Industri musik itu keras, Guys. Lebih keras dari Dark Souls mode New Game+. Bayangkan saja, sudah berjuang mati-matian menciptakan karya, eh, ujung-ujungnya cuma jadi playlist menemani galau di kala hujan. Belum lagi kalau ngomongin soal pengakuan. Ada yang langsung melejit bak roket, ada juga yang harus menunggu puluhan tahun, bahkan sampai almarhum, baru deh dapat ucapan selamat.
Rock and Roll Hall of Fame: Surga Para Legenda atau Kuburan Keterlambatan?
Nah, soal pengakuan ini, pentolan Styx, Dennis DeYoung, baru-baru ini melayangkan unek-uneknya ke Rock & Roll Hall of Fame. Lewat sebuah unggahan Facebook yang pedasnya nampol, DeYoung mengkritik organisasi tersebut karena seringkali telat memberikan penghormatan kepada para legenda musik. Bahkan, menurutnya, banyak musisi yang baru diinduksi setelah sudah tidak berdaya atau malah sudah meninggal dunia. Ini sama saja kayak ngasih kado ulang tahun ke mantan pacar yang sudah nikah dan punya anak – niatnya baik, tapi situasinya awkward.
DeYoung mencontohkan kasus Bad Company, yang baru diinduksi setelah Paul Rodgers, vokalis mereka, sudah tidak bisa tampil karena masalah kesehatan. “Bollocks!!” tulis DeYoung dengan geram. Ia ingin melihat Rodgers tampil beberapa tahun lalu untuk menunjukkan bagaimana seorang vokalis rock sejati seharusnya beraksi. “Seperti nama di logo institusi mereka. Saya sudah mengatakan ini berulang kali selama beberapa dekade: Ubah saja nama damn itu,” tambahnya.
Menurut DeYoung, Rock & Roll Hall of Fame sudah tidak lagi merepresentasikan rock dalam arti tradisional. Pasalnya, mereka sudah menginduksi banyak musisi dari berbagai genre. Ini seperti warung kopi yang tiba-tiba jualan sushi – enak sih, tapi jadi aneh gitu lho.
Induksi Terlambat: Penghargaan atau Penghinaan?
DeYoung menyoroti bahwa induksi yang terlambat seringkali merampas kesempatan para musisi untuk menikmati kehormatan tersebut. “Upacara induksi jelas menunjukkan betapa tragisnya operasi ini,” tulisnya. “Membuat begitu banyak musisi menunggu sampai mereka tidak mampu atau mati adalah hal yang memalukan.” Ini seperti memberikan medali emas kepada atlet yang sudah pensiun dan buncit – tetap dihargai, tapi momennya sudah lewat.
Ia mempertanyakan kenapa Joe Cocker, Warren Zevon, dan musisi lainnya baru memenuhi syarat setelah puluhan tahun sukses. “Jelaskan itu, apa yang berubah kecuali ketidakmampuan Hall untuk melepaskan prasangka mereka dan menginduksi mereka? Mereka sekarang mengakui, ketika sudah terlambat, bahwa mereka telah melakukan kesalahan. Apakah Joe, Warren, dan yang lainnya baru-baru ini menjadi lebih populer? … Tidak.” DeYoung merasa bahwa misi awal Hall tentang siapa yang memenuhi syarat hanyalah dalih untuk melindungi pilihan pribadi mereka.
“Saya sudah mengatakan ini sebelumnya – sebagai seseorang yang bandnya tidak pernah dipertimbangkan, apa pun yang saya tulis akhirnya terdengar seperti anggur asam.” Ya, namanya juga curhat, Guys. Kadang memang pahit, tapi setidaknya bisa melegakan hati.
Styx: Terlalu Progresif untuk Rock and Roll Hall of Fame?
Styx sendiri, yang merilis album debut mereka pada tahun 1972, sudah memenuhi syarat untuk nominasi dan induksi sejak tahun 1997. Namun, hingga kini, nama mereka belum juga terpampang di Rock & Roll Hall of Fame. Apakah Styx terlalu progresif untuk selera para penjaga gerbang rock and roll? Atau apakah ada faktor lain yang membuat mereka terpinggirkan?
Mungkin saja, gaya musik Styx yang menggabungkan unsur rock, pop, dan teater dianggap terlalu komersial atau tidak cukup “murni” rock oleh sebagian kalangan. Atau mungkin juga, perseteruan internal band yang sempat terjadi di masa lalu menjadi batu sandungan bagi mereka. Apapun alasannya, ketidakhadiran Styx di Rock & Roll Hall of Fame tetap menjadi misteri yang menggelitik.
Menurut situs web organisasi tersebut, kriteria utama untuk kelayakan adalah bahwa “seorang seniman atau band individu harus telah merilis rekaman komersial pertama mereka 25 tahun penuh sebelum tahun induksi.” Ini seperti aturan SIM – kalau belum cukup umur, ya, belum bisa nyetir (meski banyak juga yang kucing-kucingan).
2025: Daftar Induksee yang Membuat Dennis DeYoung Makin Geregetan
Para induksi tahun 2025 termasuk band indie rock The White Stripes, duo hip-hop OutKast, penyanyi-penulis lagu Cyndi Lauper, supergrup rock Inggris Bad Company, penyanyi rock ‘n’ roll Chubby Checker, penyanyi rock dan blues Inggris Joe Cocker dan band rock Soundgarden. Daftar ini tentu saja semakin membuat DeYoung geregetan. Pasalnya, banyak dari nama-nama tersebut yang dianggap tidak lebih rock and roll dari Styx.
“Masing-masing dari para induksi ini menciptakan suara dan sikap mereka sendiri yang memiliki dampak besar pada budaya dan membantu mengubah arah Rock & Roll selamanya,” kata ketua Rock & Roll Hall of Fame John Sykes dalam sebuah pernyataan. Ini seperti pidato kemenangan di ajang penghargaan – klise tapi tetap harus diucapkan.
Hall of Fame: Perlu Revolusi atau Sekadar Ganti Nama?
Lantas, apa yang harus dilakukan Rock & Roll Hall of Fame? Apakah mereka perlu melakukan revolusi total dan mengubah kriteria seleksi mereka? Atau apakah mereka cukup mengganti nama menjadi “Hall of Fame Musik Populer” agar lebih inklusif? DeYoung sendiri punya usul yang cukup radikal: ganti saja namanya. Ini seperti mengganti nama warung kopi menjadi “Kedai Kopi Kekinian” agar lebih menarik bagi generasi milenial.
Yang jelas, Rock & Roll Hall of Fame perlu mendengarkan suara-suara kritis seperti DeYoung. Pasalnya, kredibilitas mereka sebagai penjaga gawang musik rock and roll dipertaruhkan. Kalau mereka terus-terusan telat memberikan pengakuan, bukan tidak mungkin mereka akan ditinggalkan oleh para penggemar musik yang lebih memilih untuk mencari referensi dari sumber lain.
Pada akhirnya, Rock & Roll Hall of Fame harus memilih: menjadi museum yang kaku dan ketinggalan zaman, atau menjadi lembaga yang dinamis dan relevan dengan perkembangan musik. Pilihan ada di tangan mereka. But hey, mungkin Styx memang terlalu out of the box untuk kotak bernama Rock and Roll Hall of Fame. Siapa tahu, kan?


