Bayangkan begini: sudah siap-siap pentas, eh, tiba-tiba ada yang demo minta acaranya dibatalkan. Lebih nyesek dari gagal war tiket konser Taylor Swift, kan? Itulah yang lagi dialami Aespa, girl group K-pop yang lagi naik daun.
Drama Korea vs. Drama Jepang: Kok Bisa Gara-Gara Ningning?
Jadi, ceritanya begini. Lebih dari 70 ribu netizen Jepang tanda tangan petisi online. Isinya? Minta penampilan Aespa di acara musik akhir tahun paling bergengsi di Jepang, NHK Red and White Singing Contest, dibatalkan. Alasannya? Kehadiran Ningning, member asal Tiongkok, dianggap bisa merusak citra Jepang dan menyinggung perasaan mereka yang terkena dampak tragedi sejarah. Wah, ini sih level dramanya udah kayak drakor saeguk!
Petisi ini muncul di tengah memanasnya hubungan Jepang dan Tiongkok. Ibaratnya, lagi main game online, tiba-tiba koneksi putus gara-gara ping tinggi. Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, sempat bikin heboh karena nyeletuk Jepang bisa mengerahkan pasukan Bela Diri kalau Tiongkok menyerang Taiwan. Kontan, Tiongkok meradang. Inilah yang bikin para insider industri musik khawatir. Tensi politik bisa bikin runyam urusan grup K-pop yang punya member dari kedua negara.
Masalahnya enggak berhenti di situ. Unggahan lama Ningning di aplikasi Bubble (semacam langganan pesan berbayar buat fans K-pop) juga ikutan disorot. Waktu itu, Ningning pamer lampu baru berbentuk… bom atom. Sontak, fans Jepang langsung murka. Mereka merasa Ningning enggak punya empati sama korban tragedi Hiroshima. Padahal, Ningning cuma bilang, “Aku beli lampu cantik, menurut kalian gimana?” Yah, namanya juga netizen, maha benar dengan segala komentarnya.
Lampu Cantik atau Bom Waktu? Salahkah Sentimen Anti-Jepang?
Yang bikin runyam, beberapa pengamat menyoroti latar belakang Ningning yang berasal dari Harbin, wilayah yang pernah dijajah Jepang dari tahun 1932 sampai 1945. Muncul dugaan Ningning punya sentimen anti-Jepang. Padahal, namanya juga masa lalu, ya kan? Jangan sampai dendam sejarah dibawa-bawa ke panggung hiburan. Tapi ya namanya juga sentimen, susah dihilangkan kayak bloatware di HP Android.
NHK sendiri sudah ngecek ke SM Entertainment, agensi yang menaungi Aespa. Katanya sih, Ningning enggak ada maksud menghina korban bom atom. Tapi namanya juga agensi, pasti belain artisnya mati-matian. SM Entertainment sendiri ogah berkomentar lebih lanjut. Sementara itu, Aespa tetap beranggotakan Karina (25) dan Winter (24) dari Korea Selatan, serta Giselle (25) dari Jepang. Gimana coba, udah kayak tim Avengers yang anggotanya dari berbagai negara dengan kekuatan super berbeda.
Ketika K-Pop Jadi Korban Politik: Nasib JO1 Juga Ikutan Sial
Selain Aespa, nasib apes juga menimpa JO1, boy band Jepang beranggotakan 11 orang yang terbentuk lewat ajang Produce 101 Japan di tahun 2019. Acara fan meeting mereka terpaksa dibatalkan karena “keadaan yang tak terhindarkan”. Padahal, fans sudah siap sedia war tiket demi ketemu oppa-oppa ganteng ini.
QQ Music, salah satu platform musik terbesar di Tiongkok, mengumumkan pembatalan acara khusus member VIP yang seharusnya digelar tanggal 19 November. Alasannya? Enggak jelas. Bikin fans bertanya-tanya, ini sebenernya ada apa sih? Jangan-jangan, ada konspirasi tingkat tinggi yang melibatkan alien dan Illuminati!
JO1 sendiri sekarang berada di bawah naungan Lapone Entertainment, perusahaan patungan antara Yoshimoto Kogyo (konglomerat showbiz Jepang) dan CJ ENM (raksasa hiburan Korea Selatan). Rumit ya? Iya, kayak hubunganmu sama mantan: pengen balikan tapi gengsi. THE KOREA HERALD/ASIA NEWS NETWORK
K-Pop dan Politik: Musuh Bebuyutan atau Sahabat Selamanya?
Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya K-pop kena imbas masalah politik. Dulu, waktu Korea Selatan dan Tiongkok lagi tegang gara-gara sistem pertahanan rudal THAAD, banyak artis Korea yang dilarang tampil di Tiongkok. Konser dibatalkan, iklan enggak diperpanjang. Padahal, pasar Tiongkok itu gede banget buat industri hiburan Korea. Ibaratnya, lagi panen raya, eh, tiba-tiba ada hama yang nyerang.
Kenapa sih K-pop selalu jadi sasaran empuk masalah politik? Mungkin karena K-pop itu punya pengaruh besar banget. Fansnya militan, loyal, dan tersebar di seluruh dunia. Jadi, kalau ada apa-apa, beritanya langsung heboh. Selain itu, K-pop juga sering dianggap sebagai soft power, alat buat mempromosikan budaya dan citra suatu negara. Makanya, enggak heran kalau K-pop sering dipolitisasi.
Cancel Culture: Bumerang buat Industri Hiburan?
Petisi online buat membatalkan penampilan Aespa ini juga jadi bukti betapa kuatnya cancel culture di era digital. Dulu, orang kalau enggak suka sama artis, paling banter enggak beli album atau enggak nonton konsernya. Sekarang, tinggal bikin petisi online, viralin di media sosial, dan voila! Karier artis bisa langsung hancur berkeping-keping. Ngeri enggak tuh?
Tapi, cancel culture ini juga punya sisi positifnya sih. Bisa jadi pengingat buat para artis dan public figure buat lebih hati-hati dalam bertingkah laku dan berucap. Jangan sampai gara-gara satu kesalahan kecil, karier yang udah dibangun susah payah jadi ambyar. Tapi ya jangan juga terlalu lebay, dikit-dikit dibatalin. Kasihan juga kan artisnya.
Aespa di Tengah Pusaran Kontroversi: Bakal Tetap Tampil atau Mengalah?
Lantas, gimana nasib Aespa selanjutnya? Apakah mereka bakal tetap tampil di NHK Red and White Singing Contest? Atau memilih mengalah demi meredakan tensi? Kita tunggu saja episode selanjutnya dari drama K-pop ini. Yang jelas, semoga masalah ini bisa diselesaikan dengan kepala dingin dan hati yang lapang. Jangan sampai gara-gara masalah politik, musik jadi enggak enak didengar.
Di tengah pusaran politik yang panas, satu hal yang pasti: K-pop akan terus menjadi fenomena global. Dengan segala kontroversi dan dramanya, K-pop tetap berhasil menyatukan jutaan orang dari berbagai negara dan latar belakang. Mungkin, inilah kekuatan sebenarnya dari musik: bisa menjembatani perbedaan dan menyebarkan cinta (dan kadang-kadang, juga kebencian). Yah, namanya juga hidup, penuh lika-liku kayak roller coaster.


