Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Prewn: Kisah Disosiasi Jadi Indie Rock Bitter Manis Yang Memikat Hati

Pernah merasa hidup ini kayak main game yang levelnya nggak naik-naik? Padahal udah grinding siang malam, eh, ternyata yang salah bukan build karakter, tapi sistemnya yang ngaco. Nah, kalau musik bisa jadi soundtrack buat kegalauanmu, Prewn, solois asal Chicago ini, punya album yang pas buat menemani fase “kok gini amat, ya?” dalam hidupmu.

Prewn: Antara Disosiasi dan Indie Rock yang Nendang

Izzy Hagerup, atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Prewn, sering menyebut musiknya sebagai representasi dari “disosiasi” – sebuah kondisi emosional di mana seseorang merasa terputus dari realitas. Tapi, jangan bayangkan musiknya bakal bikin kamu auto-melankolis dan pengen rebahan seharian. Justru sebaliknya, Prewn menawarkan indie rock yang pahit tapi ampuh, lengkap dengan gitar yang berliuk-liuk dan vokal yang mengingatkan pada Fiona Apple di masa jayanya. Ada juga sentuhan trip-hop yang bikin albumnya makin menarik.

Buat Prewn, musik adalah cara untuk terhubung dengan emosi, bahkan emosi yang terasa terputus sekalipun. “Sehari-hari, aku cenderung menekan perasaan-perasaan itu. Tapi, pas main gitar, ada sesuatu yang menarik perhatianku, sesuatu yang membuatku bisa melepaskan semua beban yang udah aku pendam selama berminggu-minggu,” ujarnya.

System: Album yang Lahir dari Tekanan Hidup di Usia 20-an

Album terbaru Prewn, “System”, adalah hasil dari proses kreatif yang bisa dibilang cukup menyakitkan. Hagerup mengaku sering begadang semalaman, memaksakan diri untuk menulis sampai akhirnya ide-ide itu muncul. Kalau didengarkan secara seksama, album ini seperti potret perjuangan anak muda di usia 20-an yang sedang berusaha mencari jati diri dan menghadapi tekanan dari sistem yang ada.

Salah satu lirik dalam lagunya, “Easy”, berbunyi “I was sniffing a flower but I snorted a bug” (aku mencium bunga tapi malah menghirup serangga). Lirik ini menggambarkan bagaimana Hagerup begitu piawai dalam menangkap momen-momen ketika emosi kita bisa berbalik arah dalam sekejap. Kadang, niatnya mau mencari kebahagiaan, eh, malah dapat zonk.

Ketika Depresi Jadi Inspirasi: Mengubah Rasa Sakit Jadi Karya Seni

“Dulu, aku nggak sadar kalau aku lagi depresi. Rasanya kayak ngeliatin rambut tumbuh, kamu nggak sadar kalau kamu udah sampai di titik yang nggak kamu suka,” kata Hagerup. “Aku sering merasa malu karena merasa depresi padahal di dunia ini ada banyak hal indah. Tapi, itu cuma cara lain untuk menghakimi diri sendiri ketika kamu lagi terpuruk.”

Proses pembuatan “System” memang terdengar berat. Tapi, Hagerup percaya bahwa tekanan yang dialami di usia 20-an adalah hal yang wajar. “Semoga, seiring bertambahnya usia dan semakin nyamannya aku dengan diri sendiri, aku bisa mendekati musik dari sudut pandang yang nggak terlalu putus asa,” ujarnya. “Dulu, ada banyak ketakutan yang terlibat di dalamnya, tapi sekarang rasanya udah balik lagi kayak dulu, musik itu buat kesenangan sesaat.”

Dari Massachusetts ke Los Angeles: Mencari Tempat yang Nggak Pernah Dibayangkan

Hagerup tumbuh besar di dunia musik di Massachusetts Barat, sebuah tempat yang pernah menjadi rumah bagi Kim Gordon dan Thurston Moore (Sonic Youth). J Mascis (Dinosaur Jr) juga sering terlihat bersepeda di sekitar tempat tinggal Hagerup. “Dia pakai helm!” katanya. “Aku suka banget daerah ini. Tempatnya indah tapi nggak terlalu ramai. Dulu, aku belum pernah terlibat di DIY scene. Aku kaget, ternyata kita bisa bikin acara sendiri?! Melihat semua kerja keras yang dilakukan komunitas itu indah banget. Itu mengubah hidupku dan memberiku keberanian untuk bermusik lebih serius.”

Namun, pada musim panas lalu, Hagerup memutuskan untuk pindah ke Los Angeles. “Aku mikir, gimana kalau aku pergi ke tempat yang nggak pernah aku bayangkan?” ujarnya. Sebuah langkah yang cukup berani, mengingat Los Angeles adalah kota yang penuh dengan persaingan dan gemerlap dunia hiburan.

Kejujuran dalam Kegelapan: Mengapa Musik Prewn Begitu Menyentuh?

Sejak merilis debutnya, “Through the Window”, pada tahun 2023, Hagerup seringkali mendapati para penggemarnya terkejut dengan kegelapan dalam musiknya. “Aku pikir musik yang paling kuat adalah musik yang paling jujur,” katanya. “Kalau di sini udah mulai gelap, ya udah, kejar aja.”

Meskipun seringkali bernyanyi tentang menyerah, “System” juga penuh dengan pengingat untuk tidak takut pada “suara hatimu yang hancur, berdetak, menetes, terengah-engah”, seperti yang ia nyanyikan dalam lagu “Don’t Be Scared”. Sebuah pesan yang relevan bagi banyak anak muda yang sedang berjuang dengan masalah kesehatan mental.

Musik Sebagai Katarsis: Menjelajahi Sisi Gelap untuk Menemukan Cahaya

“Itu hal lain yang aku hargai dari musik,” kata Hagerup. “Kalau kamu nggak masuk ke sisi gelap yang dalam, aku nggak tahu gimana kamu bisa masuk ke sisi terang yang dalam.” Sebuah pernyataan yang cukup kontroversial, tapi ada benarnya juga. Kadang, untuk bisa menemukan kebahagiaan, kita memang perlu berani menghadapi rasa sakit dan kegelapan dalam diri kita.

Prewn dan Generasi yang Merasa Disconnected: Relevankah?

Di tengah gempuran musik pop yang serba instan dan generik, Prewn hadir dengan musik yang jujur, mentah, dan penuh emosi. Musiknya mungkin nggak cocok untuk semua orang, tapi bagi mereka yang merasa disconnected dari dunia, musik Prewn bisa jadi teman yang tepat. Musik yang nggak cuma menghibur, tapi juga mengajak untuk merenung dan menghadapi kenyataan hidup yang kadang memang nggak seindah filter Instagram.

Musiknya Gelap? Ya Terus Kenapa?

Prewn nggak takut untuk mengeksplorasi sisi gelap dalam dirinya dan menuangkannya ke dalam musik. Sebuah keberanian yang patut diapresiasi. Di dunia yang serba palsu dan penuh kepura-puraan ini, kejujuran adalah sebuah kemewahan. Dan Prewn menawarkan kemewahan itu lewat musiknya.

Jadi, kalau kamu lagi merasa hidup ini kayak bug dalam sistem, coba dengerin album “System” dari Prewn. Siapa tahu, kamu bisa menemukan sesuatu yang relate dan bikin kamu merasa nggak sendirian. Atau paling nggak, kamu jadi punya soundtrack yang pas buat menemani kegalauanmu.

Previous Post

WiseCode: Aplikasi AI Bantu Pilih Makanan Sehat & Transparan, Cocok Buat Generasi Z!

Next Post

PfEMP1: Terobosan Sistem SLI Ungkap Rahasia Malaria & Target Imunitas

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *