Panggung raksasa bernama game open-world kini jadi medan perang para developer. Sejak Grand Theft Auto 3 memecahkan rekor dan menetapkan standar, banyak studio berlomba menciptakan dunia virtual yang luas dan membebaskan. Rockstar Games, dengan GTA dan Red Dead Redemption, adalah arsitek ulung di genre ini, membangun kebebasan pemain sebagai fondasi utama. Namun, di tengah gemerlap peta yang semakin membentang, muncul suara dari Bethesda yang mengklaim punya formula yang lebih superior dalam merangkai pengalaman open-world. Pernyataan ini tentu saja memicu debat sengit di kalangan gamer: siapa sebenarnya sang raja dunia terbuka?
Dunia game open-world di abad ke-21 seolah menjadi kanvas raksasa yang tak terbatas. Setelah Grand Theft Auto 3 mengukir sejarah, geliat pengembang untuk menciptakan pengalaman serupa semakin membara. Setiap studio berlomba mendorong batas imajinasi, menggarap lingkungan virtual yang monumental. Rockstar Games, sebagai salah satu pionir, senantiasa menjadi tolok ukur dalam genre ini. Judul-judul mereka, seperti GTA dan Red Dead Redemption, menawarkan ilusi kebebasan absolut, membiarkan pemain merasa bisa melakukan apa saja di dalam dunia yang mereka ciptakan.
Tak banyak pengembang yang mampu menyamai ambisi skala besar Rockstar. Namun, Bethesda Game Studios membuktikan diri sebagai anomali. Studio di balik seri Elder Scrolls dan Fallout modern ini juga piawai dalam merancang dunia yang adaptif. Fleksibilitas dalam setiap langkah pemain menjadi kunci, menciptakan pengalaman yang unik bagi setiap individu yang tenggelam di dalamnya. Ini merupakan kontras yang menarik dalam desain game open-world. Kedua raksasa pengembang ini sama-sama menciptakan dunia imersif di mana keputusan pemain memengaruhi jalannya cerita, namun plot utama tetap berfungsi sebagai rambu-rambu penuntun agar narasi tidak kehilangan momentum. Keduanya mengambil pendekatan berbeda terhadap ide dasar yang sama, dan pandangan mereka terhadap hal ini jelas terlihat.
Bethesda versus Rockstar: Perspektif Mantan Eksekutif Bethesda
Pete Hintes, mantan eksekutif Bethesda yang telah mengabdi selama lebih dari dua dekade, baru-baru ini melontarkan pandangan yang cukup provokatif dalam wawancara dengan Firzide Chat. Saat membela produk-produk dari studionya, Hintes berargumen bahwa sedikitnya bug minor adalah harga yang pantas dibayar demi ambisi besar yang diusung pengembangnya. Ia menantang: “Siapa lagi di luar sana yang memungkinkan pemain menumpuk satu misi setelah misi lain secara on the fly sambil bebas pergi ke mana saja dan melakukan apa saja? Coba lakukan itu di Red Dead Redemption 2.” Hintes menjelaskan bahwa game-game dari Rockstar dan pengembang lain cenderung memaksa pemain untuk fokus pada satu misi dalam satu waktu. Meskipun pemain bisa berganti haluan, game tersebut harus melakukan penyesuaian signifikan.
Sebaliknya, Hintes memuji pendekatan Bethesda yang merangkul kebebasan pemain untuk menciptakan kekacauan. “Tidak ada yang memberikan tingkat kebebasan seperti itu. Tidak ada yang bilang, masuklah ke ruangan penuh senjata, lemparkan mantra atau granat, dan saksikan semuanya beterbangan. Mereka tidak melakukan itu,” ungkapnya. Pernyataan ini cukup berani, mengingat lanskap game open-world yang semakin kompetitif. Judul-judul seperti Kingdom Come: Deliverance II dan Baldur’s Gate 3 menunjukkan bagaimana genre sandbox open-world semakin berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, dengan GTA VI yang akan datang diprediksi akan mendorong batasannya lebih jauh lagi. Namun, Hintes punya poin valid mengenai cara unik Bethesda dalam mendekati konsep open-world, dengan fokus utama pada pemberdayaan pemain untuk melakukan apa saja dan melihat konsekuensinya di dalam dunia game.
Siapa Pemimpin Dunia Terbuka Sejati?
Pada dasarnya, perdebatan sengit antara Bethesda dan Rockstar ini mengerucut pada preferensi pribadi. Kedua studio memang tenar berkat pendekatan mereka terhadap gameplay open-world, namun perbedaan terletak pada eksekusi spesifiknya. Bagi Rockstar, dunia game diciptakan untuk menghadirkan pengalaman otentik dan tanpa batas. Artinya, pemain secara teoritis bisa pergi ke mana saja dan melakukan apa saja. Akibatnya, taruhan dalam game bisa terasa lebih ringan. Pemain bisa menghancurkan konvoi, menghadapi gerombolan polisi, dan pada akhirnya menganggapnya sepele setelah singgah ke rumah sakit. Judul-judul dari Rockstar Games, seperti Grand Theft Auto Online, benar-benar mewujudkan konsep sandbox, di mana pengalaman pemain diserahkan sepenuhnya pada imajinasi mereka. Meskipun narasi sentralnya seringkali sangat menarik dan didorong oleh karakter yang kompleks, kenikmatan penuh dari game ini baru terasa ketika pemain meninggalkan alur cerita utama dan mulai menciptakan kisah mereka sendiri.
Berbeda halnya dengan game Bethesda, yang cenderung menempatkan pemain tetap pada jalur naratif, dengan dunia terbuka yang berevolusi sebagai respons terhadap tindakan dan pilihan pemain. Fallout akan menawarkan sejuta hal untuk dilakukan pemain, dan jalur yang dipilih pemain akan menjadi cerita sentral dari petualangan unik mereka. Meskipun penulisan dan penceritaan spesifiknya mungkin tidak setara dengan standar Rockstar, kemampuan untuk membentuk petualangan secara penuh berdasarkan perspektif pemain terkadang menghasilkan cerita yang lebih mudah dicerna. Ini lebih mirip petualangan open-world daripada sandbox murni, di mana segala sesuatu bisa terjadi namun semuanya tetap mengabdi pada jalur yang ditentukan pemain. Terdapat kedalaman teknis yang lebih besar pada dunia yang diciptakan Bethesda, namun hal ini juga berarti gamenya terkadang terasa sedikit “goyah” dalam desainnya jika dibandingkan dengan polesan kilau dari Rockstar.
Kedua perusahaan telah menghasilkan dunia open-world yang paling berdampak dan diterima dengan baik dalam kancah gaming modern. Keduanya juga membawa sentuhan khas mereka yang unik ke dalam game, menyoroti berbagai cara pengembang dapat mendekati mekanika umum yang mendasarinya. Pada akhirnya, semuanya kembali kepada pemain. Penulis artikel ini, misalnya, menghargai narasi sentral dari judul-judul Rockstar, namun jauh lebih tertarik pada game seperti Fallout 4 daripada GTA, justru karena petualangan open-world di dalamnya masih terasa seperti sebuah narasi yang spesifik. Di sisi lain, banyak orang yang merasa game tersebut justru kewalahan dengan banyaknya opsi dan lebih memilih kesempatan untuk mengukir petualangan mereka sendiri di dunia Red Dead Redemption 2. Preferensi ini menegaskan bahwa keunggulan sejati dunia terbuka tidak mutlak, melainkan sebuah spektrum yang diisi oleh interpretasi unik setiap gamer.


