Dunia esports memang kejam, ya kan? Ibarat lagi asyik-asyiknya nge-date, eh, tiba-tiba diputusin tanpa alasan yang jelas. Begitulah kira-kira yang dirasakan para penggemar 100 Thieves setelah tim kesayangan mereka, yang digadang-gadang bakal jadi kuda hitam di Worlds 2025, harus angkat koper lebih awal. Padahal, baru juga kemarin sore kita semua terpesona dengan aksi heroik mereka melawan T1. Tapi, ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur, yang penting jangan sampai jadi bubur ayam yang diaduk.
Kekalahan memang selalu pahit, apalagi kalau dialami oleh tim yang punya potensi besar. Namun, di balik semua kesedihan itu, ada satu sosok yang tetap tegar dan mencoba untuk melihat sisi positif dari semua ini: Lim “Quid” Hyeon-seung, sang midlaner andalan 100 Thieves. Dalam wawancara eksklusif dengan Sheep Esports, Quid mengungkapkan perasaannya setelah kekalahan tersebut, rencana masa depannya, dan kenangan manis selama berseragam 100 Thieves.
Buat yang belum tahu, Quid ini sudah hampir tiga tahun lamanya membela 100 Thieves. Selama itu, tentu saja banyak suka dan duka yang ia alami. Dari mulai masa-masa sulit karena masalah visa dan scrim yang kurang lancar, hingga akhirnya bisa membuktikan diri dan tampil apik di panggung Worlds. Perjalanan yang nggak bisa dibilang mudah, tapi justru itulah yang membuat Quid semakin matang sebagai pemain dan pribadi.
Tapi, kenapa ya, kekalahan 100 Thieves ini terasa begitu menyakitkan? Mungkin karena kita semua berharap terlalu tinggi sama mereka. Atau mungkin juga karena kita sudah terlalu lama haus akan prestasi tim-tim LCS di kancah internasional. Yang jelas, kekalahan ini jadi tamparan keras buat kita semua bahwa dunia esports itu nggak seindah drama Korea. Ada kalanya kita menang, ada kalanya kita harus menerima kenyataan pahit.
Quid: Antara Bangga dan Sedih
Dalam wawancaranya, Quid nggak menampik bahwa ia merasa sedih dengan hasil yang diraih timnya. Apalagi, menurutnya, mereka sebenarnya punya peluang untuk memenangkan kedua game melawan T1. “Di game pertama, aku merasa bisa bermain lebih baik. Di game kedua juga sebenarnya nggak terlalu sulit. Andai saja kami bisa memenangkan beberapa teamfight lagi, mungkin hasilnya akan berbeda,” ujarnya.
Meski begitu, Quid tetap merasa bangga dengan pencapaian timnya yang bisa lolos ke Worlds. Ia juga mengaku sangat menikmati bermain dengan roster yang ada saat ini. “Aku bangga dengan timku karena kami bisa sampai di Worlds. Aku sangat senang bermain dengan roster ini. Hanya saja, aku merasa hasil hari ini seharusnya bisa lebih baik,” lanjutnya.
Quid juga bercerita tentang bagaimana suasana tim setelah kekalahan di game pertama. “Setelah kalah, kami saling mengingatkan bahwa game-nya sangat ketat dan seharusnya kami bisa menang. Kami terus mencoba untuk berpikir positif dan percaya bahwa kami bisa menang karena kami lebih baik. Kami mencoba untuk menjaga mindset itu,” ungkapnya.
Pelajaran Berharga dari 100 Thieves
Selama hampir tiga tahun membela 100 Thieves, Quid mengaku banyak belajar tentang gameplay dan cara menjadi pemain yang lebih baik. Namun, ada satu hal yang menurutnya paling penting: menikmati bermain dengan rekan satu tim, siapapun mereka. “Dalam latihan, penting untuk menjaga suasana yang baik agar semua orang bisa menikmati kebersamaan dan terus berkembang sebagai tim,” jelasnya.
