Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Marlugubre: Progresif Death Metal Dengan Nuansa Nymph Yang Terlalu Hening

Tiziano Colella dari Marlugubre, sang maestro prog death metal Italia, tampaknya memiliki pandangan tersendiri tentang objektivitas dalam apresiasi musik. Jika kritik atas album Maladie empat tahun lalu yang hanya berani memberinya skor 5/10 saja sudah memicu komentar pedas soal “tidak setuju sama sekali dengan analisisnya” dan “coba tulis yang benar”, bayangkan betapa menegangkannya menilik rilisan terbarunya, Per Amor Nymphae. Dengan pengalaman ratusan ulasan tambahan, apakah akhirnya ada titik temu antara pandangan kritis dan ketidaksetujuan sang seniman, ataukah ini hanya siklus perdebatan tiada akhir dalam ranah prog metal yang membatasi diri itu?

Sentuhan Opeth yang Familiar, Namun Ada yang Kurang Nendang

Empat tahun absen dari panggung ulasan Marlugubre tak serta merta menghadirkan evolusi dramatis. Alih-alih meretas jalan baru, Tiziano Colella memilih untuk tetap bercengkerama dalam zona nyaman gaya prog death metal ala Opeth. Sentuhan post-black metal disematkan demi membalut nuansa atmosferik dan melankolis yang sudah menjadi ciri khas. Formula klasik prog death metal—perpaduan blast beat dan tremolo pick yang ganas, diselingi momen-momen ketenangan—masih menjadi andalan. Namun, dalam Per Amor Nymphae, banyak riff di bagian ekstrem terasa kurang kokoh, minim melodi yang kuat atau struktur ritmis yang tegas, lebih sekadar rangkaian nada terdistorsi yang tak terikat.

Puncak apresiasi justru hadir ketika Colella berhasil merangkai melodi yang kohesif dengan sentuhan gitar utama yang jernih. Bagian awal “Lips Scented Spring Roses” memamerkan kemampuan ini; alunan gitar utama yang lincah menjelang pecah menjadi seksi black metal yang bergemuruh, berpadu dengan blast beat secara memuaskan, mengingatkan pada semangat Iapetus. Instrumen dominan tetaplah gitar, berkonfigurasi antara metal terdistorsi, clean electric, dan akustik. Kinerja trio ini cukup memadai, namun justru momen-momen langka di mana instrumen lain menonjol yang menawarkan suguhan paling menarik. Cello yang syahdu sesekali menyelip di antara bagian berat dan ringan, menjembatani kontras seperti di “Beloved Scylla” dan “Lips Scented Spring Roses”. Puncaknya, “Undine on a Lake Garden” ditutup dengan solo bass yang mengejutkan—sungguh sebuah anomali mengingat minimnya kehadiran instrumen ini di sepanjang album.

Produksi Luas Tapi Hampa: Dilema Ambiguitas Sonic

Kualitas produksi Per Amor Nymphae digambarkan sebagai luas namun terasa hampa, sebuah aspek yang turut berperan dalam menciptakan tekstur riff yang cenderung amorfs. Marlugubre memang piawai membangun palet sonik yang kaya atmosfer, namun terlalu banyak ruang kosong dalam mix yang sangat berfokus pada gitar menyebabkan minimnya instrumen lain untuk mengisi kekosongan tersebut. Hasilnya adalah sebuah ‘sonic negative space’ yang terasa kurang tergarap. Album ini tidak harus menjadi maksimalis, namun ada sesuatu yang hilang dalam lanskap teksturalnya.

Di sisi lain, kekosongan produksi ini sesekali justru menjadi kekuatan Marlugubre, terutama sebagai alat naratif untuk mendongengkan album. Mengusung judul yang secara harfiah berarti “melalui cinta sang nimfa”, Marlugubre menjelajahi berbagai kisah klasik dewi-dewi mitologi alam, dari Eurydice hingga Scylla. Dalam bagian-bagian yang lebih tenang, produksi mampu menciptakan nuansa keterpisahan yang terasa indah menghantui, nyaris nostalgia—layaknya konsep roh hutan yang efemeral itu sendiri. “Undine on a Lake Garden” menjadi contoh sempurna keindahan etereal yang sesekali mampu dicapai oleh Marlugubre.

Serena de Angelis: Vokalis Ethereal yang Perlu ‘Mengisi Ruang’

Aspek vokal baru yang diperkenalkan dalam Per Amor Nymphae adalah Serena de Angelis, vokalis penuh waktu yang baru. Suaranya yang lembut berhasil memerankan para nimfa dalam album ini, baik sebagai backing vocal malaikat yang mengiringi harsh vocal Colella, maupun sebagai protagonis utama. Sayangnya, nada suaranya cenderung nasal, dan pembawaannya terkesan terlalu malu-malu. Meskipun penjiwaan sebagai nimfa yang centil sudah terasa, penambahan kekuatan vokal akan lebih ideal untuk menyamai energi ilahiah sang nimfa. Jika saja ia lebih berani dalam ‘mengisi ruang’ dengan suaranya, potensi vokal de Angelis bisa menjadi solusi jitu untuk mengatasi masalah ‘album terasa sedikit kosong’ di rilisan mendatang. Namun, untuk Per Amor Nymphae, keengganannya mengisi ruang vokal ini belum cukup menyelamatkan.

