Led Zeppelin. Nama yang langsung memunculkan bayangan konser stadion yang mengguncang bumi, rambut gondrong yang ikonik, dan—yang tak kalah penting—aura misterius yang menguar dari setiap personelnya. Mereka bukan band yang rajin wara-wiri di infotainment. Bahkan, Rolling Stone, majalah musik legendaris itu pun, pernah jadi musuh bebuyutan. Tapi, di balik semua itu, ada cerita tentang bagaimana seorang jurnalis muda nekat mendekati para dewa rock ini, demi sebuah wawancara yang akhirnya mengubah segalanya.
Misi Mustahil: Mendapatkan Hati Jimmy Page
Kunci untuk menaklukkan Led Zeppelin, dan menempatkan mereka di sampul Rolling Stone, terletak di tangan dingin seorang Jimmy Page. Gitaris flamboyan yang juga otak di balik band itu punya prinsip yang kuat: mystique adalah segalanya. Rencananya disusun: wawancarai personel lain dulu, baru coba dekati Page. Kalau gagal, ya sudah, Robert Plant saja yang jadi sampul. Tapi, ada kemungkinan yang lebih besar: Page bakal menggagalkan semuanya. Bak film Mission Impossible, rencana ini penuh dengan jebakan dan risiko.
Editor Rolling Stone, Ben Fong-Torres, memberikan lampu hijau dengan semangat membara. Setiap hari, telepon berdering, menanyakan perkembangan. Sementara itu, sang jurnalis muda bolos kuliah, berbohong pada orang tua, dan—dengan sedikit rayuan—mendapatkan izin dari dosen jurnalistik untuk menjadikan tur Led Zeppelin sebagai kredit mata kuliah. Sebuah perjudian yang (semoga saja) membuahkan hasil.
Di Balik Panggung: Dari Bar Gay hingga Cocaine
Setelah konser yang memekakkan telinga, para personel Led Zeppelin punya cara sendiri untuk melepas penat: clubbing di Chicago. Tapi, karena popularitas mereka yang menggila, Richard Cole, road manager yang terkenal dengan kegemarannya membuat onar, punya ide brilian: menyusupkan mereka ke bar gay di dekat hotel. Sebuah tradisi yang berlanjut sepanjang tur. Bayangkan: fans yang mencari-cari di jalanan tidak pernah menyangka bahwa Jimmy Page dan Robert Plant justru sedang berdansa ria, tanpa gangguan, diiringi lagu Gloria Gaynor atau Average White Band. Sementara itu, sang jurnalis muda sibuk mencatat di toilet, di tengah suara isapan kokain dan desahan dari bilik sebelah. Rock and roll, indeed.
Wawancara dengan Robert Plant berjalan lancar. Vokalis yang satu ini ternyata seorang penggila musik sejati, dengan selera yang bisa menyaingi kritikus musik paling cerewet sekalipun. Obrolan tentang Zeppelin mengalir begitu saja, frank dan lucu. Setelah mematikan cassette recorder, sang jurnalis muda merasa optimis: ini bakal berhasil.
Operasi Pendekatan: Cereal, Kebohongan, dan Joe Walsh
Namun, drama dimulai. Di Indianapolis, Page bersikap ramah tapi menjaga jarak. Setiap konser terasa semakin dahsyat, saat band itu menemukan formula yang pas untuk materi baru mereka. Penonton terpukau saat mendengar “Ten Years Gone” dan “Kashmir” untuk pertama kalinya. Tapi, di Greensboro, Page mulai mengacuhkan. Malam berikutnya, ia seolah tidak melihat keberadaan sang jurnalis. Ia sadar bahwa semua orang, kecuali dirinya, sudah berbicara untuk artikel Rolling Stone. Waktu terus berjalan, orang tua mulai curiga, dan tur sudah berjalan lebih dari sepuluh hari.
Di suatu tempat di atas Kansas, di dalam pesawat mewah mereka yang dijuluki “Starship”, sang jurnalis muda mengambil risiko: mendekati Page secara langsung. “Kenapa saya harus mau?” jawab Page dengan ketus. Ia bukan hanya pendiri band, tapi juga otoritas tertinggi tentang bagaimana band itu harus terdengar dan ditampilkan. Mystique dan respek bukan sekadar kata-kata baginya, tapi esensi. “Dulu, saat saya butuh majalah itu, mereka memberikan review yang mengerikan. Sekarang mereka butuh saya, dan saya tidak butuh mereka. Kenapa saya harus mau? Demi Jann Wenner? Tidak akan pernah.”
Level Up: Dari Penolakan ke Kaset Joni Mitchell
“Saya bukan Jann Wenner,” sang jurnalis membalas. “Saya percaya pada band ini. Biarkan saya menceritakan keseluruhan kisah untuk para penggemar.” Semakin ia menjelaskan rencana, semakin ia terlihat seperti pengkhianat di mata Page. Tapi, Page masih mendengarkan, jadi ia terus berbicara. Bahkan, saat Page membuat sarapan sereal, ia terus mengikuti dan berbicara. Sebuah pemandangan yang absurd.
“Ini kesempatan Anda untuk berbicara langsung kepada penggemar, dan saya tidak akan membiarkan majalah itu mengubah satu kata pun.” Sang jurnalis terus berbicara, dengan naifnya. “Dan soal review buruk itu, yang bisa saya katakan adalah: kalau saya membeli rekaman berdasarkan review bagus dari Rolling Stone, saya akan punya koleksi rekaman terburuk yang pernah ada.”
Ketika Joe Walsh Jadi Jembatan
Page menyukai kalimat itu. Ia tertawa tajam, menghargai. “Kalau Joe Walsh percaya pada Anda,” katanya, merujuk pada gitaris, penyanyi, dan penulis lagu dari Eagles, “maka saya juga seharusnya percaya.” Sang jurnalis tidak yakin apakah ia mendengar dengan benar. “Kita akan melakukan wawancara di New York,” kata Page. Ia berbalik, dan sang jurnalis melihat secercah kenakalan di matanya. Apakah ia baru saja meraih kemenangan yang hampir mustahil, atau justru akan menjadi bahan lelucon?
Wawancara dijadwalkan malam itu juga. Sang jurnalis naik lift ke kamar Page, dengan tape recorder di tangan. Page membuka pintu, mengenakan pakaian panggungnya: celana satin hitam longgar dan kemeja cowboy hitam dengan bahan yang sama. Ia terlihat seperti anak sekolah yang kusut saat membawanya ke suite tiga kamar yang luas, yang seolah-olah dibangun untuk film Fellini. Di tengah ruangan utama, ada proyektor film. “Kenneth Anger akan datang untuk menunjukkan filmnya,” kata Page, “tapi mari kita mulai.”
Dari Joni Mitchell hingga Lucifer Rising
Page menyarankan untuk mendengarkan salah satu kaset milik sang jurnalis terlebih dahulu. Isinya adalah wawancara langka dengan Joni Mitchell, salah satu artis favoritnya. Rekaman itu adalah percakapan yang indah dengan teman Mitchell, jurnalis Toronto bernama Malka Marom. Mereka terganggu oleh kedatangan Anger, yang membawa potongan terbaru dari Lucifer Rising. Ia meminta Page untuk menyediakan skor film. Ini adalah pertama kalinya Page menonton film itu dengan musiknya terpasang. Sang jurnalis duduk di sebelah Anger, okultis terkenal dan penulis Hollywood Babylon, saat ia memproyeksikan filmnya ke dinding suite hotel Page. Ia kini resmi berada jauh dari pelajaran agama di sekolah Katolik.
Setelah Anger pergi, mereka kembali ke kaset Joni Mitchell. Mereka mendengarkan hingga pukul dua pagi, lalu memulai wawancara. Semua permusuhan Page terhadap majalah itu, dan terhadap Wenner, hilang. Ia menceritakan detail tentang masa kecilnya—yang belum pernah ia bagikan sebelumnya—dan tentang bagaimana perasaannya tentang Plant, tur, band, dan dirinya sendiri. Ia mengatakan bahwa ia tidak pernah merasa akan hidup melewati usia 30. Tapi, di sinilah ia, dua tahun melewati tanggal kedaluwarsa yang ia bayangkan, hidup, bijaksana, dan kesepian di New York City. Ia merenungkan tentang perjalanan kembali ke Los Angeles keesokan harinya, untuk satu malam, untuk menemui seorang gadis yang ia rindukan. Ia mengakhiri percakapan itu dengan kata-kata yang tak terlupakan dan puitis: “Saya hanya mencari malaikat dengan sayap patah…” Saat percakapan yang mendalam itu selesai, ia bertanya apakah ia boleh meminjam kaset Joni Mitchell. Kaset itu tidak pernah kembali.
Game Over: Sebuah Kisah Cinta dari Para Penggemar
Artikel itu segera dicetak, dan edisi itu menjadi salah satu edisi terbesar Rolling Stone yang pernah ada. Beberapa minggu kemudian, sebuah kotak dari Fong-Torres tiba. Isinya penuh dengan surat untuk majalah itu. Para penggemar Zeppelin menulis dari seluruh dunia. Surat-surat itu sebagian besar berisi fantasi, pertanyaan, cerita, dan ucapan terima kasih atas wawancara tersebut. Rolling Stone akhirnya bertaruh pada Led Zeppelin, terlambat memang, dan responsnya adalah “a whole lotta love”. Sebuah akhir yang manis, setelah perjuangan yang panjang dan penuh lika-liku. Sebuah bukti bahwa terkadang, sedikit keberanian, kebohongan, dan sereal bisa membawa Anda ke tempat yang tak terduga.


