Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Radiohead: Antara Konflik Internal, Kritik Politik, dan Pencarian Transendensi

Radiohead, band yang lagunya menemani malam-malam galau generasi 90-an, kini manggung di O2 Arena. Konser ini ibarat reuni akbar para mantan yang mencoba mengingat masa-masa indah dulu. Tapi, tunggu dulu, apakah reuni ini akan semulus kenangan yang kita simpan?

Radiohead: Dulu Zeitgeist, Sekarang…?

Dulu, Radiohead adalah cermin zaman. Thom Yorke dengan liriknya yang *nyeleneh* sukses menggambarkan kegelisahan generasi yang merasa alien di dunia ini. Sementara Oasis sibuk bernostalgia, Radiohead justru melihat ke masa depan yang suram. Eh, tapi kok sekarang malah jadi aneh?

Semua ramalan Radiohead tentang masa depan sudah kejadian: perubahan iklim, perang dunia, dan tank-tank berdatangan. Tapi, kok ya malah mereka yang jadi sasaran kritik? Gara-gara isu Gaza dan Israel, Yorke sampai di-heckle saat konser solo di Melbourne. Roger Waters (mantan Pink Floyd) juga ikut nyinyir karena Radiohead berani manggung di Israel. Wah, internal band jadi panas nih?

Ketika Prophecy Jadi Bumerang

Mungkin Radiohead cuma pengen nostalgia masa kejayaan. Tapi, kok ya reuni-nya malah penuh drama dan sindiran? Padahal, Gallagher bersaudara yang *unreconcilable* aja bisa baikan. Sebagai band yang dulu anti-kemapanan, Radiohead kayaknya kebal kritik. Tapi, ya namanya juga hidup, nggak ada yang abadi, *my dude*.

Radiohead kena krisis mimetik ala René Girard. Istilah kerennya, ketika sebuah kelompok menghadapi masalah yang nggak bisa dipecahkan dalam pandangan dunia mereka, mereka mencari kambing hitam. Radiohead, yang dulu jadi panutan generasi, sekarang malah jadi sasaran empuk. Makin besar pengorbanan, makin besar pula hasil panennya, begitu kata Girard. Apakah ini semacam *upgrade* dari *karma is a boomerang*?

Dari “Creep” Sampai Kontroversi

Dulu, tahun 1993, waktu grunge lagi sekarat, Radiohead muncul dengan “Creep”. Sempat dianggap *one-hit wonder*, mereka justru bangkit dan fokus pada *disaffection*. Bedanya, mereka nggak cuma meratapi nasib, tapi juga melawan dengan musik yang lebih kompleks. Mereka menciptakan potret peradaban, bukan cuma curhat colongan ala anak band.

Dari album debut *Pablo Honey* (1993) yang *underwhelming* sampai *The Bends* (1995), lompatan kualitas Radiohead emang gokil abis. Lewat *My Iron Lung EP* (1994) yang sengaja *uncommercial*, mereka naik ke level yang nggak bisa disentuh band rock lain selama 30 tahun. Lebih lama dari umur jagung rebus di pinggir jalan.

Radiohead dan Zona Tidak Nyaman

Radiohead nggak pernah nyaman kayak U2 atau Coldplay. *Disaffection* yang menarik perhatian generasi X yang baca *No Logo* itu bukan cuma *performance*. Ketidaknyamanan mereka itu nyata (tonton aja dokumenter *Meeting People Is Easy* tahun 1998). Mereka nggak percaya industri musik, tapi percaya fans mereka untuk ikut ke wilayah yang lebih aneh dan menantang.

Dari *OK Computer* (1997) yang menggambarkan kecemasan pra-milenium sampai *Kid A* (2000) yang *electronic* dan *Amnesiac* (2001) yang kurang dihargai, Radiohead berusaha membunuh “normie” dalam diri mereka dan fans. Ini wilayah yang nggak semua orang siap jelajahi. Ibarat main *game*, mereka langsung *skip tutorial* dan masuk *level hard*.

Pandora’s Box dan Politik

Satu-satunya kesalahan musik Radiohead adalah *The King of Limbs* (2011) yang *incomplete* dan *claustrophobic*. Tapi, justru *Hail to the Thief* (2003), album yang dirilis saat invasi Irak, yang membuka kotak Pandora. Judulnya aja udah sindiran buat George W. Bush yang dituduh curi suara pemilu.

Seni Kolase dan Kritik Terselubung

Kekuatan lirik Radiohead terletak pada kolase. Sementara Bono dan Bruce Springsteen sibuk dengan *authenticity* palsu, Radiohead justru menyindir politik secara nggak langsung. Mereka memantulkan masyarakat seperti cermin yang pecah. Gaya lirik Yorke menggambarkan bombardir data dan gambar yang kita alami sehari-hari. Gaya ini juga tercermin dalam sampul album Radiohead yang dikerjakan Yorke bareng Stanley Donwood (karya mereka lagi dipamerkan di Ashmolean, Oxford).

Referensi Masa Lalu dan Masa Depan

Kolase memungkinkan Radiohead menghindari literalitas dan moralisme. Mereka bebas menggabungkan berbagai subjek dan nada. Salah satu ciri khas Radiohead adalah fokus pada teknologi – trope “bandara yang depresi”. Tapi, ada juga ciri khas lain, yaitu penggunaan bahasa kuno, baik dari masa lalu agama (“red crosses on wooden doors”, Kekaisaran Romawi Suci) atau masa lalu yang lebih baru (tukang loak, iklan pasta gigi). Gambar-gambar abad pertengahan juga sering muncul, dari “heads on sticks” sampai pertanda di langit malam. Seolah-olah, meski kita hidup di zaman modern, kita nggak banyak berubah dari zaman hukuman pancung. Potongan cerita pengantar tidur dan lagu anak-anak juga tersebar di lirik mereka – Cheshire Cat, Peter Pan, Henny Penny, the Boney King of Nowhere dari *Bagpuss* – menambah kesan ancaman dan hilangnya kepolosan. Jarak dari mimpi masa kecil ke “a pig in a cage on antibiotics” emang bikin miris.

Ketika Bahasa Manajer Jadi Menyeramkan

Yorke juga jago mengkontekstualisasi bahasa manajer jadi sesuatu yang menyeramkan: “Your services are not required,” “I will stop at nothing,” dll. Di lagu “Electioneering” dari *OK Computer*, juxtaposisi “Riot shields, voodoo economics / It’s just business, cattle prods, and the IMF” merangkum anti-kapitalisme era itu. Tapi, yang paling menyentuh hati tetaplah lirik yang puitis dan penuh teka-teki, seperti di lagu anti-perang “Harry Patch (In Memory Of)” yang terinspirasi dari veteran Perang Dunia I: “I’ve seen devils coming up from the ground…”

Kritik yang Balik Mengkritik

Gaya *cut-up* memberi Radiohead ruang untuk menjadi *elusive* dan *allusive*. Dengan mengkritik segalanya, mereka mungkin merasa kebal terhadap kritik. Tapi, ya namanya juga hidup, nggak ada yang sempurna. Seperti kata pepatah, “The abyss has eyes too.”

Setelah “Hail to the Thief”: Kritik Terbuka

Dari judulnya aja, *Hail to the Thief* udah terasa terlalu *on the nose*. Mungkin karena konteks sosial saat itu – invasi Irak diluncurkan meski ditentang banyak orang. Yorke pun menulis lirik yang lebih langsung dan terbuka. Hasilnya, ada momen-momen *powerful* seperti punk Orwellian “2+2 = 5” dan lagu solo “Harrowdown Hill” tentang kematian David Kelly yang misterius.

Tapi, momen-momen paling menghantui di album itu tetaplah yang nggak langsung. “I Will” terinspirasi dari pembantaian ratusan perempuan dan anak-anak oleh Angkatan Udara AS di tempat perlindungan Amiriyah selama Perang Teluk. Liriknya, “I will lay me down / In a bunker underground / I won’t let this happen to my children,” berakhir seperti lagu pengantar tidur yang bikin merinding. Ini bukti bahwa kita harus menyentuh hati pendengar dulu sebelum meyakinkan mereka.

Radiohead: Terjebak dalam Politik?

Salah satu masalah dari mengambil sikap politik adalah, kayak mafia, kita nggak bisa pensiun. Kita harus terus terlibat, dan kalau nggak, kita dianggap nggak peduli dengan kekejaman di dunia. Di *Hail to the Thief*, liriknya terasa seperti kuliah yang di-*cut-up*, dengan pelaku kejahatan sebagai “orang lain”. Tapi, merasa diri baik hati itu berbahaya. Radiohead bukan satu-satunya yang kena getahnya (lihat juga Zadie Smith dan Sleaford Mods yang dikritik karena kurang pro-Palestina). Kadang, kita merasa kayak *time traveler* yang terlempar ke masa depan yang nggak masuk akal, masih melihat dunia dengan parameter yang udah berubah 20 tahun lalu.

Kritik terhadap “pahlawan” kita ini terjadi di ruang diskusi Barat yang penuh dengan *status-driven grift*, *bad faith*, *in-group policing*, *struggle sessions*, dan *stolen valour*. Sementara, korban perang di Irak, Afghanistan, Gaza, Israel, dan tempat lain dikubur di tanah atau mencoba membangun kembali hidup mereka yang hancur.

Masihkah Radiohead Cermin Zaman?

Mungkin Radiohead emang nggak pernah kehilangan kemampuan untuk mencerminkan zaman. Itu bisa jadi berkat sekaligus kutukan buat mereka. Mereka memprediksi banyak hal tentang dunia kita sekarang: pengadilan yang nggak mungkin dimenangkan di “Burn the Witch” (“if you float you burn”); paranoia refleksif di “2+2 = 5” (“don’t question my authority or put me in a box”); bahkan sindiran terhadap kaum *centrist* di “Packt Like Sardines in a Crushd Tin Box” (“I’m a reasonable man, get off my case”). Tokoh jahat di lagu Radiohead selalu orang lain. Kita nggak pernah membayangkan bahwa masalahnya mungkin ada dalam diri kita dan orang-orang yang kita puja.

Sulit membayangkan hidup di tengah kiamat – tapi ada anak-anak di Timur Tengah, Afghanistan, dan Yaman yang takut dengan langit, dan orang-orang yang dimutilasi di Kamboja, Vietnam, dan tempat lain akibat keputusan politisi kita. Menyaksikan kekerasan yang nggak masuk akal itu bikin lumpuh: “I have seen too much, you haven’t seen enough.”

Di Balik Kontroversi: Secercah Harapan

Meski Radiohead terjerat dalam kontroversi, lagu “I Will” tetap menyentuh hati. Ada upaya untuk menjembatani kesenjangan, meski nggak sempurna. Seniman punya peran penting untuk menyuarakan kebenaran, untuk membela mereka yang nggak bisa. Ini nggak mudah. Ada beban yang harus dipikul, tapi diam juga bukan pilihan. Bertolt Brecht, yang hidup di pengasingan setelah melarikan diri dari Nazi, menulis tentang zaman kegelapan di mana membicarakan alam pun terasa kejam. Pikiran seperti itu masih relevan sampai sekarang.

Pengalaman masa kecil saya di Irlandia Utara nggak seberapa dibandingkan anak-anak di zona perang abad ke-21. Tapi, saya tumbuh di tengah konflik, perpecahan, dan kemiskinan. Ayah saya berubah setelah disiksa oleh dinas keamanan. Saya hidup di lingkungan di mana ancaman “we know where you live” itu nyata. Musik adalah tempat pelarian, transendensi, dan pembaruan di luar politik.

Transendensi di Balik Politik

Momen-momen yang saya sukai dari Radiohead – yang terasa seperti ibadah sekuler – bukanlah yang paling politis. Tapi, yang melampaui akal: “Daydreaming”, “Reckoner”, “Pyramid Song”, “Lucky”, pengalaman *out-of-body* di “How to Disappear Completely”, kesedihan mendalam di “Decks Dark”.

Untuk sesaat, ada eksistensi di luar politik, bahasa, uang, identitas, kecemasan, ego. Suara ribuan orang di sebuah lapangan di Glasgow pada tahun 2017, menyanyikan “Phew for a minute there I lost myself”. Konser Radiohead di O2 Arena mungkin akan menghadirkan momen-momen seperti itu. Tujuan utopis dari politik adalah melarikan diri dari politik. Orang kaya tahu ini, dan kita yang miskin bisa merasakannya dalam momen-momen intim, di alam, saat menari, dalam keheningan, atau dalam musik. Momen persatuan dengan ribuan orang asing alih-alih saling menjatuhkan. Radiohead lagi buntu, *disaffected* lagi, dan itu bukan hal yang buruk. Kalau politik adalah budidaya kepastian palsu, seni adalah sesuatu yang dibangun dari keraguan.

Previous Post

AI Generatif ‘Teammates’ Ubisoft: NPC Jadi Teman Hidup, Game Berubah?

Next Post

AI Mendominasi: Kabar Terkini Kecerdasan Buatan Minggu Ini, Dampaknya untukmu!

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *