Siapa sangka, urusan pangan dan energi jadi medan laga baru bagi kekuasaan? Presiden Prabowo Subianto, dalam pidato inaugurasi Oktober 2024, mengulang janji kampanye soal “ketahanan pangan dalam waktu sesingkat mungkin”. Sebuah déjà vu dari era pendahulu, Jokowi, yang juga punya obsesi serupa. Yang menarik, ambisi pangan dan energi ini berpusat di Tanah Papua. Rencananya? Lahan luas untuk tebu, kelapa sawit demi biofuel, dan tentu saja, produksi beras megah. Semuanya berujung pada pembukaan ratusan ribu hektare hutan, yang sejatinya adalah tanah adat masyarakat asli. Beginilah drama perebutan sumber daya di alam bebas, yang seringkali melibatkan kekuatan militer negara dan korporasi, membuat masyarakat adat tak berdaya. Tapi, apakah mereka hanya bisa pasrah? Ini cerita tentang bagaimana pemilik hutan Papua berjuang mempertahankan hak atas tanah mereka di hadapan raksasa yang tak kenal ampun.
Intrik di balik ambisi besar ini jelas memicu perbincangan hangat. Kebijakan yang digulirkan presiden baru, seolah melanjutkan proyek lama, menempatkan Papua sebagai kunci utama dalam strategi ketahanan pangan dan energi nasional. Namun, di balik gembar-gembor swasembada, terbentang kenyataan pahit tentang invasi lahan. Ribuan hektare hutan adat diperuntukkan bagi perkebunan komersial raksasa, mulai dari tebu untuk kebutuhan biofuel hingga proyek beras skala industri. Implikasinya sudah bisa ditebak: deforestasi masif yang mengancam ekosistem dan menghapus jejak peradaban masyarakat adat yang telah hidup berdampingan dengan hutan selama ratusan, bahkan ribuan tahun.
Proses ekspansi lahan besar-besaran ini tidak berjalan mulus tanpa hambatan. Seringkali, kebutuhan pembangunan dicanangkan tanpa mempertimbangkan hak-hak fundamental masyarakat lokal. Pembangunan mega-proyek ini kerap bersinggungan langsung dengan wilayah adat, mengabaikan kearifan lokal dan keberlanjutan lingkungan. Skala proyek yang masif ini jelas membutuhkan ruang, dan hutan adat menjadi sasaran empuk. Ironisnya, di saat masyarakat adat berupaya mempertahankan tanah leluhur, mereka dihadapkan pada kekuatan yang jauh melampaui kemampuan mereka untuk melawan secara fisik. Alih-alih solusi damai, seringkali kekerasan dan intimidasi yang menjadi jawaban atas perlawanan mereka.
Perjuangan dari Bawah: Suara yang Terpinggirkan
Dalam episode terbaru ‘Talking Indonesia’, kita akan menyelami kisah dari lapangan, langsung dari sumbernya. Jemma berbincang dengan Rassela Malinda, seorang kandidat doktor dari University of Melbourne. Pengalamannya hidup dan bekerja bersama komunitas adat di Papua memberikannya perspektif unik mengenai perjuangan mereka yang seringkali tak terlihat. Penelitian Rassela, yang juga mengacu pada laporan dari NGO Yayasan Pusaka Bentala Rakyat, membuka mata terhadap realitas getir di akar rumput. Diskusi ini menjadi penting untuk memahami bagaimana masyarakat adat berupaya melawan dominasi kekuatan besar, bukan dengan senjata, tetapi dengan suara dan data.
Rassela Malinda bukan sekadar akademisi yang mengamati dari menara gading. Pengalamannya yang mendalam di lapangan Papua, berinteraksi langsung dengan denyut kehidupan komunitas adat, menjadikannya suara yang kredibel. Ia pernah menjadi bagian dari Yayasan Pusaka Bentala Rakyat, sebuah organisasi yang mendedikasikan diri untuk advokasi hak-hak masyarakat adat. Laporan yang dihasilkan oleh yayasan tersebut menjadi salah satu rujukan utama dalam podcast kali ini, memberikan gambaran detail mengenai dampak dari proyek-proyek pembangunan yang menggerogoti hutan adat.
Fokus utama podcast ini adalah mengungkap berbagai opsi yang dimiliki oleh para pemilik hak ulayat hutan Papua. Di tengah gempuran pembangunan berskala masif yang didukung oleh kekuatan negara dan modal, bagaimana sebenarnya komunitas adat dapat bertahan dan menyuarakan aspirasi mereka? Ini bukan sekadar pertanyaan retoris, melainkan inti dari perjuangan mempertahankan eksistensi di tengah ancaman kepunahan budaya dan lingkungan. Diskusi dengan Rassela akan mengupas strategi perlawanan yang mungkin tidak kasat mata namun memiliki kekuatan fundamental.
Keterlibatan berbagai akademisi dalam podcast ‘Talking Indonesia’ di tahun 2026 ini menegaskan pentingnya isu Papua dalam diskursus Indonesia kontemporer. Dr. Jemma Purdey dari Australia-Indonesia Centre, Dr. Clara Siagian dari University College London, Dr. Jacqui Baker dari Murdoch University, Dr. Elisabeth Kramer dari University of New South Wales, dan Tito Ambyo dari RMIT, semua berkontribusi dalam menghadirkan perspektif yang beragam. Keragaman latar belakang dan keahlian para co-host ini memastikan bahwa setiap aspek isu Papua dibedah secara komprehensif.
Lahan Kritis: Antara Pembangunan dan Pelestarian
Ambisinya jelas: ketahanan pangan dan energi nasional. Namun, jalan menuju tujuan mulia ini ternyata memantik konflik kepentingan yang tajam. Kebijakan pemerintah yang mengedepankan ekspansi perkebunan di Papua, demi memenuhi target biofuel dan produksi pangan, secara inheren mengorbankan ruang hidup masyarakat adat. Alih-alih menciptakan solusi jangka panjang, pendekatan ini berisiko menciptakan masalah baru yang lebih kompleks di masa depan, baik dari sisi sosial, lingkungan, maupun ekonomi.
Proses reklamasi dan pengembangan lahan ini, yang seringkali diartikan sebagai kemajuan ekonomi, justru menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan ekosistem hutan Papua. Hutan yang berfungsi sebagai paru-paru dunia dan rumah bagi keanekaragaman hayati yang tak ternilai, kini terancam punah demi komoditas yang bersifat sementara. Dinding beton dan aspal seolah menjadi simbol pembangunan, menutupi kerugian ekologis yang tak terukur dan hilangnya warisan budaya yang tak tergantikan.
Pemerintah mungkin melihat ini sebagai langkah strategis untuk kemandirian bangsa. Namun, strategi yang mengabaikan hak asasi manusia dan kelestarian lingkungan adalah strategi yang rapuh. Kekuatan militer yang digunakan untuk mengamankan proyek-proyek ini justru menunjukkan adanya ketidakadilan fundamental. Bagaimana mungkin pembangunan yang semestinya menyejahterakan malah berujung pada penindasan dan marginalisasi masyarakat lokal? Ini adalah pertanyaan krusial yang perlu dijawab, bukan dengan retorika kosong, melainkan dengan tindakan nyata.
Menariknya, di tengah situasi genting seperti ini, muncul perlawanan dari akar rumput. Masyarakat adat Papua, meskipun menghadapi kekuatan yang luar biasa, tidak tinggal diam. Mereka mencari celah, memanfaatkan jalur hukum, diplomasi, dan solidaritas internasional untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Kisah-kisah perlawanan seperti inilah yang seringkali luput dari pemberitaan media mainstream, padahal menjadi denyut nadi harapan bagi keberlanjutan masyarakat adat dan hutan mereka.
Sorotan dari Universitas: Riset dan Advokasi
Peran akademisi dalam menyoroti isu-isu krusial seperti ini tak bisa diremehkan. Rassela Malinda, melalui riset doktoralnya, mencoba memberikan gambaran akurat tentang apa yang terjadi di Papua dari perspektif masyarakat adat. Ia bukan sekadar menganalisis data dari balik meja, melainkan menyelami langsung realitas di lapangan, merasakan langsung denyut perjuangan mereka. Pendekatan kualitatif seperti ini sangat penting untuk menangkap nuansa dan kompleksitas yang seringkali terlewatkan dalam analisis kuantitatif semata.
Universitas, sebagai pusat ilmu pengetahuan, memiliki tanggung jawab moral untuk tidak hanya menghasilkan teori, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi penyelesaian masalah sosial. Keterlibatan kandidat doktor seperti Rassela dalam memberikan wawasan mendalam tentang isu Papua adalah bukti nyata dari peran tersebut. Alih-alih hanya berdiam diri, riset yang dilakukannya diarahkan untuk advokasi, menjadi suara bagi mereka yang suaranya seringkali tenggelam oleh deru pembangunan.
Kolaborasi antara akademisi dan organisasi non-pemerintah seperti Yayasan Pusaka Bentala Rakyat juga menjadi kunci efektivitas advokasi. Sinergi antara kekuatan riset akademis dan pengalaman lapangan organisasi masyarakat sipil menciptakan sebuah ekosistem yang kuat untuk mendorong perubahan. Laporan yang menjadi dasar diskusi ini adalah contoh kongkret bagaimana kolaborasi semacam itu dapat menghasilkan karya yang berdampak, membuka wawasan publik, dan memberikan dasar argumen yang kuat bagi para aktivis dan pembuat kebijakan.
Tujuan akhir dari seluruh upaya ini adalah menciptakan pemahaman yang lebih baik tentang situasi di Papua. Perlu disadari bahwa kebijakan pembangunan yang berbasis eksploitasi sumber daya alam tanpa mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan akan menciptakan luka yang semakin dalam. Melalui podcast ini, diharapkan perspektif masyarakat adat dapat lebih didengar, dan kebijakan yang diambil dapat lebih berpihak pada keadilan dan keberlanjutan.
Pada akhirnya, cerita tentang Papua adalah pengingat bahwa pembangunan sejati tidak hanya mengukur pertumbuhan ekonomi, tetapi juga keadilan sosial dan kelestarian lingkungan. Perjuangan masyarakat adat di sana bukan hanya tentang mempertahankan tanah, tetapi juga tentang mempertahankan hak asasi manusia dan warisan budaya yang tak ternilai harganya. Sebuah pengingat bahwa di setiap kebijakan pembangunan, selalu ada suara-suara kecil yang perlu didengarkan, bukan diabaikan.


