Pernahkah merasa seperti sudah tidak sanggup lagi berada di proyek yang sama, bahkan jika itu proyek keren yang mengubah dunia? Bayangkan saja, kau pencipta mahakarya, tapi rasanya ingin lempar handuk dan melarikan diri ke pulau terpencil. Nah, Lou Reed, ikon rock yang satu itu, tampaknya merasakan vibe serupa saat 1970 tiba. Lebih dari sekadar lelah, ia memilih jalan ninja-nya sendiri, meninggalkan The Velvet Underground di puncak reputasinya untuk, percayalah, menjadi seorang jurutulis. Keputusan ini bukan hanya plot twist epik, melainkan juga cerminan dinamika rumit di balik panggung band legendaris.
Ketika Band Impian Berasa Jadi Proyek Skripsi yang Gak Kelar-Kelar
Pada tahun 1970, pintu keluarnya Lou Reed dari The Velvet Underground sebetulnya sudah terbuka lebar. Ini bukan kejutan mendadak, melainkan puncak dari serangkaian perpecahan yang terjadi bertahun-tahun sebelumnya. Produser sekaligus manajer Andy Warhol sempat dipecat oleh Reed setelah hanya satu album debut mereka, The Velvet Underground & Nico, pada tahun 1967. Setelah itu, Nico turut angkat kaki, disusul oleh salah satu pendiri, John Cale, pada tahun 1968 setelah album kedua, White Light/White Heat.
Dengan begitu, pada tahun 1970, core personel band tersisa Reed, gitaris Sterling Morrison, drummer Moe Tucker, dan bassist atau multi-instrumentalis Doug Yule. Formasi ini sudah cukup baik untuk menggarap album keempat mereka, Loaded. Namun, dinamika di balik layar tetap menunjukkan adanya keretakan yang semakin dalam.
Proses produksi album Loaded sendiri tidak berjalan mulus seperti yang dibayangkan. Moe Tucker, misalnya, tidak bisa berkontribusi penuh karena sedang cuti melahirkan anak pertamanya. Alhasil, bagian drum terpaksa diisi oleh musisi sesi, termasuk Billy Yule, adik dari Doug Yule. Sterling Morrison juga sibuk bolak-balik antara studio dan bangku kuliah untuk menyelesaikan studinya di New York City.
Segala kerumitan ini membuat Lou Reed merasa sangat jengah, jauh sebelum Loaded resmi dirilis pada November 1970. Bahkan, proses mixing akhir album diselesaikan tanpa kehadirannya. Dalam sebuah wawancara pada tahun 2004 dengan Classic Rock, Reed menekankan, “Pemicu utamanya sudah terjadi jauh sebelumnya.”
Reed kemudian menjelaskan bahwa konflik itu terkait dengan manajer, Steve Sesnick, yang menurutnya merasa lebih penting daripada para artis. Situasi ini, bagi Reed, adalah “hal yang mengerikan” dan selalu berujung buruk. Analogi tentang “manajer punya apartemen dan artis tidur di lantai di dekat perapian seperti anjing gembala” cukup menggambarkan rasa frustrasinya. Ia merasa Sesnick telah “menancapkan duri” antara dirinya dan Yule selama pengerjaan Loaded.
Label rekaman justru sangat excited dengan album baru itu, terutama karena lagu “Sweet Jane” dianggap punya potensi hits radio yang besar. Namun, Reed sama sekali tidak tertarik dengan ambisi komersial semacam itu. “Aku tidak seharusnya ada di sana,” ujarnya kemudian, seperti dikutip oleh Mojo. Ia menambahkan, “Aku tidak ingin menjadi grup pop national hit besar dengan banyak pengikut.”
Semua keruwetan itu mencapai puncaknya pada Agustus 1970. Setelah sekitar dua bulan menjalani residensi di Max’s Kansas City, New York City, Reed akhirnya tampil untuk terakhir kalinya bersama The Velvet Underground pada 23 Agustus. Ironisnya, pertunjukan perpisahan ini direkam oleh seorang teman Andy Warhol, Brigid Polk, dan kemudian dirilis sebagai album Live at Max’s Kansas City pada tahun 1972.
Setelah momen monumental itu, Lou Reed tidak mencari panggung baru atau project musik instan lainnya. Ia justru memilih untuk “menghilang” dari hiruk pikuk dunia musik. Reed kembali ke rumah orang tuanya di Long Island, seolah refreshing dari level game yang terlalu sulit.
Dari Panggung Legendaris ke Meja Jurutulis: Plot Twist Karir yang Tak Terduga
Keputusan Reed selanjutnya benar-benar membuat banyak orang terkejut, bahkan mungkin sampai menganga. Ia mengambil pekerjaan sebagai jurutulis di perusahaan ayahnya, sebuah pekerjaan yang jauh dari kesan glamor dunia rock and roll. Selain itu, ia juga mulai menulis puisi, bukan lagi lagu-lagu rock yang selama ini menjadi ciri khasnya.
Ini adalah salah satu life hack yang mungkin jarang diprediksi bisa menyelamatkan seorang rock star. “Ketika aku meninggalkan The Velvet Underground, aku langsung berkemas. Aku sudah muak,” jelas Reed kepada Rolling Stone pada tahun 1989. “Jadi, aku jadi jurutulis selama dua tahun. Ibuku selalu bilang saat aku SMA, ‘Kamu harus ikut les mengetik. Itu memberimu sesuatu untuk pegangan.’ Dia benar.”
Tentu saja, keputusan “pensiun” dini dari panggung rock ini disambut dengan skeptisisme. Banyak yang meragukan apakah Reed bisa kembali menciptakan karya sehebat dulu. “Mereka bilang aku tidak akan pernah menulis sesuatu sebagus ‘Heroin’,” katanya kepada jurnalis Paul Zollo pada tahun 2013. Keraguan ini terasa seperti boss battle terakhir yang harus ia hadapi sendirian.
Balas Dendam Paling Epic: Buktikan Haters Itu Salah (dengan Album Transformer)
Namun, seperti protagonis dalam kisah heroik, Reed berhasil membuktikan semua keraguan itu salah besar. Ia kembali ke dunia musik dengan gebrakan yang tak kalah dahsyat. Pada tahun 1972, album Transformer dirilis, sebuah mahakarya yang tidak hanya sangat berpengaruh dalam dunia glam rock, tetapi juga menempatkannya kembali di peta musik dunia. Album ini seolah menjadi pesan “aku kembali” yang savage bagi para peragu.
Selama periode setelah kepergiannya dari The Velvet Underground pada 1970, Reed bergulat dengan berbagai pertanyaan tentang masa depan bermusiknya. “Apakah aku ingin melakukannya sendiri? Apakah aku ingin punya band? Apakah aku hanya ingin menulis lagu, bahkan tidak naik panggung?” ujarnya kepada Rolling Stone. Pertanyaan-pertanyaan ini adalah fase pencarian jati diri yang sangat relatable bagi banyak orang.
Ketika Passion Lebih Penting Daripada Spotlight Kilat Hollywood
Reed mengakui bahwa ia adalah orang terakhir di dunia yang mengira dirinya akan berada di atas panggung. “Beberapa orang sangat suka sorotan. Aku tidak,” ungkapnya. Baginya, yang terpenting adalah esensi lagu dan cara menyajikannya kepada orang-orang yang mengapresiasinya. Ini menunjukkan bahwa baginya, inti dari bermusik adalah passion terhadap karya, bukan popularitas semata.
Kisah Lou Reed meninggalkan The Velvet Underground pada tahun 1970 adalah pengingat kuat bahwa terkadang, reset total adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan esensi diri. Meskipun sempat menjalani side quest sebagai jurutulis dan menghadapi gelombang keraguan, ia membuktikan bahwa visi artistik sejati akan selalu menemukan jalannya. Pada akhirnya, yang terpenting bukan di mana seseorang berada, melainkan kesetiaan terhadap panggilan jiwanya, terlepas dari gemerlap panggung atau bisikan para haters.


