Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Produser ‘How to Make Millions’: Dari Nenek ke Romantis Sandler, Ini Kalkulasinya

Selamat, GDH 559! Setelah meledakkan pasar internasional dengan “How to Make Millions Before Grandma Dies,” produser Vanridee Pongsittisak sepertinya tidak mau kehilangan momentum. Kini, proyek terbarunya malah lebih nyentrik: film yang berpusat pada anjing, dan yang lebih mengagetkan lagi, remake dari komedi romantis legendaris Adam Sandler. Ya, Anda tidak salah baca, “50 First Dates” akan segera hadir dalam balutan budaya Thailand. Siap-siap saja, karena dunia perfilman Thailand tampaknya akan membuat gebrakan yang lebih besar lagi.

Proyek ambisius ini adalah adaptasi film “50 First Dates” tahun 2004 yang dibintangi Adam Sandler dan Drew Barrymore. GDH 559 berkolaborasi dengan Sony Pictures International Productions untuk menghadirkan sentuhan Thailand pada kisah klasik ini. Keputusan Pongsittisak untuk menggarap remake ini cukup mengejutkan, mengingat ia dikenal sebagai produser yang enggan menyentuh ulang karya yang sudah ada. Namun, baginya, film orisinalnya memiliki daya tarik personal yang sulit ditolak. “Dulu, saya tidak pernah tertarik membuat remake,” ujar Pongsittisak kepada Variety. “Namun, ’50 First Dates’ adalah pengecualian, sebagian karena film aslinya benar-benar saya cintai.”

Dua faktor utama melancarkan jalan Pongsittisak untuk menggarap materi ini. Pertama, rentang waktu hampir dua dekade sejak film orisinalnya dirilis. Jeda waktu ini memberikan ruang yang cukup luas untuk memikirkan kembali film tersebut dengan lensa budaya Thailand kontemporer. Faktor kedua adalah kekuatan ide sentralnya. Dalam pandangannya, inti emosional film ini adalah tentang bagaimana belajar hidup di masa kini – sebuah tema yang ia yakini memiliki resonansi yang lebih kuat di zaman sekarang dibandingkan saat film itu pertama kali muncul. Tujuannya bukan untuk meniru setiap adegan, melainkan menemukan kebenaran emosional di dalamnya dan membuatnya terasa autentik Thailand.

Insting untuk menemukan universalitas dalam lokalitas telah menjadi ciri khas karya Pongsittisak di GDH, di mana kekayaan intelektual orisinal menjadi inti identitas perusahaan. “Apa yang kami buat harus milik kami, tetapi bagaimana kami membuatnya haruslah kelas dunia,” jelasnya, merangkum filosofi studio. “Kami menceritakan kisah kami sendiri, namun kami menyajikannya dengan keahlian pembuatan film yang memenuhi standar internasional.” Pendekatan ini terbukti sangat menguntungkan.

Kerja keras tersebut membuahkan hasil manis melalui “How to Make Millions Before Grandma Dies,” sebuah drama Thailand tahun 2024 yang sukses besar melampaui pasar domestiknya. Pongsittisak mengaitkan jangkauan lintas budayanya dengan fondasi cerita yang kuat pada subjek universal – kesenjangan generasi dalam keluarga modern. Kisah ini disampaikan melalui dua karakter yang memiliki jurang pemisah terbesar: seorang cucu dan neneknya. “Pengalaman emosional bersama – tentang keluarga, jarak, dan penyambungan kembali – adalah sesuatu yang dapat dikenali penonton di seluruh dunia dalam kehidupan mereka sendiri,” tuturnya.

Sukses “Grandma” ini mulai membentuk ulang posisi GDH di pasar internasional. Pongsittisak mencatat bahwa studio-studio internasional, termasuk dari Hollywood, Tiongkok, India, dan Korea – pasar yang telah lama berinteraksi dengan Thailand terutama untuk layanan produksi – kini mendekati GDH dengan peluang koproduksi yang berfokus pada cerita-cerita dengan akar lokal yang kuat namun berpotensi global. “Ini datang dari kepercayaan pada kemampuan bercerita kami,” ujarnya, “kemampuan kami untuk mengambil emosi universal itu dan membuatnya terhubung lintas budaya yang berbeda.”

Anjing, Romansa, dan Identitas Thailand

Proyek terdekat yang akan segera hadir adalah “Gohan,” sebuah film yang digambarkan Pongsittisak sebagai film yang intim dan jujur secara emosional, sejalan dengan semangat “Grandma.” Cerita ini berpusat pada hubungan antara manusia dan hewan – khususnya anjing – sebuah tema yang pernah dieksplorasi GDH dalam iterasi sebelumnya yang belum terwujud. “Baru pada versi ‘Gohan’ inilah segalanya akhirnya menyatu dengan cara yang benar,” ungkapnya.

