Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Menopause Mengintai Jiwa: Tiga Perempat Wanita Tak Sadar Ancaman Psikologis

Sepertinya kaum hawa di Inggris sedang berada dalam mode ‘tidak tahu apa-apa’ level akut, pasalnya hampir tiga perempat dari mereka tak sadar kalau menopause bisa menyeret mereka ke jurang penyakit mental baru. Mirip kayak kebanyakan orang yang baru sadar pentingnya skincare pas udah jerawatan parah. Riset baru nih, yang bikin badan medis besar di sana sampai mengeluarkan pernyataan posisi pertama khusus soal menopause dan kesehatan mental. Keren kan, sampai harus dikasih tahu begitu baru pada ‘ngeh’.

Sebuah survei dari YouGov mengungkap fakta miris: cuma 28% perempuan yang tahu kalau menopause bisa terkait dengan masalah kejiwaan. Padahal, 93% di antaranya langsung menghubungkannya dengan hot flushes (gerah mendadak yang bikin kayak kepanasan di tengah padang gurun) dan 76% mengaitkannya dengan penurunan gairah seks. Ya ampun, padahal urusan kepala itu lebih krusial daripada sekadar cuaca di dalam tubuh, lho.

Royal College of Psychiatrists, yang ngadain survei dan mewakili lebih dari 20.000 psikiater (orang-orang yang ‘pinter’ ngurusin pikiran), bilang kalau minimnya kesadaran ini bikin banyak perempuan nggak nyari bantuan atau nggak dapat penanganan yang pas. Jadi, kayak lari maraton tapi nggak tahu garis finish-nya di mana, atau bahkan salah trek dari awal. Ini bukan cuma masalah personal, tapi udah jadi isu sosial se-masyarakat. Kudu berbenah, kata Dr. Lade Smith, presidennya. Emang sih, perempuan kan separuh lebih populasi dunia, dan semua akan mengalaminya. Kalau separuh populasi nggak ‘beres’ pikirannya, ya wassalam semuanya.

Ketika Hormon Berulah, Pikiran Ikut Goyang

Laporan ini merinci, kalau kecemasan dan low mood memang lumrah terjadi pas menopause gara-gara perubahan hormon. Tapi, jangan salah, ada segelintir perempuan yang risikonya lebih tinggi buat ngalamin penyakit mental yang lebih serius pas masa perimenopause, fase sebelum menopause total. Ini bukan sekadar ‘galau’ biasa, tapi bisa jadi lampu merah bahaya yang perlu banget diwaspadai.

Perempuan di fase ini lebih dari dua kali lipat berisiko kena bipolar disorder, penyakit yang bikin suasana hati naik turun ekstrem kayak roller coaster yang gagal rem. Ditambah lagi, 30% lebih mungkin kena depresi klinis. Belum lagi, perubahan hormon dan fisik ini bisa jadi pemicu gangguan makan atau malah bikin kambuh. Data bunuh diri di kalangan perempuan usia menopause pun ikut naik. Duh, kok kayak film horor yang nggak ada habisnya.

Dr. Cath Durkin, yang mimpin urusan perempuan dan kesehatan mental di Royal College of Psychiatrists, menekankan bahwa perimenopause bisa jadi periode ‘bahaya klinis’ buat perempuan yang punya riwayat atau berisiko bipolar disorder. Sayangnya, selama ini nggak banyak yang nyadar atau peduli. Laporan ini juga nyebutin, perempuan dengan bipolar disorder yang pernah ngalamin depresi pasca-melahirkan atau gejala mood PMS yang parah, punya risiko kambuh depresi pas menopause yang lebih tinggi. Ibaratnya, udah pernah jatuh di lubang yang sama, eh pas menopause malah makin dalam lubangnya.

Minta Perhatian Serius: Dari Pelatihan Dokter Sampai Kebijakan Kantor

Intinya, laporan ini mendesak layanan kesehatan dan pemerintah di seluruh penjuru Inggris buat meningkatkan penanganan. Termasuk, wajibnya pengajaran soal menopause dan kesehatan mental dalam pelatihan medis dan psikiatri. Soalnya, gimana mau ngobatin kalau dokternya sendiri nggak paham dasarnya? Ditambah lagi, kebijakan kantor harusnya juga mencakup soal menopause dan hubungannya sama kesehatan mental. Jangan sampai perempuan harus pilih antara karier cemerlang atau kewarasan pikiran saat menghadapi fase krusial ini.

Fakta miris lainnya datang dari studi University College London yang dipublikasikan di jurnal Post Reproductive Health. Disebutkan, 58% perempuan kulit hitam di Inggris merasa nggak dapat informasi apa pun soal menopause. Banyak yang bilang pengalaman ini ‘merusak secara psikologis’. Gimana nggak rusak coba, kalau udah ngadepin perubahan badan, eh dianya sendiri nggak ngerti harus ngapain, kayak tersesat di hutan belantara tanpa peta.

Lebih dari separuh, 53%, melaporkan kecemasan. Tapi, lucunya, banyak yang mengaku salah diagnosis. Pas cerita ke dokter umum, malah dikira kena kecemasan atau depresi biasa, bukannya menopause. Akibatnya fatal: cuma 23% yang akhirnya dapat Hormone Replacement Therapy (HRT), pengobatan yang bisa meredakan gejala menopause. Jadi, udah salah diagnosis, salah penanganan, makin parah deh situasinya.

Respons Lembaga dan Harapan ke Depan

Janet Lindsay, CEO Wellbeing of Women, menyuarakan dukungannya terhadap seruan perbaikan kesadaran, penanganan terpadu, dukungan tempat kerja, dan riset lebih lanjut. Beliau menekankan, “Sudah terlalu lama, gejala perempuan diabaikan atau disalahpahami.” Ini bukan lagi soal ‘ngeluh’, tapi soal validasi dan penanganan yang layak. Harapannya, perempuan bisa didengarkan dan didukung penuh selama masa menopause.

Sementara itu, juru bicara Department of Health and Social Care mengakui, “Tidak dapat diterima perempuan menghadapi hambatan dalam mendapatkan perawatan dan dukungan yang mereka butuhkan.” Mereka mengklaim sedang bergerak, dengan memasukkan pertanyaan soal menopause dalam pemeriksaan kesehatan NHS, memperbarui strategi kesehatan perempuan, dan menginvestasikan dana tambahan untuk layanan kesehatan mental. Rekrutmen 8.500 pekerja kesehatan mental baru juga dijanjikan. Katanya sih, sekarang perempuan punya akses lebih luas ke berbagai perawatan dan pelatihan dokter yang lebih baik buat diagnosa dan dukungan yang lebih cepat.

Klaim pemerintah ini patut diapresiasi, tapi perlu dibuktikan dengan implementasi yang nyata dan jangkauan yang luas. Jangan sampai ini cuma jadi ‘angin segar’ sesaat yang nggak berbekas. Kesenjangan informasi dan penanganan soal menopause dan kesehatan mental ini adalah PR besar buat semua pihak. Kalau nggak diperbaiki sekarang, bisa jadi generasi berikutnya juga akan merasakan hal yang sama, atau bahkan lebih parah. Ingat, kesehatan mental itu bukan barang mewah, tapi kebutuhan dasar yang harus dipenuhi.

Previous Post

MGS Delta Snake Eater Lampaui 2 Juta Unit: Reboot Legenda Masih Berkembang

Next Post

ExxonMobil Pindah ‘Rumah’ ke Texas: Demi Investor atau ‘Oli’ Bisnis?

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *