Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Oaks Pimpin Sidang Jemaat: Para Jemaat Setia Lakukan “Voting” Rasa Sayang

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang kadang terasa seperti arena esports tanpa jeda, ada momen-momen sakral yang menuntut perhatian penuh, bahkan dari para pemain paling ulung sekalipun. Salah satunya adalah ketika para pemegang tampuk kepemimpinan di sebuah organisasi keagamaan global secara formal diminta untuk “disetujui” oleh para pengikutnya. Persetujuan ini, yang dalam istilah awam bisa diartikan sebagai vote of confidence akbar, baru saja terjadi di sebuah acara yang digelar pada Sabtu pagi, 4 April 2026. Dalam sebuah ‘Majelis Khidmat’ yang dihadiri oleh penganut ajaran Latter-day Saints dari seluruh penjuru dunia, kepemimpinan Presiden Dallin H. Oaks sebagai nabi, pelihat, pewahyu, beserta dua penasihatnya, Presiden Henry B. Eyring dan Presiden D. Todd Christofferson, secara resmi dikonfirmasi. Ini bukan sekadar rotasi jabatan biasa; ini adalah penegasan kembali struktur kepemimpinan yang dipercaya memegang kendali atas arah spiritual jutaan orang.

Kudus-Kudusnya Kepemimpinan yang Dikonfirmasi

Presiden Oaks, dalam pidato pembuka konferensi umum April 2026, menyoroti signifikansi acara ini, menyebutnya sebagai “peristiwa yang sangat penting.” Ia mengungkapkan rasa syukurnya atas kesempatan untuk diakui secara formal melalui pemungutan suara dukungan tersebut. Dukungan ini bukan hanya sekadar angkat tangan atau anggukan kepala; ini adalah manifestasi komitmen untuk berdoa, mendukung, dan melayani. Dalam pernyataannya yang penuh makna, terutama di momen menjelang Paskah, Presiden Oaks menegaskan kembali kesaksian tentang Tuhan yang telah bangkit, menekankan bahwa Dia adalah kepala gereja ini. Pernyataan ini bukan hanya sekadar retorika keagamaan, melainkan pengingat fundamental tentang sumber otoritas tertinggi yang melampaui kepemimpinan manusia.

Prosesi pengesahan ini dipimpin oleh Presiden Christofferson di Pusat Konferensi di Salt Lake City, Utah. Lebih dari 20.000 hadirin memenuhi tempat tersebut, menandakan tingginya partisipasi dan keterlibatan jemaat. Acara ini diselenggarakan di tengah pemandangan Temple Square yang sedang dalam persiapan musim semi, sebuah latar yang menambah aura kesucian dan ketenangan pada momen penting tersebut. Keindahan alam musim semi tampaknya menjadi cerminan dari harapan akan pertumbuhan spiritual yang diharapkan menyertai kepemimpinan yang baru dikonfirmasi ini.

Doa dan Pelayanan: Pilar Dukungan Spiritual

Dalam sesi yang sama, Presiden Eyring mengingatkan tentang kekuatan doa. Ia menggambarkan bagaimana, di tengah gejolak dunia yang tak kunjung reda, para penganut setia Latter-day Saints di seluruh dunia telah membanjiri surga dengan permohonan kepada Tuhan. Doa-doa ini adalah seruan untuk pertolongan, kenyamanan, petunjuk, dan kedamaian. Membuka “jendela surga” melalui doa, menurutnya, tidak memerlukan banyak kata-kata berbunga-bunga atau retorika yang rumit. Inti dari doa adalah kejujuran hati dan kerinduan untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta, bahkan ketika seseorang merasa tidak mampu berkata-kata.

Ia melanjutkan, dengan penuh keyakinan, bahwa Tuhan mendengar setiap doa yang terucap dalam hati, bahkan yang paling rahasia sekalipun. Karena kasih sayang-Nya yang mendalam, “Saat berdoa terus-menerus, apa pun keadaan hidupnya, Tuhan akan menawarkan kedamaian dan dukungan yang teguh,” demikian kutipannya. Ini adalah janji yang menawarkan jangkar spiritual di tengah badai kehidupan, sebuah pengingat bahwa di balik segala kekacauan, ada kekuatan ilahi yang siap memberikan ketenangan.

Sementara itu, Elder Patrick Kearon dari Korum Dua Belas Rasul menekankan esensi pelayanan. Pelayanan, tegasnya, adalah sebuah pilihan, sebuah persembahan kepada Tuhan, dan sumber berkat. Yang terpenting baginya bukanlah di mana seseorang melayani, melainkan bagaimana mereka melakukannya. Tuhan bekerja dengan hamba-hamba yang tidak sempurna, dan banyak panggilan yang menuntut upaya lebih. “Panggilan dari Tuhan dibuat khusus untuk pertumbuhan kita,” ujarnya. Dengan merendahkan diri, melihat ke luar diri, dan menyadari bahwa ketika melayani sesama, seseorang sebenarnya melayani Tuhan.

Ketekunan dan Pemulihan Spiritual

Membawa sudut pandang yang berbeda namun tetap vital, Elder David A. Bednar dari Korum Dua Belas Rasul mengulas konsep “bertahan sampai akhir.” Ia menjelaskan bahwa secara spiritual, bertahan lebih dari sekadar berjuang gigih menyelesaikan tugas atau tantangan yang berat. “Bertahan sampai akhir adalah pencarian seumur hidup yang penuh sukacita,” katanya. Ini adalah proses maju terus dengan iman kepada Yesus Kristus, sebuah kepercayaan bertahap dan penerimaan pertolongan dari Sang Juru Selamat untuk menjadi lebih serupa dengan-Nya. Semakin kuat dan dalam kasih kepada-Nya, semakin besar berkat yang diterima berupa perspektif spiritual, kekuatan ilahi, dan sukacita yang tak terlukiskan.

Ia bersaksi bahwa doktrin, perjanjian, tatacara, dan teladan Penebus memiliki kekuatan untuk memberkati setiap aspek kehidupan seseorang. Di sisi lain, Elder Clark G. Gilbert, dalam pidato konferensi umumnya yang pertama sebagai Rasul, mengajarkan tentang pemulihan spiritual. Ketika seseorang tersesat secara rohani dan merasa jatuh, Sang Juru Selamat dapat memperbaiki kerusakan dan memungkinkan mereka untuk berubah. Namun, proses menemukan jalan kembali tidak selalu instan. Beberapa orang kesulitan karena merasa tidak memiliki tempat, merasa tidak mampu, bergulat dengan keraguan, atau terbatasi oleh tradisi.

Pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang kehidupan terus muncul, dan para nabi telah mengajarkan bahwa perjalanan pulang dimulai dengan kembali berlabuh pada Yesus Kristus. “Kita semua bergumul dan membutuhkan kesabaran, pelayanan, dan kasih satu sama lain,” kata Elder Gilbert. Pesannya ditujukan kepada mereka yang membantu untuk tetap berpegang pada kebenaran dan memelihara perjanjian. Kepada mereka yang berjuang, ia mengingatkan bahwa mereka dicintai dan Sang Juru Selamat memanggil mereka pulang. Namun, pada akhirnya, setiap individu harus membuat pilihan mereka sendiri untuk kembali.

Kasih dan Pelayanan sebagai Jembatan

Menyambung tema kasih dan pelayanan, Sister Kristin M. Yee, Penasihat Kedua dalam Presidensi Umum Perhimpunan Kerohanian, menyampaikan bahwa para pengikut Yesus memiliki berkat dan tanggung jawab untuk menawarkan kasih dan rasa memiliki Sang Juru Selamat kepada orang lain. Ketika melayani dalam iman, Tuhan berjanji akan menyertai mereka yang melayani. “Jika ingin merasa kokoh, mendapatkan rasa memiliki ilahi, dan membuat perbedaan nyata di dunia, undangannya adalah untuk mengikuti Sang Juru Selamat dan melayani dalam nama-Nya.” Pesan ini menekankan peran aktif setiap individu dalam menyebarkan pengaruh positif.

Elder Michael John U. Teh dari Tujuh Puluh bersaksi bahwa ketika individu mengikuti ajaran para nabi dan rasul yang hidup, mereka sebenarnya mengikuti Yesus Kristus. “Saat berusaha mengikuti Sang Juru Selamat, Dia akan menggunakan diri ini untuk memberkati orang lain. Melalui teladan dan pelayanan kepada orang lain, mereka akan merasakan kasih Sang Juru Selamat untuk mereka,” demikian ia menyatakan. Kesaksian ini menegaskan bahwa kepatuhan terhadap ajaran ilahi berujung pada tindakan nyata yang membawa berkat bagi sesama.

Dalam topik persepuluhan, Elder Jorge T. Becerra dari Tujuh Puluh menyoroti Yesus Kristus sebagai teladan sempurna dalam menempatkan Tuhan di tempat pertama dalam kehidupan. “Sangat yakin bahwa pembayaran persepuluhan dan persembahan akan meningkatkan kapasitas spiritual saat menempatkan Tuhan di depan dan mempersembahkan ‘anak sulung dari kawanan’,” ujarnya. Ini adalah pengingat bahwa pengorbanan materi yang didasari iman memiliki imbalan spiritual yang tak ternilai.

Doa-doa penutup sesi dipimpin oleh Elder Michael B. Strong dan Elder Christopher H. Kim, keduanya dari Tujuh Puluh. Musik yang mengiringi acara ini dibawakan oleh The Tabernacle Choir on Temple Square, di bawah arahan Mack Wilberg dan Ryan Murphy, serta diiringi oleh organis Andrew Unsworth dan Brian Mathias. Komposisi musik dan pujian ini menjadi elemen penting yang memperkaya pengalaman spiritual para hadirin, menyatukan mereka dalam suasana kekhusyukan dan pemujaan.

Previous Post

Obat Lawas Temuan Baru: Diabetes Tipe 1 Bisa Dicancel?

Next Post

Marlugubre: Progresif Death Metal Dengan Nuansa Nymph Yang Terlalu Hening

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *