Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Pekan Raya Jantung: Saat Nyawa Bergantung pada Donor Lelah Main Golf

Bayangkan punya daftar bucket list impian: keliling Eropa, beli mobil sport idaman, atau sekadar punya atap yang lebih kokoh di atas kepala. Tapi, bagi ratusan orang di Irlandia yang terdaftar menunggu transplantasi organ, impian terbesarnya adalah mendapatkan anugerah kehidupan itu sendiri. Bukan soal barang mewah, melainkan eksistensi yang terbentang lebih panjang. Sebuah daftar harapan yang lebih vital daripada daftar destinasi liburan.

Daftar Tunggu yang Membaca Jam Pasir Kehidupan

Saat ini, tercatat 660 jiwa di Irlandia yang nasibnya bergantung pada dermawan yang rela berbagi. Data dari National Kidney Transplant Service (NKTS) mengungkap, sekitar 560 orang antre untuk cangkok ginjal, sementara 100 sisanya menanti organ lain. Dari jumlah tersebut, enam nyawa terperangkap dalam penantian dramatis untuk transplantasi jantung di Mater Hospital, Dublin. Tiga di antaranya bahkan harus terbaring di rumah sakit, terpantau ketat demi menjaga sisa-sisa vitalitas mereka.

Salah satu pejuang dalam daftar tunggu ini adalah Séamus Patton. Pria 57 tahun ini mulai merasakan napasnya tersengal sejak 2007. Setelah memeriksakan diri dan menjalani serangkaian tes, diagnosisnya mengerikan: ia memerlukan operasi katup mitral. Operasi itu sukses, namun beberapa tahun kemudian, ayah lima anak ini harus menghadapi kenyataan pahit. Komplikasi mulai muncul.

“Setelah operasi 2007, saya baik-baik saja, tapi masih ada palpitasi sesekali,” kenang Patton. “Lalu saya pingsan saat main golf. Di tahun 2011, saya dipasangi ICD ganda/pacemaker.” Singkatnya, implantable cardioverter-defibrillator (ICD) adalah perangkat kecil yang terpasang di dada, memantau irama jantung dan siap memberi kejutan listrik bila diperlukan untuk mengembalikan detak yang normal. Sebuah penyelamat instan, namun bukan solusi jangka panjang.

Serangan Kedua dan Keputusan Genting: Bertahan atau Berubah Nasib

Selama lebih dari satu dekade, Patton mampu menjalani hidup relatif normal. Ia kembali bermain golf, aktif bekerja, bahkan seolah melupakan ancaman di dalam dadanya. Namun, takdir rupanya punya skenario lain. Oktober 2022 lalu, saat kembali mengayunkan stik golf, ICD-nya ‘memberi kejutan’ yang cukup keras hingga membuatnya terjungkal. Beruntung, tim medis di ambulans berhasil membangunkannya. Ia pulih dan melanjutkan hidupnya, meski dengan kewaspadaan ekstra.

Namun, episode ini hanya jeda singkat sebelum malapetaka kembali menyapa. Dua tahun kemudian, sebuah ‘kejutan’ lain dari ICD menyelamatkan nyawanya sekali lagi. Kejadian ini menegaskan bahwa strategi bertahan dengan ICD saja sudah tidak memadai. Beberapa bulan berikutnya, ia menjalani ablasi pada sisi kiri jantungnya. Pemulihan berjalan baik, namun tidak cukup untuk mengembalikan gairah bermain golfnya. Seiring berjalannya waktu, kelelahan kronis dan palpitasi kembali menghantuinya.

Dokter memberinya dua pilihan: terus bergantung pada ICD atau menjalani penilaian untuk transplantasi. Tanpa ragu, Patton memilih opsi kedua. Ia menjalani serangkaian tes intensif selama tiga minggu di Mater Hospital. Hasilnya, ia dinyatakan cocok. Dengan harapan baru, ia masuk dalam daftar tunggu. Namun, penantian ini datang dengan harga: mual parah, muntah, dan penumpukan cairan. Puncaknya, 12 September lalu, ia harus kembali dirawat di Mater karena masalah pada hasil tes ginjalnya. Kini, ia menjalani infus obat dua kali sehari, masing-masing berlangsung hingga empat jam.

Pesan dari Garis Depan: Sebuah Seruan untuk Memberi Kehidupan

Pria asal Donegal yang berprofesi sebagai detektif polisi ini menegaskan, menunggu transplantasi adalah siksaan yang tidak pandang bulu. Meskipun situasi di balik donasi organ sering kali diliputi kesedihan mendalam, ia tak henti menyerukan pentingnya percakapan terbuka dengan keluarga mengenai niat untuk menjadi donor. Sebuah percakapan yang bisa menjadi jembatan penyelamat bagi orang lain.

“Saya mohon kepada para keluarga, mari luangkan waktu untuk berbincang, pikirkan baik-baik, dan pertimbangkan secara serius tentang donasi organ,” pinta Patton dengan penuh harap. “Donasi organ dapat mengubah hidup penerima secara drastis. Sayangnya, saya takkan pernah bisa berterima kasih langsung kepada donor, takkan pernah bisa memeluk mereka untuk anugerah kehidupan yang mungkin akan saya terima.”

Hingga kini, telepon dari tim transplantasi Mater Hospital belum berdering. Patton terus menanti. Menunggu adalah ujian kesabaran, dan ini juga sangat memukul keluarganya. Jeda waktu yang lama membuatnya jarang bertemu anak-anaknya, dan hanya bisa bertemu istri di akhir pekan karena tuntutan pekerjaan serta jarak jauh antara Dublin dan Donegal. Namun, di tengah perjuangan melawan penyakit, ia berusaha tegar, menyimpan harapan untuk kembali berkumpul bersama keluarga, kembali memegang stik golfnya, dan menjalani hidup aktif yang normal.

Realitas Keras: Jurang Antara Harapan dan Ketersediaan Organ

Terpisah dari keluarga saat menunggu transplantasi bukanlah situasi yang mudah. Konsultan bedah toraks, Aisling Kinsella, menjelaskan bahwa mayoritas pasien di daftar tunggu berusaha untuk tetap berada di rumah selama mungkin. Namun, seperti Patton, sebagian lainnya terpaksa menghabiskan waktu berbulan-bulan di rumah sakit. Ironisnya, kelangkaan donor membuat tidak semua orang yang membutuhkan bisa mendapatkan transplantasi penyelamat hidup.

“Sebisa mungkin, pasien menunggu transplantasi di rumah,” ujar Kinsella. “Namun, jika kondisi memburuk hingga tidak memungkinkan untuk dirawat di rumah, mereka harus menunggu di rumah sakit. Ini bisa berlangsung berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Dari perspektif psikologis, ini sangat berat bagi pasien dan keluarga, terutama jika ada anak kecil di rumah.”

Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa semakin lama pasien menunggu, semakin rentan kondisi mereka saat operasi. Hal ini tentu saja membuat prosedur transplantasi menjadi lebih kompleks. “Jantung donor harus dihidupkan kembali dalam waktu empat jam, idealnya di bawah tiga jam. Ini sudah termasuk waktu transportasi yang bisa sangat bervariasi, serta proses operasi implantasi,” jelas Kinsella.

Kinsella dan timnya tak henti mengapresiasi para donor organ, keluarga mereka, dan semua pihak yang terlibat dalam proses krusial ini. “Kami ingin berterima kasih kepada seluruh keluarga donor yang telah memilih Gift of Life. Program transplantasi kami tidak akan berjalan tanpa kemurahan hati Anda di tengah masa sulit yang tak terbayangkan. Penghargaan setinggi-tingginya juga kami sampaikan kepada komunitas ICU, manajer perawat donasi organ (ODNMs), dan Organ Donation and Transplant Ireland (ODTI) atas kerja keras mereka. Kami juga sangat berterima kasih kepada Lifeline atas bantuan mereka dalam transportasi organ donor,” tuturnya.

Perubahan Regulasi dan Ajakan untuk Berbicara

Human Tissue Act 2024 telah memperkenalkan konsep bahwa organ seseorang secara otomatis tersedia untuk donasi setelah meninggal, kecuali jika ada penolakan yang terdaftar secara resmi. Namun, bahkan jika mendiang tidak terdaftar di sistem opt-out, keluarga terdekat tetap akan dihubungi untuk meminta persetujuan. Sebuah langkah yang mungkin membingungkan, namun bertujuan untuk memaksimalkan potensi penyelamatan nyawa.

Proses transplantasi jantung itu sendiri memakan waktu lima hingga enam jam, bergantung pada kondisi resipien. Jika pasien pernah menjalani operasi jantung sebelumnya, durasinya bisa membengkak menjadi delapan hingga sepuluh jam. Pascaoperasi, pasien bisa dirawat di rumah sakit selama enam hingga delapan minggu untuk pemulihan fisik, penyesuaian obat-obatan baru, serta pemantauan ketat terhadap tanda-tanda infeksi dan penolakan organ.

“Kami mengimbau masyarakat untuk membicarakan perasaan mereka mengenai donasi organ, terutama jika terjadi cedera katastrofik, dengan keluarga terdekat. Hadiah donasi organ ini dapat menyelamatkan hingga tujuh nyawa,” tegas Kinsella. Sebuah pengingat bahwa satu keputusan bisa berdampak luar biasa.

Séamus Patton sendiri mengungkapkan rasa terima kasihnya yang mendalam kepada para tenaga medis di Letterkenny dan Dublin yang telah merawatnya. Ia berharap dapat segera menjalani kehidupan yang sepenuhnya kembali. “Saya sangat bersyukur atas kepedulian mereka setiap hari, tidak hanya kepada pasien transplantasi tetapi semua pasien,” ujarnya penuh haru.

“Memang sulit untuk menunggu, tapi harapan akan kehidupan tidak pernah padam. Saya tidak meminta hal yang berlebihan, hanya ingin kembali menjalani hidup aktif, bermain golf, dan menghabiskan waktu bersama keluarga.” Sebuah aspirasi sederhana yang menjadi tujuan hidupnya saat ini.

Bagi yang ingin berkontribusi, kartu donor organ dapat diminta melalui situs ika.ie/donorcard. Sebuah langkah kecil yang berpotensi menjadi hadiah terbesar bagi orang lain.

Previous Post

Momo Cabut Gigi Demi Panggung: Sakitnya Nggak Main-Main!

Next Post

Air Eropa Merana: Ikan Air Tawar Nyaris Punah, Ancaman Nyata Bagi Kita

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *