Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Pixies Bubar: Fakta Faks & Dampak Perpecahan Band Ikonik Era 90-an

Membicarakan Pixies itu kayak lagi bongkar gudang: isinya kenangan, debu, dan kejutan yang bikin, “Oh, ternyata dulu gini toh ceritanya?” Band yang jadi kiblatnya “alternative rock” 90-an ini ternyata punya drama internal yang lebih seru dari sinetron.

Pixies Bubar: Lebih Dramatis dari Plot Twist Sinetron

Bayangkan, Black Francis, sang mastermind Pixies, memutuskan untuk membubarkan band bukan dengan konferensi pers atau konser perpisahan yang megah. Lebih parah dari ditinggal nikah mantan, Kim Deal, sang bassist, malah tahu dari… faks! Iya, faks. Di era itu, mungkin itu setara dengan pengumuman di status WhatsApp sekarang. Sungguh sebuah perpisahan yang epic sekaligus absurd.

Kalau dipikir-pikir, gaya Black Francis ini mirip David Byrne dari Talking Heads. Nggak perlu ribet, nggak perlu basa-basi. Langsung cabut aja. Tapi, kan, ya namanya juga band, masa iya bubar nggak ngomong dulu sama personel lain? Ini kayak main game, tiba-tiba rage quit tanpa bilang apa-apa.

Waktu itu, orang-orang mikir proyek solo Black Francis dan proyek Breeders-nya Kim Deal itu cuma sampingan. Eh, ternyata malah jadi sinyal bahwa Pixies sudah tamat. Kim Deal, yang lagi menikmati kesuksesan album “Last Splash” milik Breeders, cuma bisa geleng-geleng kepala sambil bilang, “Ya sudahlah…”

Kim Deal: Antara “No Aloha” dan Sindiran Oklahoma

“Formalitasnya harusnya gimana, ya?” kata Kim Deal dalam wawancaranya dengan Toronto Star sambil nyantai ngerokok. “Masa Charles (nama asli Black Francis) harus ngajak ketemuan di Oklahoma cuma buat ngomongin bubaran?” Mungkin Kim Deal waktu itu merasa seperti karakter di game yang ditinggal party-nya tanpa alasan yang jelas.

Setelah tur bareng U2 di “Zoo TV”, Kim Deal emang nggak pernah ngobrol lagi sama Black Francis. Padahal, tur itu bisa dibilang jadi batu loncatan buat band lain menuju ketenaran. Tapi, buat Pixies, itu justru jadi akhir dari segalanya. Mungkin mereka sadar, popularitas itu nggak selalu membawa kebahagiaan.

“Gue nggak tahu, deh,” jawab Kim Deal waktu ditanya apakah dia dendam soal cara bubarnya Pixies. “Gue seneng-seneng aja kok selama di Pixies. Lagian, juga nggak lagi di tengah-tengah apa-apa, kan? Nggak ada yang aneh, sih.” Sebuah jawaban yang lebih dingin dari es batu di kulkas mantan.

Banyak yang menduga lagu “No Aloha” dari album “Last Splash” itu adalah ungkapan hati Kim Deal soal bubarnya Pixies. “No bye, no aloha,” gitu kan liriknya. Tapi, Kim Deal membantah itu semua. Katanya, lagu itu udah dia tulis jauh sebelum drama faks itu terjadi. Jadi, bukan kode keras, ya.

Reuni Cash-Grab dan Drama Jilid Dua

Setelah sepuluh tahun berlalu, Black Francis akhirnya berubah pikiran. Pixies reuni di tahun 2004. Reuni ini kayak nostalgia main game lawas: seru sih, tapi nggak se-fresh dulu. Tapi, kali ini giliran Kim Deal yang merasa udah cukup. Waktu Black Francis mau bikin album baru, Kim Deal langsung cabut di tahun 2013. Mungkin dia merasa seperti karakter yang udah mencapai ending dan nggak mau lanjut ke season berikutnya.

Posisi Kim Deal digantikan oleh Paz Lenchantin di tiga album Pixies berikutnya. Sementara itu, Kim Deal merilis album solo perdananya di tahun 2024 yang berjudul “Nobody Loves You More”. Sebuah judul yang mungkin jadi sindiran halus buat Black Francis? Entahlah, hanya Kim Deal dan Tuhan yang tahu.

Warisan Pixies: Lebih dari Sekadar Pengaruh “Alternative Rock”

Tapi, mari lupakan sejenak drama internal Pixies. Band ini udah ninggalin warisan yang nggak ternilai harganya. Pengaruh mereka ke musik “alternative rock” 90-an itu nggak bisa dipungkiri. Banyak band yang niru gaya musik Pixies, mulai dari dinamika vokal yang unik sampai lirik yang absurd.

Pixies itu kayak blueprint buat band-band indie zaman sekarang. Mereka nunjukkin bahwa musik itu nggak harus selalu lurus dan serius. Kadang, kegilaan dan keanehan itu justru jadi daya tarik tersendiri. Mereka adalah easter egg di dunia musik yang baru kita sadari setelah sekian lama.

Jadi, buat kamu yang lagi dengerin Pixies, jangan cuma nikmatin musiknya aja. Coba deh gali lebih dalam soal sejarah dan drama di balik band ini. Dijamin, pengalaman dengerin Pixies bakal jadi lebih seru dan bermakna. Siapa tahu, kamu jadi terinspirasi buat bikin band sendiri dan menciptakan drama yang lebih heboh dari Pixies. Tapi, jangan lupa, komunikasi itu penting, ya. Jangan sampai bubar cuma gara-gara faks!

Pelajaran dari Kisah Pixies: Komunikasi Itu Penting, Bro!

Kisah Pixies ini ngasih kita pelajaran penting: dalam sebuah tim (apalagi band), komunikasi itu segalanya. Jangan sampai ada keputusan penting yang cuma diumumin lewat faks atau status WhatsApp. Itu sama aja kayak main game tanpa voice chat: nggak seru dan bikin kesel.

Jadi, kalau kamu punya band atau lagi kerja dalam tim, usahain buat selalu terbuka dan jujur satu sama lain. Jangan ada yang main belakang atau ngambil keputusan sepihak. Ingat, band itu kayak keluarga. Kalau ada masalah, selesain baik-baik. Jangan sampai bubar cuma gara-gara drama yang nggak penting. Karena, ya, drama itu lebih cocok buat sinetron, bukan buat band yang punya potensi buat jadi legenda.

Previous Post

Breach Rainbow Six Siege: Ubisoft Matikan Server Akibat Serangan Hacker Besar!

Next Post

Finn Brink Bawa Wisconsin Unggul Atas Lake Superior di Holiday Face-Off!

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *