Anda pikir Nieta Aqila itu aktivis kemerdekaan Alberta sejati gara-gara postingan Facebook-nya yang segunung? Ternyata oh ternyata, akun yang mengaku menandatangani petisi kemerdekaan Alberta karena “Kanada bukan negara hebat lagi” itu milik seorang pedagang mi dari Indonesia. Ya, Anda tidak salah baca. Ternyata, ada industri bayaran di balik hiruk pikuk separatisme Alberta di media sosial, dan para pemainnya justru berjibaku dari jauh demi cuan.
Perdagangan Mi dan Narasi Kemerdekaan
Ironis memang. Di tengah memanasnya diskusi soal referendum kemerdekaan Alberta, muncul laporan investigasi visual dari CBC yang mengungkap praktik eksploitatif di grup-grup Facebook separatis. Akun atas nama Nieta Aqila, yang getol menyuarakan ketidakpuasan terhadap Kanada dan bahkan mengklaim dilempari batu saat menggalang dukungan, ternyata hanya satu dari belasan akun luar negeri yang aktif mempromosikan narasi pemisahan diri. Akun-akun ini, yang seringkali mencuri konten dari warga Alberta asli, justru brag di laman pribadi mereka tentang pundi-pundi uang yang mereka dapatkan dari program monetisasi Meta.
Bayangkan saja, seorang pedagang mi di Palembang, Indonesia, bisa menyusun narasi politik yang memicu ribuan reaksi, komentar, dan share di grup dengan lebih dari 100.000 anggota. Ini bukan sekadar aktivitas netizen biasa; ini adalah industri yang memanfaatkan algoritma dan insentif platform untuk menyebarkan disinformasi demi keuntungan finansial. Alih-alih peduli pada politik Kanada, para ‘aktivis’ ini justru melihat potensi keuntungan dari konten yang mengundang kemarahan.
Salah satu korban pencurian konten, Brock Ireland, warga Edmonton, mengaku merasa ‘benar-benar dilanggar’. Kontennya yang tadinya untuk menyuarakan aspirasi pribadi, justru digunakan oleh Nieta Aqila untuk membangun citra sebagai patriot Alberta yang sedang berjuang. Ini menunjukkan betapa rentannya percakapan publik di era digital, ketika konten orisinal bisa dengan mudah dicaplok dan dimanipulasi demi keuntungan sepihak.
Monetisasi Kebencian: Bisnis Menggiurkan dari Jarak Ribuan Mil
Matt Navarra, seorang konsultan media sosial yang pernah bekerja dengan raksasa teknologi seperti Meta dan Google, menyebut fenomena ini sebagai sesuatu yang “jauh lebih menyedihkan” daripada intervensi asing yang terorganisir. Ini adalah tentang individu yang menemukan bahwa kebencian dan ketidakpuasan publik di negara lain adalah niche yang menguntungkan. Mereka tidak peduli pada esensi politiknya; yang penting adalah engagement yang dihasilkan, yang berujung pada pendapatan.
Penelitian dari McGill University, melalui Media Ecosystem Observatory, menemukan bahwa aktivitas tidak autentik di grup separatis Alberta telah meningkat tiga kali lipat dalam beberapa bulan terakhir. Meskipun masih menjadi sebagian kecil dari keseluruhan konten, lonjakan ini mengindikasikan adanya jaringan yang mulai terbentuk dan berkembang. Akun-akun ini seringkali berasal dari Pakistan, India, Sri Lanka, Amerika Serikat, dan Indonesia, yang menunjukkan betapa globalnya jangkauan operasi semacam ini.
Aengus Bridgman, direktur Media Ecosystem Observatory, menegaskan bahwa dua pihak yang diuntungkan di sini adalah ‘pemain serakah’ yang melakukan monetisasi, dan platform itu sendiri yang meraup pendapatan iklan dari perhatian yang dihasilkan. Ironisnya, aturan Meta tentang konten menipu justru dilanggar secara terang-terangan oleh akun-akun ini, seringkali dengan memamerkan dashboard monetisasi mereka.
Nieta Aqila sendiri dilaporkan menghasilkan sekitar 14 Dolar AS dalam sebulan saat aktif di grup-grup tersebut. Angka ini mungkin terdengar kecil, namun bagi sebagian orang di negara-negara dengan daya beli lebih rendah, ini bisa menjadi sumber pendapatan tambahan yang signifikan. Renee DiResta, seorang profesor di Georgetown University, menyoroti bahwa ini adalah bentuk ‘produksi konten berbiaya rendah’ yang sangat efektif.
Manipulasi Narasi: Mengadu Domba dan Menggali Cuan
Lebih jauh lagi, investigasi CBC mengungkap adanya jaringan akun yang terkoordinasi. Akun seperti “The Legacy Archives,” “Trend Top,” dan “History Addicted,” yang semuanya berbasis di Pakistan dan bahkan memiliki kaitan dengan administrator di AS, terbukti mengelola grup kecil bernama “Rise of Alberta.” Mereka menyebarkan narasi emosional yang menyudutkan pemerintah federal dan partai-partai politik di Kanada, dengan dalih membela hak-hak orang Alberta.
Saat dikonfrontasi, The Legacy Archives mengklaim bahwa mereka tinggal di Kanada, bukan Pakistan, namun tidak bersedia mengungkapkan identitas sebenarnya. Ketika ditanya mengenai keterkaitan empat akun lain dari Pakistan yang aktif di grup separatis, mereka memilih bungkam dan memblokir jurnalis CBC. Ini menunjukkan betapa tertutup dan sulitnya melacak pelaku sebenarnya di balik layar.
Meta, dalam tanggapannya, hanya menyatakan bahwa mereka telah menghapus konten yang melanggar kebijakan ‘perilaku tidak autentik’ dan menonaktifkan akun-akun terkait. Sejumlah akun yang teridentifikasi, termasuk The Legacy Archives, Trend Top, dan Riri Seyer, memang telah ‘menghilang’ dari platform. Namun, akun Nieta Aqila masih aktif, meskipun postingannya di grup tertentu telah dihapus. Ini menyisakan pertanyaan: berapa banyak lagi ‘Nieta Aqila’ di luar sana yang diam-diam memeras susu dari isu-isu sensitif demi keuntungan pribadi?
Sebuah Refleksi: Ketika Kebencian Menjadi Mata Uang Digital
Fenomena ini bukan hanya masalah Alberta atau Kanada. Ini adalah cerminan dari bagaimana platform media sosial, dengan model monetisasinya, justru secara tidak sengaja menciptakan insentif untuk penyebaran disinformasi dan kebencian. Algoritma yang dirancang untuk memaksimalkan engagement seringkali lebih memprioritaskan konten yang provokatif daripada yang akurat atau bertanggung jawab. Akibatnya, isu-isu politik yang kompleks dan sensitif menjadi lahan subur bagi para oportunis global.
“Canadians are getting tricked,” tegas Bridgman. Pengamatannya sangat tepat sasaran. Jutaan warga Kanada yang terlibat dalam diskusi online, tanpa sadar menjadi penonton dan bahkan partisipan pasif dalam sebuah pertunjukan yang dirancang untuk memanipulasi pandangan mereka demi keuntungan finansial pihak lain. Platform seperti Facebook memiliki tanggung jawab moral dan etis untuk memastikan percakapan publik yang autentik, bukan sekadar ladang cuan bagi para ‘grifter’ digital.
Pada dasarnya, ini bukan hanya soal separatisme Alberta. Ini adalah babak baru dalam perang informasi, di mana narasi politik dimainkan layaknya esports match yang menguntungkan, tanpa peduli pada konsekuensi sosial dan politiknya di dunia nyata. Dan yang paling parah, mereka yang seharusnya mengawasi – dalam hal ini Meta – tampaknya lebih sibuk menghitung laba iklan ketimbang membersihkan ekosistem digital mereka dari racun manipulasi.