Perhatian industri terhadap “Gohan” sudah sangat besar. Film ini berhasil mendapatkan distribusi di Asia Tenggara, sebagian Asia Timur, dan wilayah Benelux sebelum pemutaran promo reel-nya di EFM Berlin awal tahun ini. Di sana, film ini juga berhasil menutup kesepakatan untuk Amerika Latin dan Skandinavia. Pemutaran khusus film penuh untuk pembeli di Hong Kong FilMart telah laris manis, dengan minat kuat juga dilaporkan dari Eropa Timur, Australia dan Selandia Baru, India, Amerika Utara, dan Spanyol. Film ini dijadwalkan untuk gala premiere-nya di Thailand pada 30 Maret, sebelum rilis teatrikal di seluruh negeri pada 2 April.

Pongsittisak mengaitkan pengalaman “Grandma” dengan penguatan keyakinannya pada kekuatan cerita-cerita sederhana dan personal. Film ini dikembangkan selama pandemi, ketika bahkan kemungkinan produksi pun tidak pasti. Ia menyatakan bahwa ketidakpastian tersebut, secara paradoks, justru membebaskan. “Kami hanya fokus menceritakan kisah sejujur mungkin,” kenangnya. “Dan entah bagaimana, pendekatan yang sangat personal itu memungkinkan film untuk bepergian lebih jauh daripada apa pun yang pernah kami lakukan sebelumnya.”

Pandangan ke depan, Pongsittisak menegaskan ambisi GDH tidak ditentukan oleh skala demi skala itu sendiri, melainkan oleh pertumbuhan kreatif yang berkelanjutan. “Kami tidak membuat film dengan pola pikir untuk selalu mengejar kesuksesan,” katanya. “Yang lebih penting bagi kami adalah terus bergerak maju – untuk terus tumbuh, bereksperimen, dan melihat ke mana cerita selanjutnya akan membawa kami.” Pilihan untuk mengambil “50 First Dates” adalah bukti nyata dari keinginan ini: sebuah upaya untuk mengambil sesuatu yang dikenal luas, membedahnya, dan merakitnya kembali menjadi sesuatu yang terasa segar dan autentik secara lokal, sembari tetap mempertahankan esensi emosional yang membuatnya dicintai di awal.

Adaptasi Klasik, Sentuhan Lokal: Tantangan Identitas

Mengadaptasi film yang sudah mendunia seperti “50 First Dates” bukanlah tugas ringan. Tantangan terbesarnya terletak pada bagaimana menyeimbangkan penghormatan terhadap materi sumber dengan kebutuhan untuk menyuntikkan identitas Thailand yang kuat. Ini bukan sekadar mengganti latar atau nama karakter; ini melibatkan penafsiran ulang dinamika hubungan, norma sosial, dan nuansa budaya yang mungkin sangat berbeda antara Amerika dan Thailand. Pongsittisak menyadari hal ini sepenuhnya, menekankan bahwa tujuannya adalah menemukan “kebenaran emosional” film tersebut dan membuatnya terasa “benar-benar Thailand.”

Proses ini kemungkinan akan melibatkan pertimbangan yang cermat terhadap representasi, dialog, dan bahkan ritme penceritaan agar selaras dengan ekspektasi audiens Thailand. Apakah humor dalam film orisinal akan diterjemahkan secara efektif? Bagaimana cara menggambarkan fenomena amnesia anterograde dalam konteks budaya yang mungkin memiliki pendekatan berbeda terhadap kesehatan mental dan hubungan romantis? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan kompleks yang harus dijawab oleh tim produksi GDH.

Lebih jauh lagi, keputusan untuk menggarap remake ini, di tengah kesuksesan besar karya orisinal GDH, juga menunjukkan sebuah pergeseran strategis atau setidaknya diversifikasi pendekatan. Sementara GDH telah membangun reputasi kuat untuk cerita-cerita orisinal yang mendalam dan lokal, pelukan terhadap IP yang sudah ada menunjukkan kesiapan untuk mengeksplorasi berbagai jalur kreatif. Ini bisa menjadi langkah cerdas untuk memperluas jangkauan mereka, sekaligus memanfaatkan daya tarik global dari judul-judul yang sudah dikenal.

Keberhasilan proyek “Gohan” yang berfokus pada anjing, ditambah dengan remake “50 First Dates”, mengindikasikan bahwa GDH 559 tidak takut untuk mengambil risiko. Mereka tampaknya memahami bahwa koneksi emosional, baik melalui kisah-kisah orisinal yang menyentuh hati maupun melalui interpretasi ulang cerita-cerita yang sudah dicintai, adalah kunci untuk menembus batas-batas pasar global. Ini adalah pertaruhan yang menarik, dan dunia perfilman internasional akan mengamati dengan seksama bagaimana GDH 559 menavigasi dualitas antara mempertahankan akar budaya mereka sambil merangkul narasi universal dalam format yang baru.

Previous Post

Cokelat & Yogurt Bikin Panjang Umur? Mitos atau Fakta Makanan Fermentasi

Next Post

Budi Gema Gempita: Tambang Batu Bara Naik Kelas, Produksi Melonjak Tujuh Kali Lipat

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *