Mungkin ada yang berpikir mempelajari bahasa Mandarin itu seperti mencoba memecahkan kode kuno yang hanya bisa diakses oleh para biksu di puncak gunung es, sebuah misi yang mustahil bagi kebanyakan orang. Namun, ternyata di Singapura, beberapa jiwa petualang justru sengaja terjun ke ‘dunia’ bahasa dan budaya Tiongkok, bahkan ketika latar belakang mereka sama sekali tidak ‘berbau’ oriental. Cerita ini bukan sekadar tentang belajar bahasa; ini adalah saga tentang keberanian, eksplorasi identitas, dan bagaimana sebuah minat bisa membuka pintu ke peluang yang tak terduga, bahkan jika itu berarti membuat nenek buyut sedikit terkejut.
Kisah berani ini salah satunya datang dari Syakirah Dahiyah Sudanto, seorang mahasiswa di Ngee Ann Polytechnic (NP). Lahir dan besar di keluarga Melayu, Syakirah berkenalan dengan Mandarin sejak prasekolah internasional, sebuah keputusan strategis dari ibunya. Sang ibu berpikir bahwa menguasai bahasa ketiga, di samping Inggris dan Melayu, akan membuka banyak pintu. Ini bukan hanya tentang peluang kerja, tetapi juga tentang memperkaya pengalaman hidup secara keseluruhan.
Syakirah kini mencatatkan sejarah sebagai mahasiswa Melayu pertama yang menempuh Studi Tiongkok di NP. Program diploma tersebut, yang merayakan ulang tahun ke-20 pada bulan Agustus lalu, kini telah menjadi bagian dari perjalanannya. Ia adalah anak bungsu dari dua bersaudara, dan juga orang pertama di keluarganya yang memilih bahasa Mandarin sebagai Bahasa Ibu di tingkat sekolah dasar dan menengah. Minatnya pada bahasa tersebut begitu besar sehingga ia memutuskan untuk menyelaminya lebih dalam di politeknik.
Apa yang membuat seorang gadis Melayu jatuh cinta pada budaya Tiongkok? Syakirah mengaku tertarik pada misteri yang menyelimuti budaya Tiongkok. Ia terpesona oleh cerita-cerita di balik setiap perayaan, misalnya, narasi di balik Festival Lampion yang penuh makna. Tampaknya, ia menganggap setiap elemen budaya Tiongkok seperti sebuah teka-teki kuno yang menarik untuk dipecahkan.
Bukan Cuma Ngomong, Tapi Ngerti Jiwa
Ngee Ann Polytechnic memegang status unik sebagai satu-satunya politeknik di Singapura yang menawarkan program Studi Tiongkok. Program ini mencakup sejarah, budaya, sastra, dan terjemahan Tiongkok secara komprehensif. Sebagian besar perkuliahan, sekitar 70 persen, disampaikan dalam bahasa Mandarin, sementara 30 persen sisanya menggunakan bahasa Inggris. Diluncurkan pada tahun 2005, diploma ini dirancang untuk membekali mahasiswa dengan talenta bilingual, kefasihan budaya, dan konektivitas bisnis.
Setiap tahun, program ini menerima sekitar 50 mahasiswa baru, dan hingga kini, lebih dari 900 lulusan telah dihasilkan. Penerimaan mahasiswa didasarkan pada kriteria O-level untuk bahasa Mandarin, bahasa Inggris, serta mata pelajaran lainnya. Menariknya, di tahun kedua, mahasiswa dapat memilih spesialisasi antara jalur pendidikan atau bisnis. Jalur pendidikan melatih mereka menjadi guru sekolah dasar, sementara jalur bisnis fokus pada praktik bisnis Tiongkok, komunikasi, terjemahan, serta manajemen acara dan proyek.
Syakirah, yang memilih jalur bisnis, menggunakan setiap kesempatan untuk mempraktikkan Mandarin dengan teman-teman sekelasnya. Ia menyadari pentingnya latihan konsisten karena di rumah, ia tidak menggunakan bahasa tersebut. Selain itu, ia memanfaatkan aplikasi pertukaran bahasa seperti HelloTalk untuk mengasah kemampuan berbicara dan melatih aksennya dengan penutur asli. Meskipun ia tidak terlalu mengikuti budaya pop Tiongkok, filosofi hidupnya sangat terinspirasi oleh sebuah idiom Tiongkok.
Ia sangat percaya pada shui di shi chuan, yang secara harfiah berarti ‘tetesan air menembus batu’. Idiom ini mengajarkan bahwa dengan usaha yang konsisten dan ketekunan, seseorang pasti akan mencapai terobosan. Filosofi ini tampaknya menjadi kunci baginya dalam menghadapi setiap tantangan. Syakirah berharap untuk melanjutkan studi politik di universitas, dan masih mempertimbangkan berbagai pilihan karir di masa depan.
Multikulturalisme Level Sultan: Jurusan Tiongkok Punya Cerita
Tidak hanya Syakirah, ada juga Darshnee Abigail Arasu, mahasiswa tahun pertama di program Studi Tiongkok yang sama. Ia adalah mahasiswa Tionghoa-India pertama di program ini, dan ia memulai kuliahnya pada bulan April. Darshnee, yang berusia 19 tahun, memiliki ayah berdarah India dan ibu berdarah Tionghoa. Ia tumbuh besar di rumah nenek dari pihak ibu, di mana bahasa Mandarin menjadi bahasa sehari-hari.
Darshnee memiliki pengalaman unik mengenai identitas. Ia mengaku sempat mengalami kebingungan identitas saat sekolah dasar, bertanya-tanya tentang siapa dirinya dan mengapa. Namun, sebuah komentar dari teman sekelasnya di sekolah menengah pertama yang mengatakan bahwa berdarah campuran itu “keren” mengubah pandangannya. Ia menyadari bahwa menjadi bagian dari keluarga multiras adalah sesuatu yang spesial di mata orang lain.
Kini, Darshnee dengan bangga menyatakan bahwa tumbuh di keluarga multiras memungkinkannya mencintai kedua budaya. Ia bisa memahami lebih banyak hal dibandingkan teman-temannya, bahkan merayakan Tahun Baru Imlek dan Deepavali dengan kedua belah keluarga. Momen-momen perayaan ini menjadi bukti nyata bagaimana kedua sisi keluarganya bersatu dan merayakan sebagai “satu keluarga besar.” Darshnee juga memiliki ambisi untuk menjadi guru bahasa Mandarin di sekolah menengah, berharap bisa menjadi panutan bagi siswa non-Tionghoa atau multiras.
Ia ingin menunjukkan kepada mereka bahwa latar belakang atau ras apa pun tidak menjadi penghalang asalkan ada cinta dan semangat yang tulus untuk bahasa Mandarin. Pesan Darshnee ini seolah menegaskan bahwa pintu pembelajaran bahasa selalu terbuka lebar. Direktur School of Humanities and Interdisciplinary Studies di politeknik tersebut, Sandra Toh, menjelaskan bahwa pendaftaran siswa seperti Syakirah dan Darshnee menunjukkan relevansi diploma ini. Program tersebut melatih talenta bilingual dan bicultural yang diharapkan dapat berkontribusi pada wilayah berbahasa Tiongkok dan membangun koneksi antara Singapura dan kawasan.
Dari Kelas ke Karir: Menguasai Dunia dengan Bahasa Mandarin
Neo Keng Hwee, seorang dosen Studi Tiongkok yang mengajar modul terjemahan, memuji Syakirah dan Darshnee atas sikap belajar mereka yang baik. Di kelasnya, Syakirah sering berbagi contoh terjemahan dari bahasa Inggris ke bahasa Melayu, memperkaya diskusi. Pak Neo menjelaskan bahwa pemahaman prinsip-prinsip terjemahan ini membantu mahasiswa menjadi komunikator antarbudaya yang lebih kompeten. Ini bukan sekadar tentang menguasai bahasa, tetapi juga tentang memahami norma-norma budaya yang mendalam.
Modul-modul tentang Tiongkok kontemporer, sejarah Tiongkok, dan budaya Tiongkok juga membekali mahasiswa dengan kemampuan untuk terhubung dengan orang-orang di berbagai tempat. Mereka bisa lebih lancar berinteraksi di Tiongkok, Hong Kong, dan Taiwan. Ketika ditanya apakah ia berharap melihat lebih banyak mahasiswa non-Tionghoa atau multiras dalam kursus ini, Pak Neo menjawab dengan lugas. Ia menyambut siswa yang penuh semangat, memiliki minat tulus, dan memenuhi prasyarat yang ada.
Harmoni rasial di Singapura juga menjadi topik refleksi bagi Syakirah. Menurutnya, penting bagi setiap individu untuk mendidik diri sendiri tentang berbagai budaya yang ada. Ini bisa berarti mempelajari apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, atau menyelami cerita-cerita di balik sebuah budaya. Selain itu, mengembangkan rasa empati dan pemahaman sangat krusial agar masyarakat lebih terbuka untuk mendengarkan berbagai perspektif dan pengalaman.
Pada akhirnya, kisah-kisah seperti Syakirah dan Darshnee bukan sekadar anomali dalam daftar mahasiswa. Mereka adalah bukti nyata bahwa di era yang semakin terhubung ini, batas-batas budaya bisa dilebur oleh rasa ingin tahu dan semangat belajar. Kemampuan untuk menavigasi berbagai budaya bukan lagi sekadar nilai tambah, tetapi sebuah keunggulan super yang membuka cakrawala tak terbatas, baik dalam karir maupun dalam memahami kompleksitas dunia.


