KPop Demon Hunters mendadak jadi pembicaraan hangat, bukan cuma karena ceritanya yang seru tapi juga karena bagaimana teknologi mutakhir Uber bikin film animasi ini meledak di Netflix. Film arahan Maggie Kang dan Chris Appelhan ini siap-siap banget merajai panggung Oscar, setelah sebelumnya udah nyabet belasan penghargaan bergengsi di VES Awards dan Concept Art Awards. Tapi di balik gemerlapnya, ada kisah revolusi di balik layar yang bikin film ini beda dari yang lain.
Bukan rahasia lagi kalo KPop Demon Hunters ini jadi bukti nyata gimana teknologi canggih bener-bener mengubah cara produksi film animasi. Kalau sebelumnya kita cuma bisa mengagumi detail visualnya dari poster atau bocoran art book, sekarang ada video behind-the-scenes yang ngungkapin bagaimana Unreal Engine 5, salah satu program pengembangan game terhebat, jadi kunci utama perubahan drastis di pipeline animasi film ini.
Unreal Engine 5, biasanya identik dengan dunia game development, terbukti bukan cuma jago buat nge-push grafis game sekelas Clair Obscur Expedition 33, Black Myth: Wukong, atau Senua’s Saga: Hellblade II. Ia juga merambah ke industri perfilman buat ngurusin VFX dan virtual production.
Sony Pictures Imageworks, yang awalnya pake Maya buat ngasilin KPop Demon Hunters (cek panduan software animasi terbaik), kini dengan berani nambahin Unreal Engine ke dalam toolset mereka. Tujuannya jelas: merombak total pipeline CG layout dan previsualization. Modernisasi ini nyakup banyak area pake teknologi real-time dan kerangka kerja USD (Universal Scene Description), yang bikin semua departemen kerja lebih nyambung, nggak kayak dulu yang silo banget.
Adam Holmes, kepala visualisasi di balik layar, ngaku dalam video di atas kalo cara kerja baru ini bikin para seniman jadi “lebih kreatif dan sinematik dalam pemilihan shot dan penataan kamera”. Hal-hal yang sebelumnya baru bisa divisualisasikan berbulan-bulan kemudian, kini bisa dilihat di awal proses produksi.
Salah satu terobosan paling signifikan adalah bagaimana Unreal Engine mempermudah adegan yang melibatkan kerumunan. Tim melakukan rigging di UE5 dan membangun sistem cerdas untuk mengganti pakaian dan aksesori secara instan. Bayangkan, hanya perlu satu tipe tubuh dasar, lalu rambut dan kostum bisa diubah sesuka hati, plus Unreal’s Foliage tool yang ampuh buat ngisi stadion dengan penonton secara kilat.
“Cukup satu model tubuh dan sekumpulan gaya rambut,” ujar Lillia Lai, Rigging Development Lead. “Terus bisa gonta-ganti gaya rambut dan baju sesuka hati, dipadukan sama Foliage tool-nya Unreal buat ngisi keramaian stadion.”
Adegan konser juga jadi arena eksperimen pencahayaan yang lebih dinamis berkat Unreal Engine. Tim bisa menganimasikan ratusan lampu sekaligus, lalu mengekspornya ke Katana, software lighting dan look development tempat semua aset 3D disatukan, diberi tekstur, dan diterangi sebelum akhirnya dikirim ke proses rendering.

Bahkan, KPop Demon Hunters jadi film pertama yang bikin Sony Pictures Imageworks pakai real-time volumetrics. Supervisor real-time, Jason Baldwin, menjelaskan gimana di adegan pertarungan di bathhouse, Unreal Engine memungkinkan tim “mengatur material agar semuanya terlihat basah, reflektif, dan berkabut.”
Seorang layout artist bisa menata adegan tersebut dalam waktu sekitar seminggu, menghasilkan gambaran yang mendekati hasil akhir saat tahap layout.

Tim mereka juga mengadopsi OpenUSD (Universal Scene Description) sebagai format impor aset, bahkan sampai bikin skrip sendiri untuk menghubungkan Unreal Engine dengan pipeline tradisional mereka. Hasilnya? Efisiensi waktu yang luar biasa.
“Waktu ekspor awal kita butuh enam sampai delapan jam per sekuens,” ungkap Jonghwan Hwang, real-time pipeline supervisor. “Tapi dengan akses ke source code, kita berhasil potong jadi 30 menit, dan sekarang bahkan cuma lima menit per sekuens.” Kecepatan ini tentu krusial buat produksi skala besar.
Setelah sukses diuji coba dan disempurnakan pada KPop Demon Hunters, Sony pun resmi mengadopsi pipeline baru ini untuk proyek animasi mendatang, termasuk Goat. Perusahaan memperkirakan perubahan ini bakal meningkatkan efisiensi tim hingga 20-25% di tahap layout dan previs. Sebuah lompatan kuantum dalam produksi animasi.
Buat yang lagi cari inspirasi animasi lain, coba lihat kenapa Hoppers tampil beda dari film Pixar lain, dan jangan lupa tes pengetahuan soal Zootopia 2 lewat kuis yang menantang.
Lebih Banyak Rahasia KPop Demon Hunters
Sebelumnya, kita sudah melihat bagaimana Daniel Ceballos, animator senior Sony Imageworks, rela berakting layaknya karakter di depan kamera untuk dijadikan referensi animasi KPop Demon Hunters. Maklum, karena gayanya yang super kartunis, performanya pun harus dilebih-lebihkan.
Was lucky enough to animate these chaotic shots of Zoey 🙂 it had been a while since l’d done something this cartoony, and I had a blast! 🧵 #KpopDemonHunters #KPDH pic.twitter.com/pY4VHJwmDMJune 26, 2025
Entah Zoey bergerak seperti Daniel, atau Daniel punya bakat tersembunyi jadi karakter kartun. Yang jelas, ini jadi bukti nyata bahwa animator 3D butuh kemampuan akting mumpuni selain skill animasinya.
Sementara itu, di video Collider di bawah ini, Gary Lee, kepala sinematografi, berbagi cerita soal bagaimana framing ala TikTok yang head-locked dan liputan bergaya konser mempengaruhi tampilan film.




