun untuk riset dan latihan. Pernah menghabiskan waktu bersama Michael saat kecil, namun ada jurang pemisah yang perlu diisi, terutama mengenai awal kariernya. “Penting bagi untuk memulai dari akar paling awal, saat Jackson 5 baru terbentuk, dan memastikan pemahaman sudut pandang Michael dari masa-masa awal hingga dewasa,” jelas Jackson. “Ada daftar panjang hal yang dilakukan agar siap saat tiba di lokasi syuting. Persiapan ekstensif dimulai dengan membedah banyak video arsip, mendengarkan musiknya, dan menyelami tulisan-tulisan pribadinya.”
Meniru Gerakan Ikonik, Bukan Sekadar Akting
Menguasai koreografi dan nyanyian khas Michael Jackson jelas menjadi prioritas utama. Untuk sepenuhnya merasuk ke dalam karakter, sang bintang bekerja sama dengan koreografer ternama, Rich + Tone Talauega. “Mereka adalah koreografer Michael yang sesungguhnya saat tur ‘History’,” ujar Jackson, yang menghabiskan berbulan-bulan mempelajari gerakan khas pamannya. “Mulai menyerap semua tur Michael, mengumpulkan perpustakaan video apa pun tentang tariannya. Mempelajarinya setiap hari, berlatih di depan cermin berjam-jam. Butuh beberapa tahun sampai merasa percaya diri dengan gerakan tariannya.” Sungguh sebuah dedikasi yang luar biasa, bukan sekadar meniru gaya, tapi memahami esensi dari setiap gerakan yang memukau jutaan pasang mata.
Tak kalah berkesan bagi Jackson selama syuting adalah kostum-kostum glamor dan teatrikal yang dikenakannya dalam karakter, semua dihidupkan oleh desainer kostum Marci Rodgers. Mulai dari outfit Thriller yang ikonik hingga koleksi jaket militernya yang khas. “Itu proses yang sangat menyenangkan, bisa mencoba semua pakaian dan tampil dengan outfit ikonik itu,” kata Jackson. “Melihat pakaian menjadi hidup membantu memahami betapa spesifik dan detailnya Michael dalam menentukan penampilannya di atas panggung saat menari.” Mana kostum favoritnya? “Salah satu favorit yang berkesempatan dikenakan adalah look Thriller, dan juga look Billie Jean dari Motown 25.” Penampilan visual ini bukan sekadar elemen estetika, melainkan narasi visual yang menyempurnakan pemahaman karakter.
Sentuhan Gaya MJ dalam Tur Pers
Bulan ini, Jackson justru bergulat dengan ragam busana berbeda dalam tur pers film tersebut. Bekerja sama dengan stylist Ilaria Urbinati, ia meramu penampilan pers yang modis dan modern, namun tetap menggemakan semangat gaya MJ. Bisa dibilang ini adalah sebuah method dressing yang subtil. “Prosesnya sangat menyenangkan, apalagi ini pengalaman pertama dalam hal ini,” ungkap Jackson. “Senang mengenakan pakaian yang membuat merasa terbaik, dan di saat bersamaan, memberikan penghormatan halus kepada Michael.” Sebuah strategi gaya yang cerdas, memadukan identitas diri dengan warisan sang ikon, tanpa terkesan menjiplak. Ini menunjukkan kedewasaan dalam berbusana, melampaui sekadar tren sesaat.
Perjalanan Jaafar Jackson dalam memerankan Michael Jackson ini lebih dari sekadar proyek film biasa. Ini adalah sebuah rekognisi terhadap warisan seni yang luar biasa dan sebuah upaya untuk meneruskan denyut nadi kreativitas sang legenda kepada generasi baru. Dari riset mendalam tentang akar Jackson 5 hingga menguasai setiap detail gerakan tarian yang legendaris, setiap langkah diabdikan untuk keakuratan dan penghormatan. Kostum-kostum ikonik bukan hanya pelengkap visual, tetapi jembatan penghubung emosional yang memfasilitasi pemahaman mendalam tentang obsesi Michael terhadap kesempurnaan artistik.
Keberanian Jaafar Jackson mengambil peran ini, ditambah dengan persiapan matang yang dilakukannya, patut diapresiasi. Ia tidak hanya dituntut untuk berakting, tetapi juga bernyanyi dan menari layaknya sang King of Pop. Ini adalah ujian bakat multigenerasi yang langka, di mana genealogi keluarga bertemu dengan tuntutan profesionalisme artistik. Transformasinya ini tidak hanya relevan bagi penggemar Michael Jackson, tetapi juga bagi siapa saja yang tertarik pada proses kreatif di balik layar perfilman biografi musikal.
Pendekatan terhadap gaya personal dalam tur pers pun mencerminkan kecerdasan visual yang sama. Kolaborasi dengan stylist Ilaria Urbinati menghasilkan padu padan busana yang tak hanya *stylish* dan modern, tetapi juga cerdik dalam menyematkan referensi halus ke gaya Michael Jackson. Ini bukan sekadar soal mengikuti tren mode, melainkan sebuah pernyataan gaya yang terkalkulasi, menunjukkan kemampuan untuk beradaptasi sekaligus menjaga identitas. Pemilihan busana menjadi semacam “metode berpakaian” yang tak terucapkan, sebuah dialog visual antara masa kini dan masa lalu sang ikon.
Semua elemen ini—mulai dari akting yang mendalam, koreografi yang presisi, hingga pilihan busana yang berkelas—menghadirkan sebuah potret yang kaya dan berlapis. Jaafar Jackson tidak sekadar memerankan pamannya; ia tampaknya berupaya menghidupkan kembali semangat dan esensi seorang Michael Jackson bagi penonton kontemporer. Film Michael ini, dengan segala ambisinya, berpotensi menjadi lebih dari sekadar film biografi; ia bisa menjadi sebuah perayaan, sebuah pelajaran, dan mungkin sebuah pengingat akan dampak tak terhapuskan dari seorang seniman yang benar-benar mendefinisikan ulang arti sebuah bintang global.


