Pernah nggak sih lo ngerasa kayak John Lennon di konser One to One? Gugup, penuh energi, tapi juga sedikit slenge’an? Nah, kabarnya album “Power to the People” ini kayak mau ngasih kita semua kesempatan buat ngerasain sensasi itu. Bedanya, Lennon ditemenin band NYC bernama Elephant’s Memory, dan mungkin lo cuma ditemenin kopi sachet di kosan.
Lennon dan Energi Gugup di Panggung: Sebuah Interpretasi Gaya Mojok
Di konser One To One, Lennon kelihatan banget punya energi yang kayaknya pengen meledak. Energi ini pas banget sama musik *sleazeball boogie* dari Elephant’s Memory, band lokal NYC yang lumayan terkenal karena ikut nyumbang soundtrack buat film Midnight Cowboy. Elephant’s Memory jadi band pengiring buat album Some Time, tapi kayaknya mereka terlalu santai buat ngejalanin konser One To One tanpa bantuan drummer Jim Keltner. Jim Keltner ini yang bantu bikin penampilan mereka jadi lebih serius dan punya *swing* yang nendang.
Power to the People ini dibuka dengan penampilan One To One—dua set konser, plus satu disk berisi highlight. Ini nunjukkin gimana Lennon ngabisin masa-masa awal tahun 70-an dengan asyik menikmati musik *rock’n’roll* jadul. Bahkan waktu dia dan Ono lagi *freak-out* improvisasi bareng Frank Zappa & the Mothers of Invention, dasarnya tetep aja perubahan tiga kunci yang sederhana. Hampir semua lagu yang ditulis John dan Yoko di masa ini emang sengaja dibuat simpel: “Sisters, O Sisters” itu kayak lagu *girl group* yang digeber, “Attica State” dan “John Sinclair” itu *blues* yang lurus-lurus aja, “The Luck of the Irish” itu balada *folk*, ”New York City” itu *boogie* Chuck Berry yang kenceng banget.
“Woman is the N***** of the World”: Kenapa Lagu Kontroversial Itu Dihapus?
Ada satu lagu yang nggak ada di album ini, padahal lagu itu sebenernya pengecualian dari aturan yang ada: “Woman is the N***** of the World.” Lagu ini sebenernya penghormatan *wall-of-sound* yang lebay, niatnya sih jadi lagu kebangsaan solidaritas feminis. Katanya, inspirasinya dateng dari slogan yang kemungkinan diambil Yoko Ono dari salah satu baris di novel Their Eyes Were Watching God karya Zora Neale Hurston. Tapi kenapa malah diilangin?
Box set ini nggak nyantumin lagu itu (padahal Lennon milih lagu itu jadi single buat album Some Time), dan ngehapus lagu itu dari *mix* baru album dan konser yang nyertain. Nggak adanya lagu itu kayaknya mau ngubah cerita, biar fokusnya ke gimana Lennon terus-terusan balik ke *rock’n’roll* tahun 1950-an di masa yang lagi bergejolak ini. Kalau dibiarin sendiri, dia malah nyanyi lagu-lagu jadul: disk terakhir di sini itu “Home Jam,” isinya dia lagi duduk-duduk di rumah sambil mainin lagu-lagu Everly Brothers dan Buddy Holly. Di “Studio Jam,” Lennon ngajak band-nya buat bawain lagu-lagu *rocker* Jerry Lee Lewis dan Elvis Presley. Bagian-bagian ini emang kedengeran lepas banget, mungkin malah terlalu lepas, tapi tetep aja charming. Kita bisa denger salah satu vokalis *rock* terbaik nyanyi tanpa beban di depan penonton.
Nge-Jam di Rumah: Ketika Lennon Jadi Lebih Jujur dari Chat Sama Gebetan
Dua disk berisi *jam session* informal ini jadi *coda* yang pas buat Power to the People, yang nyeritain masa-masa ketika Lennon sadar banget kalau dia lagi tampil setiap saat. Bukan cuma karena dia lagi main konser live pertamanya sejak The Beatles bubar. Lennon dan Ono ada di mana-mana di tahun 1971 dan 1972, pergi ke Ann Arbor buat main di acara buat ngebebasin John Sinclair, mainin lagu bareng Phil Ochs di kamar hotel, nerima hampir semua tawaran buat tampil di TV, kayak pas mereka muncul di acara telethon Jerry Lewis Muscular Dystrophy.
Versi *reggae* dari “Give Peace a Chance” yang diambil dari acara telethon itu nampilin Lewis sendiri sebagai bagian dari paduan suara di panggung; penampilannya kayak ngebuktiin betapa anehnya masa-masa itu. Walaupun dia udah ikutan kegiatan di bawah tanah kaum kiri, Lennon tetep aja jadi salah satu orang paling terkenal di dunia, dan dia pake platform *mainstream* buat nyebarin politik ke banyak orang. Perbedaan yang mencolok dari persimpangan ini tetep aja menarik, bahkan setelah berita utamanya udah lama ilang.
Dari Panggung ke Telethon: Lennon, Ono, dan Misi Perdamaian yang Omnipresent
Di satu sisi, kita ngeliat Lennon yang idealis, pengen dunia jadi tempat yang lebih baik. Di sisi lain, ada Lennon yang nggak bisa lepas dari status selebritasnya. Dia ada di acara amal, di acara TV, bahkan di acara politik. Semua dilakuin demi satu tujuan: nyebarin pesan perdamaian. Tapi, apakah ini beneran tulus, atau cuma taktik marketing buat naikin popularitas?
Pertanyaan ini kayaknya nggak bakal pernah ada jawabannya. Tapi yang jelas, Lennon dan Ono berhasil bikin kita semua mikir. Mereka nunjukkin kalau musik bisa jadi alat buat ngubah dunia, walaupun kadang caranya agak aneh dan nggak masuk akal. Dan di dunia yang serba aneh dan nggak masuk akal ini, mungkin kita emang butuh sosok kayak Lennon dan Ono.
Lennon Setelah The Beatles: Mencari Jati Diri di Tengah Kekacauan Dunia
Setelah The Beatles bubar, Lennon kayaknya lagi nyari jati dirinya. Dia nyoba berbagai macem hal, dari musik *rock’n’roll* jadul sampe politik radikal. Dia kelihatan kayak orang yang lagi bingung, tapi juga kayak orang yang lagi semangat-semangatnya nyari sesuatu yang baru. Masa-masa ini bisa dibilang masa yang paling eksperimental dalam karir Lennon. Dia nggak takut buat nyoba hal-hal yang aneh, bahkan kadang kontroversial.
Album *Power to the People* ini kayak rangkuman dari semua eksperimen itu. Kita bisa denger Lennon yang gugup di panggung, Lennon yang *freak-out* bareng Zappa, Lennon yang nyanyi lagu-lagu jadul di rumahnya. Semua jadi satu kesatuan yang utuh, nunjukkin kalau Lennon itu emang sosok yang kompleks dan nggak bisa ditebak.
Musik Sebagai Alat Politik: Apakah Lennon Beneran Tulus?
Lennon bukan cuma musisi, tapi juga aktivis politik. Dia pake musiknya buat nyebarin pesan perdamaian dan kesetaraan. Tapi, apakah dia beneran tulus, atau cuma pengen cari perhatian? Pertanyaan ini sering banget muncul setiap kali ada musisi yang nyoba buat ngomongin politik.
Susah buat ngejawab pertanyaan ini. Tapi yang jelas, Lennon berhasil bikin kita semua mikir tentang isu-isu penting. Dia nunjukkin kalau musik bisa jadi alat yang ampuh buat ngubah dunia, walaupun kadang caranya nggak sempurna. Dan di dunia yang penuh ketidaksempurnaan ini, mungkin kita emang butuh sosok kayak Lennon, yang nggak takut buat ngomong apa yang ada di pikirannya, walaupun kadang kontroversial.
John Lennon: Antara Selebritas dan Aktivis, Mana yang Lebih Dominan?
Lennon itu selebritas, tapi juga aktivis. Dia pake ketenarannya buat nyebarin pesan politiknya. Tapi, kadang susah buat ngebedain mana Lennon yang selebritas, mana Lennon yang aktivis. Apakah dia beneran peduli sama isu-isu politik, atau cuma pengen naikin popularitasnya?
Kita nggak bakal pernah tau jawabannya. Tapi yang jelas, Lennon berhasil bikin kita semua mikir tentang peran selebritas dalam politik. Dia nunjukkin kalau selebritas punya kekuatan buat ngubah dunia, tapi mereka juga punya tanggung jawab buat nggak nyalahgunain kekuatan itu. Dan di dunia yang penuh selebritas dan politik ini, mungkin kita emang butuh sosok kayak Lennon, yang nggak takut buat ngomong apa yang ada di pikirannya, walaupun kadang kontroversial.
“Power to the People”: Lebih dari Sekadar Album Kompilasi?
Jadi, apakah Power to the People ini cuma sekadar album kompilasi? Kayaknya nggak juga. Album ini kayak rangkuman dari masa-masa paling eksperimental dalam karir Lennon. Kita bisa denger Lennon yang gugup di panggung, Lennon yang *freak-out* bareng Zappa, Lennon yang nyanyi lagu-lagu jadul di rumahnya. Semua jadi satu kesatuan yang utuh, nunjukkin kalau Lennon itu emang sosok yang kompleks dan nggak bisa ditebak.
Dan yang lebih penting lagi, album ini bikin kita semua mikir tentang peran musik dalam politik, peran selebritas dalam politik, dan peran kita semua dalam ngubah dunia. Jadi, kalo lo lagi nyari album yang nggak cuma enak didenger, tapi juga bikin lo mikir, Power to the People ini bisa jadi pilihan yang tepat. Siapa tau, abis dengerin album ini, lo jadi pengen ikutan nyebarin pesan perdamaian dan kesetaraan kayak Lennon. Atau, minimal, lo jadi lebih sadar sama isu-isu penting yang ada di sekitar lo.
Intinya, “Power to the People” itu kayak kuliah filsafat yang dibungkus konser *rock*. Nggak bakal bikin lo langsung pinter, tapi pasti bikin lo mikir. Dan di dunia yang isinya cuma joged TikTok dan *scroll* Instagram, mikir itu udah termasuk *privilege* yang mewah.


