Siapa sangka, di tengah hingar-bingar persaingan musik global, San Marino, negara mikro yang ukurannya lebih kecil dari beberapa kecamatan di Indonesia, kembali bikin gebrakan di panggung Eurovision. Kali ini, giliran Senhit, yang bukan muka baru di kontes ini, memboyong lagu andalan “Superstar” yang konon berkolaborasi dengan legenda glam rock, Boy George. Lupakan dulu drama politik atau fluktuasi ekonomi, karena panggung Eurovision adalah arena di mana kesenian bertemu keanehan, dan San Marino tahu betul cara bermain di wilayah itu.
Pemilihan perwakilan San Marino di Eurovision 2026 tampaknya tidak melalui jalur instan. Ada sebuah ajang bernama San Marino Song Contest yang diklaim sebagai penentu. Malam puncak ajang ini baru saja usai, dan X, sebuah entitas yang tampaknya memiliki agenda tersembunyi, berhasil meraih mahkota juara. Dengan kemenangan ini, X berhak mewakili San Marino di ajang ke-70 Eurovision yang bakal digelar di Vienna. Senhit, dengan amunisi “Superstar” yang dibalut nuansa kolaborasi dengan Boy George, sukses memukau juri, meski sang artis tamu hanya hadir dalam bentuk visual di layar belakang panggung. Entah ini trik cerdas untuk menghemat budget transportasi atau sekadar estetika artistik yang membingungkan, yang jelas, kolaborasi ini menjadi daya tarik utama.
Babak final San Marino Song Contest ini boleh dibilang cukup meriah. Ada 21 aksi yang bersaing memperebutkan tiket ke Vienna. Rinciannya, 10 finalis dari babak semifinal, 10 “Big Artists” yang langsung lolos otomatis berkat status selebritas mereka, ditambah satu wakil San Marino yang juga otomatis melaju. Setelah semua lagu diperdengarkan dan berbagai penghargaan khusus diumumkan, panggung pun menyisakan lima besar. Daftar lengkap para penampil beserta penghargaan yang mereka raih terhampar, dengan para peraih podium teratas ditandai dengan cetakan tebal. Paolo Belli dengan “Bellissima” harus puas di posisi ketiga, sementara Kelly Joyce yang membawakan “Oh Là Là” menempati posisi kedua. Puncak tertinggi tentu saja diraih oleh Senhit ft. Boy George dengan “Superstar”, sang juara.
Menariknya, Senhit bukan nama baru yang muncul di Eurovison. Negeri kecil ini sudah tiga kali mengirimkan Senhit sebagai duta musiknya. Sebelumnya, ada “Stand By” di tahun 2011, kemudian “Freaky!” yang terpaksa batal tampil karena pandemi pada edisi 2020 yang dibatalkan, dan yang paling diingat mungkin adalah “Adrenalina” di tahun 2021, sebuah lagu yang sempat diperkuat oleh kehadiran rapper Amerika, Flo Rida. Reputasi Senhit sebagai langganan Eurovision tentu memberikan bobot tersendiri pada kemenangannya kali ini. Ini bukan sekadar keberuntungan sesaat, melainkan sebuah rekam jejak yang konsisten di kancah kontes lagu paling ramai di Eropa.
Juri yang Lebih Banyak dari Penonton?
Untuk menentukan siapa yang berhak terbang ke Vienna, sebuah panel beranggotakan lima juri diturunkan. Mereka adalah Federica Gentile, seorang presenter sekaligus kritikus musik yang didapuk sebagai ketua dewan juri. Kemudian ada Roberto Sergio, Direktur Jenderal San Marino RTV, yang mungkin punya wawasan lebih luas tentang siaran publik. Mario Andrea Ettorre, Direktur Pemasaran SIAE, memberikan perspektif bisnis. Tak lupa, dua konduktor, musisi, dan komposer ternama, Massimo Zanotti dan Beppe D’Onghi, melengkapi formasi para penilai yang diharapkan memiliki pendengaran emas. Keputusan mereka ini menjadi penentu mutlak.
Namun, cerita tidak berhenti di situ. Untuk menambah kedalaman penilaian, sebuah Quality Jury turut dilibatkan untuk pertama kalinya. Anggota dewan juri ini memiliki tugas untuk mengevaluasi para peserta, tetapi suara mereka tidak akan berkontribusi langsung pada penentuan pemenang akhir. Barisan nama di dalamnya pun tak kalah mentereng: Iva Zanicchi, Morgan, dan Red Ronnie. Kehadiran mereka seolah memberikan lapisan apresiasi artistik tambahan, memastikan bahwa performa yang menawan dari segi kualitas tak luput dari perhatian, meskipun tidak secara langsung mengubah hasil akhir klasemen.
Sebagai pelengkap, ada pula Critics’ Jury. Kelompok ini terdiri dari para jurnalis dan profesional media yang bertugas memberikan pandangan kritis mereka. Mereka juga memiliki hak suara untuk memberikan penghargaan terpisah kepada salah satu peserta. Anggotanya antara lain Laura Rio dari Il Giornale, Loradana Errico dari ADN Kronos, Francesca Pierleoni dari Ansa, Federico Vacalebre dari Il Mattino yang menjabat sebagai ketua, dan Renato Tortarolo dari Secolo XIX. Kombinasi juri eksekutif, juri kualitas, dan juri kritikus ini menunjukkan betapa seriusnya San Marino dalam memilih wakilnya, seolah menggali setiap sudut pandang untuk memastikan tidak ada elemen yang terlewatkan.
Pertunjukan utama tidak lengkap tanpa kehadiran para bintang tamu yang turut memeriahkan suasana. Elettra Lamborghini, seorang penyanyi yang kerap menghiasi panggung Festival di Sanremo, hadir membawa energi khasnya. Tommy Cash, yang pernah meraih posisi ketiga untuk Estonia di Eurovision 2025 dengan lagunya “Espresso Macchiato”, ikut unjuk gigi. Ada pula Al Bano, seorang musisi dan performer kawakan yang tidak asing lagi dengan panggung final nasional San Marino, bahkan pernah mewakili Italia di Eurovision. Terakhir, Cristiano Malgioglio, ikon Italia dan penulis lagu ternama, melengkapi daftar tamu istimewa yang membuat malam final ini semakin berwarna dan penuh kejutan.
Sejarah San Marino di Panggung Eurovision
Negeri mungil San Marino pertama kali unjuk gigi di Eurovision pada tahun 2008, bersamaan dengan Azerbaijan. Miodio menjadi duta pertama mereka dengan lagu “Complice”, namun sayangnya, penampilan debut ini berakhir di posisi terbawah semi-final dengan perolehan hanya 5 poin. Setelah sempat absen, San Marino kembali ke kontes pada tahun 2011 dan sejak itu berpartisipasi secara konsisten setiap tahunnya. Pencapaian signifikan pertama terjadi pada tahun 2014 ketika mereka berhasil menembus babak final, diikuti oleh tiga penampilan final lainnya di tahun-tahun berikutnya, dengan penampilan terakhir di final pada tahun 2025.
Perjalanan San Marino di Eurovision, meskipun seringkali menjadi underdog, menunjukkan ketahanan dan ambisi yang patut diapresiasi. Keikutsertaan mereka membuktikan bahwa ukuran negara bukanlah penghalang untuk bersaing di panggung internasional. Dengan setiap partisipasi, mereka terus membangun identitas musiknya di Eropa, membuktikan bahwa bahkan dari negara terkecil sekalipun, sebuah suara bisa menggema jauh.


