Momen ketika teriakan “Daniel Farke, Daniel Farke” menggema dari tribun tandang, menandai kemenangan Leeds yang mengguncang, tidak hanya menjauhkan mereka enam poin dari Tottenham, tetapi juga semakin memperdalam jurang kegelapan sang rival. Ini adalah pertama kalinya Leeds meraup poin penuh di kandang Manchester United sejak Februari 1981, sebuah pencapaian monumental yang membuat publik Old Trafford terdiam.
Kekalahan ini mencatatkan nama Michael Carrick dalam sejarah sebagai manajer interim United yang pertama kali menelan kekalahan kandang. Pertandingan berjalan tanpa kendali berarti bagi tim tuan rumah, situasi yang diperparah oleh kartu merah konyol Lisandro Martínez pada menit ke-56. Aksi menarik rambut Dominic Calvert-Lewin berujung pada suspensi tiga laga, meski banding klub masih mungkin diajukan.
Sang Rambut yang Membawa Petaka
Sebelum kartu merah itu dikeluarkan, dua gol Noah Okafor sudah membawa Leeds unggul nyaman. Meskipun United sempat memberikan perlawanan, sundulan Casemiro di akhir laga hanya menjadi gol hiburan belaka. Jika tim asuhan Carrick diprediksi masih akan mengamankan tiket Liga Champions, Leeds justru melesat pulang dengan gegap gempita. Kemenangan atas Wolves di Sabtu nanti, ditambah jika Spurs gagal mengalahkan Brighton, bisa jadi tiket keluar Leeds dari zona degradasi.
Saat peluit kick-off dibunyikan, Leeds yang hanya tertinggal tiga poin dari Spurs di peringkat ke-18, kemungkinan besar sudah puas dengan hasil imbang seperti yang mereka raih di pertemuan sebelumnya pada Januari. Mengingat kemenangan liga terakhir mereka diraih pada 6 Februari, dan tujuh dari delapan laga tandang terakhir berakhir imbang (satu kalah), tiga poin di Old Trafford tampak seperti mimpi di siang bolong.
Namun, jalannya babak pertama justru menyajikan skenario sebaliknya. Manuel Ugarte, yang tampil inkonsisten sepanjang laga, kehilangan bola. Leeds dengan cepat membangun serangan dari sisi kiri melalui Gabriel Gudmundsson. Umpan silang sang wing-back berhasil disundul Calvert-Lewin dari jarak dekat, namun Senne Lammens masih sigap menepisnya.
Momentum positif Leeds berlanjut dalam lima menit berikutnya, kali ini dari sisi kanan. Jayden Bogle melewati hadangan Luke Shaw. Saat Ugarte mencoba menutup ruang, Bogle melepaskan umpan matang. Leny Yoro, secara tidak sengaja, menyentuh bola ke arah Okafor yang tanpa kawalan berhasil menceploskan bola ke gawang.
Momen ‘Grip of Death’ yang Kontroversial
Gol tersebut disambut Okafor dengan selebrasi santai tanpa banyak ekspresi, sementara para penggemar Leeds mengguncang stadion dengan nyanyian “marching on together” dan “Yorkshire, Yorkshire”. United tampak tersengat dan terpukul. Sebuah serangan balik melalui Noussair Mazraoui, Amad Diallo, dan Bruno Fernandes membawa mereka ke wilayah Leeds. Tembakan Diallo memaksa Karl Darlow terbang untuk menyelamatkan gawang. Tempo permainan United mulai meningkat, didukung sorak-sorai pendukung mereka di malam musim semi yang sejuk ini.
Carrick memasang Benjamin Sesko sebagai ujung tombak, menggantikan Bryan Mbeumo. Sesko berlari menusuk pertahanan usai menerima umpan terobosan dari Diallo. Namun, keraguannya dalam melepaskan tembakan membuat bola akhirnya hanya bergulir ke pelukan Darlow.
Pertandingan ini menjadi ajang adu transisi yang tidak disukai Carrick, yang sejatinya mendambakan kontrol penuh atas permainan. Pelatih berusia 41 tahun itu memasukkan Ugarte untuk kali pertama sejak Januari, menggantikan Kobbie Mainoo yang absen karena “masalah kecil”. Ketenangan dan kejelian Mainoo jelas dirindukan.
Leeds tampil dominan, terus memberikan ancaman nyata bagi tuan rumah. Gol kedua mereka lahir dari skema serupa. Sebuah serangan cepat di area penalti membuat Calvert-Lewin gagal menjangkau umpan silang Jayden Bogle. Bola liar disambar Brenden Aaronson, namun upayanya berhasil diblok.
Akhirnya, dari luar kotak penalti, Okafor mencetak gol keduanya. Tembakan jarak jauhnya membentur Yoro dan mengecoh kiper ke sisi kirinya. Carrick hanya bisa menunduk lesu, sementara Farke bersorak gembira. Para pendukung Leeds yang euforia kembali meneriakkan, “We are Leeds, we are Leeds”, menyaksikan kemenangan yang tak hanya indah tapi juga krusial.
United sempat menunjukkan secercah harapan ketika sebuah sepak pojok menghasilkan tembakan keras Matheus Cunha dari jarak jauh. Namun, minimnya pola serangan membuat upaya tersebut sia-sia. Justru, kegugupan yang melanda tim tuan rumah semakin memperkuat permainan fisik dan ngotot Leeds.
Lisandro Martínez, yang diturunkan menggantikan Harry Maguire yang absen, melakukan penyelamatan krusial di garis gawang untuk mencegah Ao Tanaka mencetak gol ketiga Leeds. Keunggulan 2-0 saat jeda membuat Leeds meninggalkan lapangan dengan rasa superior, sementara United terperosok lebih dalam.
Wasit dan ‘Penyelamatan’ Martinez
Carrick mungkin telah memberikan ‘wejangan’ yang kerap ia sebutkan saat dibutuhkan. Sesko nyaris mencetak gol tak lama setelah babak kedua dimulai. Umpan melengkung Shaw dari sisi kiri membawanya berhadapan dengan Darlow yang sigap keluar dari sarangnya, menggagalkan tembakan bersih sang penyerang. Leeds lolos dari ancaman.
Kemudian, malapetaka bagi Manchester United, ditambah sedikit unsur komedi. Martínez diusir keluar lapangan oleh wasit Paul Tierney setelah meninjau monitor di pinggir lapangan. Aksi mencengkeram rambut Calvert-Lewin dianggap cukup layak untuk kartu merah.
Carrick yang biasanya tenang terlihat murka – menyebutnya “keputusan mengejutkan”. Martínez sendiri menunjukkan ketidakpuasan yang mendalam. United harus bermain dengan sepuluh orang selama 34 menit sisa waktu normal. Casemiro harus turun membantu Yoro di lini pertahanan tengah. Namun, kombinasi keduanya, maupun sisa lini belakang, tak mampu membendung Gudmundsson yang leluasa menusuk dan melepaskan tembakan.
Meski gawang Lammens tidak benar-benar terancam, pertahanan Leeds sempat dibuat bekerja keras. Cunha mengontrol umpan chip dari Shaw dan melepaskan tembakan, namun Darlow kembali tampil gemilang. Laga berubah menjadi seperti pertandingan bola basket dengan tempo yang sangat cepat.
Sebuah secercah harapan muncul bagi United: Fernandes mengirimkan umpan silang matang yang diselesaikan dengan sundulan oleh Casemiro. Mbeumo masuk menggantikan Sesko dan bersama Cunha, mereka membuang beberapa peluang emas. Darlow kembali menggagalkan sundulan Sesko, sementara upaya Casemiro sempat diblok di garis gawang. Laga ditutup dengan tempo yang sangat tinggi.
Saat peluit akhir berbunyi, Farke langsung berlutut dan meraung. Baik dirinya maupun para pemainnya tahu betul betapa berharganya ketiga poin ini.


