Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Mariah Carey: Tiga Kali Nominasi Rock and Roll Hall of Fame, Masih Dicap “Haters”?

Nominasi beruntun untuk Rock and Roll Hall of Fame ibarat haters versi mewah yang datang tiga kali berturut-turut tanpa pernah benar-benar diundang masuk ke pesta utama. Mariah Carey, sang ratu balada pop yang entah bagaimana terus-menerus bersinggungan dengan dunia rock, tampaknya punya penjelasan sendiri soal statusnya yang masih “calon tamu kehormatan”. Bukan soal bakat, bukan pula soal kontribusi, melainkan lebih kepada sebuah teka-teki eksistensial yang membingungkan: “Aku tidak tahu jawabannya,” ujarnya santai, sembari tertawa kecil, seolah pengakuan berulang ini hanyalah sebuah kejutan tak terduga yang datang dari dimensi lain. Fakta bahwa ia telah dinominasikan pada tahun 2024, 2025, dan kini untuk angkatan 2026, bersama jajaran nama mentereng seperti Lauryn Hill, Shakira, Phil Collins, Wu-Tang Clan, Luther Vandross, Pink, dan Jeff Buckley, justru menambah lapisan misteri. Ini bukan sekadar pencapaian biasa; ini adalah sebuah fenomena yang membingungkan sekaligus mengagumkan, sebuah saga nominasi yang terus bergulir tanpa kejelasan kapan pesta sesungguhnya akan dimulai.

Terjebak di Lorong Penghargaan

Status three-peat nominee ini memang bukan perkara enteng. Meskipun kemasyhuran Carey sudah jauh melampaui batas genre yang kaku, pengakuan formal dari institusi sekelas Rock and Roll Hall of Fame seolah menjadi validasi pamungkas. Namun, alih-alih gelisah menunggu keputusan akhir, Carey justru terlihat santai, menikmati panggung-panggung lain yang lebih pasti. Tahun ini saja, ia telah mencatatkan penampilan di Olimpiade Musim Dingin dan menerima penghargaan MusiCares’ Person of the Year, sebuah acara yang dipenuhi oleh para musisi papan atas seperti Jennifer Hudson, Adam Lambert, dan Charlie Puth yang membawakan ulang hits-hitsnya. Puncaknya, kejutan hadir dari penampilan Foo Fighters bersama Taylor Momsen membawakan lagu-lagu dari album grunge-nya yang belum dirilis, “Someone’s Ugly Daughter”, di bawah bendera band Chick. Momen ini, bagaimanapun, menjadi pengingat bahwa akar musik Carey memang lebih luas dari sekadar pop gemerlap.

Saat para pemilih Hall of Fame sibuk membolak-balik daftar kandidat menjelang pengumuman April, Carey menyempatkan diri untuk berdiskusi soal rencananya merilis “Someone’s Ugly Daughter” versi final, menyambut ulang tahun ke-25 album “Glitter” yang penuh kontroversi, dan tentu saja, soal statusnya yang berulang kali masuk daftar panjang nominasi Rock and Roll Hall of Fame. Ini bukan hanya soal penghargaan, tetapi juga refleksi perjalanan karier yang penuh liku, dari status diva pop hingga kilasan jiwa rocker yang tersembunyi.

“Haters” atau Sekadar Kebetulan?

Ditanya soal nominasi beruntun ini, Carey hanya tersenyum simpul. “Rasanya luar biasa,” ujarnya. “Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, dan itu sangat, sangat hebat.” Tidak ada tanda-tanda kesombongan, hanya apresiasi tulus terhadap proses yang terus berlanjut. Namun, ketika ditanya makna sebuah induksi ke Hall of Fame di titik kariernya saat ini, jawabannya lebih mengalirkan ketidakpastian yang dibalut optimisme. “Akan luar biasa, tapi ya sudahlah,” katanya, seolah menganggapnya sebagai bonus yang menyenangkan, bukan tujuan akhir yang mutlak. Sikap ini mungkin berasal dari pengalaman panjangnya memenangkan berbagai penghargaan; ekspektasi adalah barang mewah yang sulit dipegang ketika hasil akhirnya seringkali tak terduga. “Kadang aku berpikir, ‘Ah, mungkin tidak akan terjadi’,” akunya, menggambarkan ketidakpercayaan yang realistis namun tetap membuka ruang untuk kejutan manis.

Fokus utama perhatian dalam percakapan ini adalah penampilannya di MusiCares, di mana Foo Fighters dan Taylor Momsen membawakan lagu-lagu dari era grunge Chick. “Itu hal terbaik. Pernah. Sungguh hal terbaik,” serunya, antusiasme terpancar jelas. Ia mengaku sangat bersemangat menyaksikan penampilan tersebut, sebuah momen yang ia gambarkan sebagai salah satu pengalaman terbaik yang pernah ada. Ketika ditanya apakah ada keinginan untuk bergabung di atas panggung, Carey dengan tegas menolak. “Tidak, mereka melakukannya dengan sangat baik,” tuturnya. Baginya, menyaksikan mereka membawakan lagu-lagu Chick adalah sebuah kehormatan tersendiri, sebuah pengingat akan bagian dari dirinya yang mungkin sering terlupakan di tengah gemerlap pop.

Proyek Tersembunyi dan Kilau yang Tertunda

Perbincangan kemudian beralih ke “Someone’s Ugly Daughter”. Peluang untuk mendengarkan versi vokal utama Carey pada album tersebut masih menjadi pertanyaan. “Aku ingin ini terjadi, tapi ya, harus menunggu,” katanya enigmatik. Ketika didesak mengenai hambatan, ia hanya tertawa. “Aku tidak tahu. Aku benar-benar harus menunggu sebentar dan merilisnya. Dan aku akan melakukannya.” Ada semacam misteri di balik penundaan ini, sebuah proses yang tampaknya lebih rumit dari sekadar keputusan rekaman biasa. Ini mengisyaratkan adanya pertimbangan strategis atau mungkin kompleksitas produksi yang belum terurai.

Tak kalah menarik adalah perayaan 25 tahun album “Glitter” yang akan datang. Hilangnya album ini dari layanan streaming baru-baru ini memicu spekulasi tentang rencana perilisan ulang atau edisi deluxe. Carey mengonfirmasi adanya rencana tersebut, meski detailnya masih samar. “Ada rencana untuk edisi deluxe dan reissue, atau mungkin hanya salah satunya, aku tidak tahu,” ujarnya. Namun, ia meyakinkan bahwa timnya sedang menanganinya dan ia sendiri sangat antusias. Penggemar pun berharap agar video musik dari era tersebut, seperti untuk “Don’t Stop (Funkin’ 4 Jamaica)”, turut diremaster. “Sebenarnya, itu akan sangat bagus,” kata Carey, menyambut ide tersebut dengan antusiasme yang sama. Diskusi ini menegaskan kembali bagaimana karya-karya lamanya, bahkan yang pernah dianggap gagal, kini mendapatkan apresiasi baru dan berpotensi dihidupkan kembali.

Hubungan Carey dengan “Glitter” sendiri telah mengalami transformasi dramatis. Dulu ia mengaku membencinya, mempertanyakan keputusannya sendiri. “Aku dulu sangat seperti, mengapa aku melakukan itu?” kenangnya. Namun, seiring waktu, album tersebut bertransformasi menjadi sesuatu yang ia cintai, seolah memiliki kehidupan sendiri. Perubahan persepsi ini datang setelah album tersebut, yang sempat dicap sebagai “kegagalan bencana”, justru mendapatkan cinta dari para penggemar yang mendorongnya kembali ke tangga lagu. Bagi Carey, “Glitter” adalah pengingat akan masa-masa sulit, namun juga bukti ketahanan sebuah karya seni untuk menemukan jalannya sendiri di hati pendengar.

Proyek Musik yang Terus Mengalir

Di luar proyek-proyek nostalgia, Carey tidak pernah berhenti berkreasi. Meskipun baru saja merilis “Here For It All”, ia terus aktif merekam musik baru. “Aku pasti sedang merekam musik baru dan aku sangat antusias tentang itu,” ungkapnya. Siklus kreatif ini seolah menjadi napasnya; ia selalu dalam proses pembuatan lagu baru, berharap karya-karyanya akan diterima dengan baik. Ketika ditanya apakah ada rencana untuk merilis album penuh, ia hanya tertawa, menyadari bahwa pernyataan semacam itu terkadang menimbulkan reaksi berlebihan dari para penggemar yang sudah tidak sabar menanti.

Proses kreatif yang tak pernah berhenti ini, ditambah dengan eksplorasi genre yang luas, semakin mempertegas posisi Carey sebagai seniman yang terus berevolusi. Nominasi Hall of Fame, meskipun masih menggantung, menjadi semacam pengakuan atas jejak rekamnya yang monumental. Namun, bagi Carey sendiri, tampaknya kepuasan terbesar datang dari proses penciptaan itu sendiri, dari kemampuan untuk terus berinovasi dan menghubungkan diri dengan audiens melalui melodi dan lirik. Entah itu melalui balada pop yang menyentuh hati, sentuhan grunge yang terpendam, atau kilauan album yang sempat diremehkan, Mariah Carey terus membuktikan bahwa ia adalah kekuatan yang patut diperhitungkan dalam lanskap musik global.

Previous Post

Kylie Jenner: Tetap Muda, Punya Anak Lagi Di Ujung 20an

Next Post

Fanatical Spring Sale: Beli Game Murah, Dompet Tetap Utuh

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *