The Smiths bubar bukan karena kiamat. Personelnya masih hidup dan punya kesibukan masing-masing. Tapi, ya, namanya juga band legendaris, selalu ada saja yang berharap mereka kembali. Lantas, bagaimana kalau Mike Joyce, sang drummer, ternyata nggak masalah kalau Morrissey dan Johnny Marr reuni tanpa dirinya? Apa ini lampu hijau untuk The Smiths jilid 2, atau malah sinyalemen konser reuni yang lebih aneh dari film *Cats*?
Mike Joyce, sang penggebuk drum The Smiths, baru-baru ini bikin pernyataan yang cukup mengejutkan—setidaknya buat para penggemar band asal Manchester itu. Dalam wawancaranya dengan BBC North West Tonight, doi bilang nggak masalah kalau Morrissey dan Johnny Marr mau reuni tanpa dirinya. Wah, ini sih namanya bukan cuma lampu hijau, tapi udah kayak dikasih jalan tol sama Joyce!
Pernyataan ini muncul setelah perilisan buku autobiografinya, *The Drums*. Dalam buku itu, Joyce merefleksikan masa-masanya bersama The Smiths, band yang melejitkan namanya di era 80-an. Doi juga mengenang mendiang Andy Rourke, basis The Smiths, yang meninggal dunia tahun lalu. Kehilangan Rourke jelas jadi pukulan berat, dan Joyce sendiri sadar betul bahwa reuni The Smiths nggak mungkin terjadi tanpa kehadiran Rourke.
Tapi, Joyce juga realistis. Doi paham betul dinamika internal band yang nggak selalu harmonis. Morrissey dan Marr, dua motor utama The Smiths, memang dikenal punya ego yang sama-sama gede. Nggak heran kalau akhirnya mereka memutuskan untuk jalan sendiri-sendiri setelah empat album studio yang melegenda.
Meski begitu, Joyce nggak menutup kemungkinan kalau Morrissey dan Marr pengin balikan. “Gue tahu The Smiths nggak bisa reuni karena Andy udah nggak ada. Tapi, kalau Morrissey dan Johnny mau kerja sama lagi, ya silakan aja,” ujarnya. Santai banget, kan? Seolah doi udah pasrah dengan segala kemungkinan yang ada. Atau mungkin, doi udah punya rencana sendiri di luar The Smiths?
The Smiths: Dulu dan Sekarang
The Smiths terbentuk di Manchester tahun 1982, dan langsung mencuri perhatian dengan musik mereka yang melankolis tapi juga catchy. Lirik-lirik Morrissey yang puitis dan seringkali pedas, dipadukan dengan gitar Johnny Marr yang inovatif, menciptakan formula yang sulit ditolak. Belum lagi rhythm section yang solid dari Joyce dan Rourke, bikin The Smiths jadi salah satu band paling berpengaruh di era 80-an.
Sayangnya, kebersamaan mereka nggak berlangsung lama. Tahun 1987, The Smiths bubar jalan. Alasannya klasik: perbedaan visi dan ego yang nggak bisa disatukan. Marr merasa frustrasi dengan Morrissey yang terlalu dominan, sementara Morrissey jengkel karena Marr main dengan band lain. Ya namanya juga seniman, susah diatur!
Setelah bubar, masing-masing personel The Smiths sibuk dengan proyek solo mereka. Morrissey sukses jadi solois dengan lagu-lagu yang masih kental dengan gaya The Smiths. Marr jadi gitaris laris yang main dengan berbagai band, mulai dari The Pretenders sampai Modest Mouse. Joyce jadi session drummer dan juga sempat terlibat dalam beberapa proyek musik lainnya.
Tapi, yang paling menarik tentu saja hubungan antara Morrissey dan Marr. Meski sempat beberapa kali reuni di atas panggung (tapi nggak pernah barengan), keduanya nggak pernah bener-bener akur. Bahkan, mereka seringkali saling sindir di media. Drama banget, kan? Tapi ya namanya juga rockstar, hidup tanpa drama itu hambar.
Reuni Tanpa Drummer: Mungkinkah?
Lantas, bagaimana dengan kemungkinan reuni Morrissey dan Marr tanpa Joyce? Apakah itu mungkin terjadi? Secara teknis, sih, mungkin-mungkin aja. Toh, banyak band yang gonta-ganti personel tanpa kehilangan identitas mereka. Tapi, secara esensial, apakah itu masih bisa disebut The Smiths?
Pertanyaan ini tentu saja sulit dijawab. The Smiths bukan cuma Morrissey dan Marr. Ada Joyce dan Rourke yang juga punya peran penting dalam menciptakan sound khas The Smiths. Tanpa mereka, The Smiths mungkin akan terdengar berbeda. Atau bahkan, nggak terdengar seperti The Smiths sama sekali.
Tapi, di sisi lain, kita juga nggak bisa menutup mata terhadap fakta bahwa Morrissey dan Marr adalah dua elemen kunci dari The Smiths. Mereka adalah otak kreatif di balik lagu-lagu The Smiths yang melegenda. Kalau mereka berdua bersatu, meski tanpa Joyce dan Rourke, setidaknya kita masih bisa berharap akan ada musik yang berkualitas.
Apalagi, Joyce sendiri udah memberikan lampu hijau. Doi bilang nggak masalah kalau Morrissey dan Marr mau reuni tanpa dirinya. “Gue ketemu Johnny di acara memorial Andy Rourke, terus ketemu lagi di pertandingan West Ham. Kita ngobrol-ngobrol, dan itu udah cukup buat gue,” ujarnya. Seolah doi udah ikhlas melepas The Smiths ke tangan Morrissey dan Marr.
The Drums: Lebih dari Sekadar Buku Biografi
Kembali ke buku *The Drums*, Joyce bilang bahwa bukunya itu fokus pada periode 1983-1987, masa-masa kejayaan The Smiths. Doi pengin menceritakan bagaimana bandnya bisa melejit begitu cepat, dan bagaimana mereka bisa menciptakan musik yang begitu berpengaruh. Tapi, buku ini bukan cuma sekadar biografi band. Lebih dari itu, ini adalah kisah tentang persahabatan, ambisi, dan juga pengorbanan.
Joyce juga bercerita tentang hubungannya dengan Manchester, kota kelahirannya. Doi bilang punya “hubungan cinta-benci” dengan Manchester. Di satu sisi, doi bangga dengan kota itu, tapi di sisi lain, doi juga merasa tertekan dengan suasana kota yang “gelap dan suram” di masa mudanya. Tapi, pada akhirnya, Manchester tetap jadi rumah buat Joyce.
Manchester: Rumah yang Selalu Dirindukan
“Manchester itu beda banget di era 70-an. Orang nggak dateng ke Manchester buat liburan akhir pekan. Mereka dateng kalau punya keluarga di sana, atau buat kuliah,” kata Joyce. Doi juga mengenang Northern Quarter, kawasan yang dulunya “zona terlarang” karena sepi setelah jam 6 sore.
Tapi, sekarang Manchester udah berubah. Kota itu udah jadi pusat budaya dan ekonomi yang modern. Joyce mengaku bangga dengan perubahan itu, dan selalu senang bisa kembali ke Manchester setelah tur. “Gue udah pernah tinggal di London, gue juga pernah kepikiran buat tinggal di Eropa. Tapi, gue selalu balik lagi ke Manchester karena ini rumah gue,” ujarnya.
Jadi, apakah kita akan melihat reuni The Smiths di masa depan? Entahlah. Yang jelas, Mike Joyce udah memberikan lampu hijau. Tinggal Morrissey dan Marr yang menentukan. Tapi, satu hal yang pasti: The Smiths akan selalu dikenang sebagai salah satu band paling berpengaruh dalam sejarah musik rock. Dan Manchester, kota kelahiran mereka, akan selalu jadi rumah yang dirindukan.
Mungkin, daripada berharap The Smiths reuni, lebih baik kita dengerin lagi album-album mereka yang udah menemani kita selama ini. Sambil nungguin kejutan dari Morrissey dan Marr (siapa tahu mereka tiba-tiba bikin album bareng dengan nama baru), kita bisa nikmatin musik The Smiths yang timeless dan selalu relevan. Toh, reuni nggak selalu jadi jaminan kualitas. Kadang, yang terbaik adalah membiarkan masa lalu tetap jadi masa lalu.


