Sebuah kabar duka menyelimuti jagat teologi dan filsafat Indonesia: Fr. Nico Syukur Dister, OFM, telah berpulang. Bukan sekadar kepergian seorang imam Fransiskan, melainkan hilangnya salah satu pilar intelektual yang telah merajut benang pemikiran rumit dengan kesederhanaan seorang pelayan. Konon, hidupnya adalah sebuah itinerarium mentis in Deum—perjalanan jiwa dan raga menuju Sang Pencipta. Jika saja ada patung semarak karyanya di tengah kota, mungkin ia akan berdiri kokoh, memegang buku tebal di satu tangan dan ranting zaitun di tangan lainnya, menyiratkan keseimbangan antara kajian mendalam dan misi perdamaian.
Sang Perantau Intelektual yang Menemukan Rumah di Bumi Cendrawasih
Lahir di Maastricht, Belanda, pada 7 Maret 1939, Nicolas Syukur Dister kecil sudah punya ‘firasat’ akan panggilan hidup yang berbeda. Terinspirasi dari guru-guru dan ziarah ke Lourdes—tempat yang katanya bisa menyembuhkan segala penyakit, atau setidaknya memberikan harapan—ia mantap melangkah ke Ordo Fransiskan. Sejak 1964, ia bukan hanya seorang imam, tapi juga seorang petarung intelektual yang siap berjuang di medan pertempuran diskursus teologi dan filsafat. Riwayat akademisnya membawanya melintasi benua, menimba ilmu di Universitas Katolik Leuven dan Universitas Münster, sebelum akhirnya menancapkan jangkar di Indonesia pada tahun 1972.
Kedatangannya ke Indonesia bukanlah sekadar kunjungan wisata pelipur lara. Bumi pertiwi ini menjadi panggung utama misi seumur hidupnya. Awalnya, ia mengabdikan diri sebagai pengajar di Driyarkara, lalu bergeser ke Perguruan Tinggi Kateketik “Karya Wacana” di Jakarta. Namun, takdir rupanya punya rencana yang lebih megah. Pada 1983, panggilan tanah Papua bergema, membawanya ke Fajar Timur. Di sana, ia tidak hanya mengajar, tapi menjadi sosok sentral yang membentuk arah intelektual dan spiritual lembaga tersebut. Empat dekade lebih ia dedikasikan untuk mengupas tuntas topik-topik berat seperti Kristologi, metafisika, hingga sejarah filsafat, seolah ia sedang menata ulang tumpukan kartu remi yang berantakan menjadi sebuah mahakarya.
Perannya tak berhenti di ruang kelas. Ia juga pernah menjabat sebagai rektor dan pemimpin akademis, berkontribusi signifikan dalam membangun sistem perkuliahan, hingga pengurusan akreditasi. Bayangkan saja, membangun sistem pendidikan di tengah hiruk pikuk kebijakan yang berganti-ganti, itu seperti mencoba memanjat pohon kelapa sambil memakai sepatu hak tinggi; butuh keseimbangan luar biasa. Prof. Dister berhasil melakukannya, menjadikan Fajar Timur bukan sekadar institusi, tapi mercusuar intelektual di wilayah timur Indonesia.
Senjata Ampuh Sang Filsuf: Pena dan Kerendahan Hati
Pengakuan terhadap kehebatan intelektualnya tidak terbatas di satu atau dua lingkaran. Ia dikenal luas sebagai maestro psikologi agama, teologi sistematis, dan filsafat Kristen di seantero Indonesia. Karyanya membentang luas, mencakup setidaknya 12 buku pribadi, berbagai publikasi kolaboratif, dan puluhan artikel ilmiah yang siap membombardir pemahaman siapa saja yang membacanya. Apa yang membuat karyanya begitu istimewa? Kedalaman, konsistensi, dan sintesis jenius antara filsafat dan teologi, yang berakar kuat pada tradisi Fransiskan dan Agustinian. Ia berhasil menyatukan dua dunia yang sering dianggap bertolak belakang, layaknya pesulap yang bisa membuat gajah menghilang dan muncul kembali di dalam botol kecil.
Namun, jangan bayangkan ia sebagai akademisi yang kaku dan terkurung dalam menara gading. Di luar gemerlap dunia akademis, Fr. Dister menjalani hidup sederhana, memegang teguh semangat Fransiskus dari Assisi. Pelayanannya begitu nyata, terutama bagi mereka yang terpinggirkan: kaum papa, janda, dan yatim piatu, melalui Yapukepa Foundation di Sentani, Papua. Di masa tuanya, ia memilih tinggal di Biara St. Anthony, terus berkarya menerjemahkan teks-teks teologi dan mendampingi umat. Ia adalah bukti hidup bahwa kebijaksanaan sejati tidak hanya terletak pada isi kepala, tetapi juga pada kesediaan untuk menundukkan diri melayani sesama.
Para saksi hidupnya menggambarkan Fr. Dister sebagai pribadi yang disiplin, rendah hati, dan tak pernah lelah mendedikasikan diri pada studi dan pelayanan. Disiplinnya bukan disiplin militer yang keras, melainkan disiplin seorang atlet yang terus berlatih demi sebuah pertandingan besar. Kerendahan hatinya pun bukan sekadar basa-basi, melainkan sebuah pilihan hidup yang terpancar dalam setiap interaksinya. Ia adalah tipe orang yang jika punya sepiring nasi, ia akan membaginya dua tanpa ragu.
Ujian Intelektual dan Spiritual, Lulus dengan Predikat Gemilang
Intelektualitasnya yang tajam dan kerendahan hatinya yang tulus adalah kombinasi langka yang membuatnya dihormati sebagai pengajar dan mentor. Di tengah pencapaiannya yang segudang, ia tak pernah lupa untuk tetap melayani, bahkan kepada mereka yang mungkin pernah memberinya luka. Fr. Ngari, dalam tulisannya, menyoroti testimoni intelektualnya yang sistematis, konsisten, koheren, dan mendalam. Lebih penting lagi, karyanya tak pernah terlepas dari kehidupan pelayanan. Ia menunjukkan bahwa ilmu tanpa aplikasi nyata hanyalah teori kosong yang menggantung di angkasa.
Selama hidupnya, Fr. Dister bukan hanya menambah daftar panjang literatur teologi dan filsafat. Ia juga berperan penting dalam membentuk generasi penerus, baik mahasiswa maupun para pelayan gereja di Indonesia. Pengaruhnya terus mengalir deras melalui tulisan-tulisannya, para muridnya yang kini menjadi penggerak, dan institusi-institusi yang ia bantu bangun. Ia adalah perpaduan sempurna antara iman dan akal budi, sebuah harmoni yang langka di tengah dunia yang sering kali memisahkan keduanya. Ia telah membuktikan bahwa kesalehan dan kecerdasan bisa berjalan bergandengan tangan, saling menguatkan, layaknya dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.
Mengenang Fr. Nico Syukur Dister adalah merenungkan sebuah perjalanan hidup yang didedikasikan sepenuhnya untuk pencarian kebenaran dan pelayanan. Ia telah meninggalkan warisan yang tak ternilai, bukan hanya dalam bentuk buku dan pemikiran, tetapi juga dalam teladan hidup yang menginspirasi. Ia adalah contoh nyata bagaimana seorang intelektual bisa tetap membumi, rendah hati, dan penuh kasih. Kepergiannya memang sebuah kehilangan besar, namun warisannya akan terus hidup, membimbing generasi mendatang untuk terus bertanya, terus belajar, dan terus melayani dengan sepenuh hati.