Ironi Siklus yang Berulang: Harapan Evolusi yang Belum Terpenuhi

Menemukan Marlugubre masih berkutat dengan masalah yang sama seperti album sebelumnya, bahkan setelah bertahun-tahun peninjauan, sungguh sebuah ironi. Ada keinginan tulus untuk melimpahi Per Amor Nymphae dengan pujian sebagai bentuk penebusan, mengingat tujuan utama meliput band-band di ceruk prog metal yang sempit adalah melihat mereka sukses. Namun, harapan untuk melihat Marlugubre memperbaiki kekurangan Maladie lebih terfokus; berharap mereka menemukan suara yang lebih otentik alih-alih hanya menulis prog death ala Opeth yang lumayan, namun tidak cukup menonjol untuk membedakan diri kecuali melalui atmosfer yang kadang indah. Colella sebaiknya mempertimbangkan beberapa kritik ini untuk karya selanjutnya. Atau, mungkin saja, sang peninjau memang tidak pernah benar dalam tulisannya.

Per Amor Nymphae menempatkan Marlugubre pada posisi yang familiar: sebuah band yang mampu menciptakan momen-momen atmosferik yang memukau, namun terjebak dalam formula yang terasa aman dan kurang pengembangan. Perpaduan prog death metal dengan sentuhan black metal Italia ini memiliki potensi besar, namun eksekusinya masih menyisakan ruang untuk perbaikan yang signifikan, terutama dalam hal kekokohan riff, variasi instrumen yang lebih merata, dan kejelasan vokal yang lebih berani. Album ini layak mendapat perhatian dari penggemar prog metal yang merindukan sentuhan Opeth klasik, namun jangan berharap menemukan terobosan revolusioner di dalamnya. Skor 6/10 mencerminkan kondisi ini: sebuah karya yang baik, namun jauh dari sempurna dan belum mampu melampaui bayang-bayang masa lalu.

Jejak sonik Marlugubre dalam Per Amor Nymphae memang menunjukkan ambisi untuk menyajikan narasi musikal yang kaya, mengambil inspirasi dari mitologi klasik. Namun, eksekusi dari ambisi tersebut masih menyisakan beberapa lubang yang terasa mengganggu. Keberanian dalam eksperimentasi yang minim, produksi yang di satu sisi menciptakan ruang namun di sisi lain terasa kosong, serta vokal yang masih perlu menempa kekuatannya, semuanya berkontribusi pada album yang terasa seperti langkah yang mantap namun tidak melompat maju. Kisah-kisah nimfa yang coba diangkat seharusnya bisa terefleksikan dengan lebih kuat melalui dinamika musikal yang lebih berani, tidak hanya sekadar selingan antara bagian brutal dan tenang.

Penggemar berat band-band seperti Be’Lakor atau Enslaved mungkin akan menemukan beberapa elemen yang menarik dalam Per Amor Nymphae. Ada usaha jelas untuk menciptakan lanskap suara yang imersif, dan pada momen-momen tertentu, usaha tersebut berhasil. Namun, secara keseluruhan, album ini lebih terasa seperti sebuah simulasi yang cermat daripada sebuah ekspresi artistik yang orisinal dan berani. Colella, sebagai arsitek tunggal di balik Marlugubre, perlu meninjau kembali keseimbangan antara penghormatan terhadap tradisi prog death metal dan kebutuhan untuk mengukir identitas yang benar-benar unik. Tanpa itu, Marlugubre akan terus berputar dalam lingkaran yang sama, dikagumi karena kemampuannya meniru, tetapi jarang dipuji karena inovasinya.

Track rekomendasi: “Lips Scented Spring Roses”, “Undine on a Lake Garden”, “Iphigenia”.

Perbandingan musikalitas yang bisa dilirik: Serein, Phendrana, Piah Mater, Iapetus, Aquilus.

Kesimpulan Akhir: 6/10

Tautan terkait: Bandcamp | Facebook | Instagram

Label: Dusktone

Anggota Marlugubre:
– Tiziano Colella (semua instrumen)
– Serena de Angelis (vokal)

Previous Post

Oaks Pimpin Sidang Jemaat: Para Jemaat Setia Lakukan “Voting” Rasa Sayang

Next Post

Rilis Elden Ring Film: Set Mirip Banget, Fans Langsung Auto-Hype, A24-Garland Bikin Merinding

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *