Ketika salah satu mahakarya Metallica akan merayakan ulang tahun ke-30 tahun depan, banyak yang mungkin menduga itu adalah sebuah album klasik dari era 80-an. Namun, kejutan datang dari Load, album yang justru menjadi subjek perbincangan panas. Baru-baru ini, sebuah versi remastered dari permata kontroversial ini telah dirilis, memicu kembali diskusi di kalangan penggemar setia. Kemunculan versi remastered ini, lengkap dengan segudang demo dan rekaman live yang mungkin sudah banyak beredar, seolah mengundang para penikmat musik untuk kembali membuka lembaran lama. Fenomena ini, yang terkadang membuat versi album asli tenggelam di antara edisi-edisi bloated di platform streaming, justru menjadi pemicu untuk memahami kembali mengapa album ini, terlepas dari segala pro dan kontranya, tetap layak mendapatkan perhatian. Bahkan, artikel ini mungkin akan menjadi salah satu catatan terhebat yang mengabadikan “beban” besar Metallica, mengingatkan bahwa ada kalanya Give in to Your Anger adalah respons paling otentik terhadap sebuah karya seni.
Ketika Masa Lalu Mendatangi Kita: Alarm 30 Tahun ‘Load’
Pada dekade 90-an, sebuah transformasi aneh mulai menyelimuti Metallica, dimulai dengan kolaborasi bersama Bob Rock dan rilisnya “Black Album” yang sukses luar biasa. Album tersebut secara efektif membelah basis penggemar menjadi dua kubu, sembari menarik jutaan penonton baru ke panggung-panggung arena di seluruh dunia. Lima tahun setelah kesuksesan masif itu, muncul antisipasi ganjil mengenai arah musik Metallica selanjutnya. Pertanyaan besar menggantung di udara: apakah mereka akan melanjutkan jalur mainstream ini, atau kembali ke akar thrash seperti era “…And Justice for All”?
Yang terjadi selanjutnya justru mengguncang dunia musik, terutama para puritan metal. Anggota band memotong rambut mereka dan bahkan mengenakan mascara, sebuah keputusan yang seartinya tabu bagi ikon metal saat itu. Anak-anak muda era 80-an merasakan gejolak penolakan yang kuat, seakan identitas mereka terkoyak. Di sisi lain, generasi 90-an justru menyambutnya dengan antusiasme, karena mereka tidak hanya mendapatkan satu, melainkan dua album baru dalam rentang waktu dua tahun.
Meskipun demikian, pertanyaan tentang identitas metal Metallica tetap mengemuka, mengingat sampul album baru mereka dilapisi darah dan air mani. Sementara sebagian besar remaja saat itu berbohong kepada orang tua mereka tentang karya seni yang dianggap kurang pantas, satu hal menjadi jelas. Metallica yang dikenal dan dicintai, yang tumbuh dari budaya tape trading bawah tanah, telah tiada. Era radio rock pun dimulai, menandai pergeseran signifikan dalam lanskap musik mereka.
Load menjadi penanda awal dari melodi-melodi yang lebih “menyenangkan” dan chorus yang adiktif, karakteristik yang jelas terdengar pada lagu-lagu seperti “2×4”, “Until It Sleeps”, dan “King Nothing”. Namun, album ini juga menjadi awal mula fenomena album yang dipenuhi filler, yang sebenarnya bisa mendapatkan “potongan rambut” atau penyaringan. Bayangkan saja, jika lagu-lagu terbaik dari Load dan Reload digabungkan, mungkin akan tercipta sebuah album tunggal yang solid dan tanpa cela.
Alih-alih menyajikan satu karya padat, para penggemar justru “dipaksa” melewati dua album dengan lebih dari selusin lagu di masing-masingnya, serta durasi total sekitar dua setengah jam. Meskipun demikian, di antara kedua album tersebut, Load bisa dibilang telah menua dengan lebih baik. Album ini membawa konsep-konsep menarik yang tidak terduga dari James Hetfield dan kawan-kawan, seperti lagu “Ronnie” yang sering diremehkan, di mana Hetfield menyuguhkan narasi yang gelap.
Cat Rambut dan Mascara: Transformasi yang Menggoncang Dunia Metal
Load juga menjadi momen pertama band ini menulis lagu dalam kunci mayor melalui “Hero of the Day” yang liriknya menawan. Keanehan album ini justru menjadi daya tarik utamanya, sebuah cerminan dari era tersebut. Fenomena ini tidak hanya dialami Metallica, mengingat banyaknya band klasik era 80-an yang “tersedot” ke dalam mentalitas MTV yang dominan di dekade 90-an. Pergeseran tersebut menjadi bukti bahwa adaptasi, bahkan yang paling kontroversial sekalipun, adalah bagian tak terhindarkan dari perjalanan artistik.
Band ini juga mulai bereksperimen dengan lagu penutup yang lebih panjang, mengingatkan pada era awal seperti “Ride the Lightning”, meskipun “The Call of Ktulu” jauh lebih ramping dibandingkan “The Outlaw Torn” dari Load. Terlepas dari perbandingan tersebut, “The Outlaw Torn” tetap menjadi salah satu lagu paling berkesan di album ini. Meskipun seringkali bertele-tele di bagian tengah, klimaksnya terbayar lunas, dan riff penutupnya menjadi pengikat yang apik bagi lagu pembuka album.
Lagu lain dengan durasi serupa adalah “Bleeding Me” yang sering kali kurang dihargai. Perjalanan emosional yang ditawarkan “Bleeding Me” merupakan salah satu yang terbaik dalam eksplorasi pikiran gelap Hetfield. Ini adalah sebuah karya yang secara mengejutkan kuat, mampu mengoyak emosi pendengarnya menjadi serpihan. Sebuah ungkapan yang sulit digunakan untuk “Mama Said”, lagu yang membawa pendengar dari jalanan aspal menuju jalan gurun berdebu, lengkap dengan kuda dan suasana country.
Lagu “Mama Said” konon hampir tidak masuk ke dalam album, namun entah mengapa dianggap cukup baik untuk dibuatkan video musik. Hal ini cukup menggelikan, karena anggota band lainnya hanya tampil sebagai cameo, menyaksikan Hetfield mengendarai kuda menuju matahari terbenam dengan topi koboi dan sepatu botnya. Sisa album ini, secara umum, dipenuhi dengan filler, interlude yang merusak mood, crooning yang tidak perlu, dan penggunaan talk box yang khas era 90-an pada lagu “The House Jack Built”.
Album Berisi Filler atau Eksperimen Jenius? Dilema ‘Load’ dan ‘Reload’
Seperti halnya ulasan tentang “St. Anger”, tidak ada yang secara eksplisit meminta pembahasan mendalam tentang salah satu album Metallica yang diproduseri Bob Rock ini. Meskipun album ini bukan metal murni atau Metallica era 80-an, jelas bahwa zaman telah berubah secara drastis. Setelah kesuksesan besar yang diraih band dengan album self-titled mereka, apakah layak menyalahkan mereka karena mengambil arah musik yang berbeda? Mungkin saja tidak.
Dari Kisah Pembunuhan Berseri hingga Koboi Kesepian: Sisi Lain Hetfield
Meskipun banyak metalhead yang mencemooh Load, album ini bukanlah sebuah kegagalan finansial. Para remaja pada masanya berbondong-bondong membeli album ini, tertarik pada riff yang groovy dan bluesy, serta emosi personal yang tersirat dalam lirik Hetfield. Meskipun ada banyak kekurangan, termasuk penggunaan pedal wah-wah yang berlebihan hingga band memutuskan untuk menghilangkan solo gitar di “St. Anger”, banyak yang akan memutar album berdurasi panjang ini lebih sering daripada rilis kontemporer lainnya. Setidaknya, Metallica tidak melakukan kolaborasi hip-hop seperti Anthrax.
Era Baru yang Tak Terbendung: Saat Metallica Acuh Tak Acuh dengan Komentar Fans
Load dan Reload mungkin bukan album yang diharapkan oleh setiap penggemar, tetapi, suka atau tidak, Load menandai dimulainya era baru bagi Metallica. Mereka seolah tidak peduli dengan apa yang dipikirkan para penggemar, melangkah maju dengan visi artistik mereka sendiri. Jadi, luangkan waktu untuk mendengarkan versi remastered yang jernih, kenang kembali masa-masa kejayaan, dan hindari melampiaskan kebencian pada Metallica. Pada akhirnya, era ini mengajarkan bahwa evolusi, sekontroversial apa pun, adalah bagian tak terhindarkan dari sebuah perjalanan legendaris.


