Ngeri juga melihat Scottie Scheffler. Udah kayak nonton film comeback yang bikin deg-degan setengah mati, tapi endingnya malah bikin gigit jari. Jadi, di Masters 2026 kemarin, Scheffler ini ketinggalan 12 shot dari Rory McIlroy pas masuk akhir pekan. Bayangin aja, selisihnya segitu. Tapi, dengan kegigihan yang bikin merinding disko, doi berhasil bikin putaran Sabtu dan Minggu yang nyaris sempurna, bahkan sampai bogey-free di hari terakhir. Sayangnya, meski nyaris banget nempel dan bikin McIlroy sedikit salah langkah di hole terakhir, Scheffler tetap harus puas di posisi solo second. Cuma satu shot doang bedanya. Hadeh.
Kejar-kejaran di Lapangan Hijau yang Bikin Jantungan
Perjalanan Scheffler di akhir pekan Masters 2026 ini memang luar biasa. Dari ketinggalan jauh, doi berhasil ngasih pertunjukan kelas dunia. Skor 65 di putaran ketiga dan 68 di putaran keempat, tanpa satu pun drop, menunjukkan betapa seriusnya dia mengejar green jacket ketiganya. Dia sempat mendekat ke selisih dua shot dari McIlroy setelah melakukan birdie di hole 15 dan 16. Momen itu pasti bikin penonton di Augusta National teriak histeris, membayangkan terjadinya keajaiban.
Sayangnya, keajaiban di golf kadang memang cuma numpang lewat. McIlroy, meski sempat kena bogey di hole terakhir yang krusial, berhasil menjaga keunggulannya. Scheffler sendiri mengakui kalau dia punya beberapa peluang yang terlewatkan, terutama di par 13 dan saat gagal masuk fairway di par 14. Kesalahan-kesalahan kecil inilah yang akhirnya jadi pembeda antara kemenangan dramatis dan podium kedua yang pahit manis.
Fakta bahwa Scheffler jadi pemain pertama sejak 1942 yang bisa main bogey-free di akhir pekan Masters itu sendiri sudah pencapaian monumental. Ini menunjukkan level permainan Scheffler yang emang luar biasa. Tapi dalam olahraga seperti golf, di mana margin kesalahan sekecil apapun bisa berakibat fatal, performa impresif saja kadang tidak cukup untuk meraih gelar juara, apalagi di turnamen sebesar Masters.
Regret di Sinar Matahari Augusta
Meskipun finish di posisi runner-up dengan catatan bogey-free di 39 hole terakhirnya adalah bukti kegigihan luar biasa, Scheffler nggak bisa menutupi kekecewaannya. Doi mengungkapkan bahwa justru performanya di dua putaran awal, terutama di hari kedua yang menghasilkan skor 74 (+2), menjadi penyesalan terbesarnya. Ketinggalan banyak shot di awal memang jadi beban mental yang berat untuk dikejar di sisa waktu.
Perjalanan Scheffler di Masters 2026 ini bisa dibilang jarang terjadi. Sebagai unggulan utama, ekspektasi padanya memang sangat tinggi. Targetnya jelas, meraih gelar mayor ketiga dalam empat kesempatan terakhir dan Masters ketiganya dalam tujuh kali partisipasi. Namun, justru di ajang yang paling prestisius inilah, ia harus mengakui keunggulan lawan. Terutama karena ia tidak mampu memanfaatkan kondisi lapangan yang lebih bersahabat di hari Jumat setelah perombakan rumput.
Scheffler sempat memutus rekor 11 hole berturut-turut tanpa bogey di Augusta National pada putaran kedua. Menurutnya, inilah titik krusial yang membuatnya harus rela menyaksikan upacara penyerahan green jacket dari sisi penonton, bukan sebagai pemenang. Pengalaman pahit ini pasti akan membekas, terutama bagi pemain sekelas Scheffler yang terbiasa mendominasi.
Perjuangan yang Nyaris Sempurna
Doi bilang, “Jumat mungkin yang paling menyakitkan dalam hal peluang juara. Kamis sore nggak banyak birdie yang didapat. Pas Jumat, entah apa yang mereka lakukan sama greens biar lebih lunak, tapi nggak bisa diambil untungnya pas main pagi.” Ungkapan ini menunjukkan betapa setiap detail kecil sangat berpengaruh di turnamen sekelas Masters.
Ini bukan pertama kalinya Scheffler nyaris meraih gelar mayor. Runner-up kedua dalam karirnya di turnamen mayor, setelah sebelumnya juga meraih T2 di PGA Championship 2023. Delapan dari sembilan partisipasi terakhirnya di mayor selalu berakhir di posisi T7 atau lebih baik. Catatan ini membuktikan konsistensi luar biasa Scheffler di level tertinggi. Namun, kali ini, sedikit ketidakberuntungan dan kejelian lawan membuatnya harus menunda euforia kemenangan.
Secara keseluruhan, Scheffler tidak ingin terlalu banyak menyesal. Namun, rasa kecewa jelas ada. Ia memulai akhir pekan dengan defisit 12 shot dan menyelesaikan turnamen hanya terpaut satu shot. Sebuah kemajuan luar biasa yang patut diapresiasi. Namun, melihat kembali dua putaran awal, memang di situlah letak masalah utamanya. Sebuah pelajaran berharga bagi pegolf nomor satu dunia ini.
Kisah Kegigihan yang Terbayar Lunas (Hampir)
Ironisnya, Scheffler harus mengakui bahwa perjuangannya di dua putaran pertama memang lebih berdampak pada hasil akhirnya daripada upaya kerasnya di akhir pekan. Sebuah pengakuan yang menunjukkan kedewasaan seorang atlet profesional. Ia paham bahwa konsistensi sepanjang turnamen adalah kunci, bukan hanya performa spektakuler di saat-saat terakhir.
Meskipun hasil akhir ini mungkin terasa pahit bagi Scheffler dan para penggemarnya, cerita tentang kegigihan dan semangat juangnya di Masters 2026 ini tetaplah inspiratif. Ia membuktikan bahwa dalam dunia golf, tidak ada kata terlambat untuk berjuang hingga tetes keringat terakhir. Dan, siapa tahu, di turnamen berikutnya, keberuntungan akan lebih berpihak padanya.