Selain itu, Quid juga merasa bahwa ia telah tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa setelah bergabung dengan 100 Thieves. “Dulu, aku hanya fokus pada game dan ingin bermain dengan baik. Tapi sekarang, aku lebih peduli tentang apa yang orang lain pikirkan, apa yang rekan satu timku pikirkan, dan tentang bersikap baik dan dekat satu sama lain. Jadi ya, aku juga sudah tumbuh sebagai pribadi,” katanya.
Ketika ditanya tentang perasaannya karena harus berpisah dengan roster 100 Thieves saat ini, Quid mengaku sangat sedih. “Aku sangat sedih karena ini adalah tahun terakhirku di 100 Thieves. Seperti yang sudah kubilang, aku sudah banyak belajar dari tim ini dan mendapatkan banyak hal. Mereka adalah orang-orang yang memberiku kesempatan untuk bermain di liga besar, dan aku sangat menyukai organisasi ini beserta roster kami. Ini sangat menyedihkan, tapi aku sudah menikmati banyak waktu bersama mereka. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada 100 Thieves untuk segalanya,” ujarnya dengan nada haru.
Mengenang Masa Indah Bersama 100 Thieves
Quid juga mengungkapkan kenangan favoritnya selama berseragam 100 Thieves. “Aku akan bilang saat kami lolos ke Worlds tahun lalu, karena semua orang meragukan kami dan tidak berpikir kami akan lolos ke playoff. Saat kami tereliminasi tahun lalu, aku hampir menangis saat melakukan wawancara terakhirku—itu adalah kenangan terpenting yang akan kukenang,” ungkapnya.
Ia juga mengaku bangga dengan pencapaiannya di 100 Thieves, meski ada sedikit penyesalan tentang bagaimana perjalanannya di sana harus berakhir. “Aku bangga dengan karierku di 100 Thieves. Tapi aku akan ingat saat pertama kali bergabung—aku punya roster yang kuat dan rekan satu tim yang berpengalaman, tapi aku tidak bermain dengan baik. Tahun itu cukup berat, dan aku minta maaf tentang itu. Aku banyak belajar dari pengalaman itu,” katanya.
Kemana Quid Akan Berlabuh Selanjutnya?
Lalu, apa yang akan dilakukan Quid setelah ini? Apakah ia akan tetap bermain di LCS, atau akan mempertimbangkan liga lain? “Secara pribadi, aku tidak masalah kemana aku pergi, tapi aku belum memenangkan gelar juara. Aku ingin bergabung dengan tim yang bisa memenangkan kejuaraan. Jika memungkinkan, aku juga ingin bergabung dengan tim dengan suasana yang baik,” jawabnya.
Ketika ditanya apakah ada rekan satu tim tertentu yang ingin ia ajak bermain bersama lagi tahun depan, Quid menjawab, “Sejujurnya, aku tidak punya pemain yang secara spesifik ingin kuajak bermain bersama, tapi jika aku tetap di Amerika Utara, aku ingin bekerja dengan Spookz (Samuel Broadle), asisten pelatihku. Dia sangat bagus dalam menjaga suasana positif dan memastikan kami saling mendukung dan menyemangati satu sama lain.”
Terakhir, Quid menyampaikan pesan untuk para penggemar di Amerika Utara dan pendukung 100 Thieves. “Terima kasih kepada para penggemar kami karena sudah mendukung kami dan menikmati permainan kami. Aku tidak yakin kemana aku akan pergi selanjutnya, jadi mari kita lihat saja nanti. Semoga kita bisa bertemu lagi. Terima kasih,” pungkasnya.
Begitulah akhir dari perjalanan Quid bersama 100 Thieves. Sebuah perjalanan yang penuh dengan lika-liku, namun juga memberikan banyak pelajaran berharga. Semoga Quid bisa segera menemukan tim baru yang bisa membantunya meraih gelar juara impiannya. Dan untuk 100 Thieves, semoga mereka bisa segera bangkit dan kembali menjadi kekuatan yang disegani di LCS. Karena, seperti kata pepatah, habis gelap terbitlah terang, habis putus nyambung lagi. Eh, tapi kalau nyambungnya sama mantan, pikir-pikir lagi deh.


