Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Sombr Balas Kritik ‘Body Shaming’ Usai Konser, Sebut Fans Terlalu Muda?

Bayangkan kamu lagi asyik main game, terus tiba-tiba ada yang nge-cheat. Nggak asyik, kan? Nah, kurang lebih begitulah rasanya jadi Sombr, musisi yang lagi viral karena dikritik habis-habisan soal penampilannya. Katanya sih, konsernya “cringe” abis. Tapi, yang bikin panas, kritikan itu malah menjurus ke body shaming. Waduh, kok jadi gini?

Drama TikTok: Konser Sombr Dianggap “Cringe” dan “Body Shaming”

Semua bermula dari video TikTok seorang content creator yang curhat setelah nonton konser Sombr di Washington, D.C. Menurutnya, konser itu nggak banget. Mulai dari segmen “Sombr Dating Show” yang dianggap nggak lucu, sampai celotehan vulgar yang nggak pantes buat penonton yang kebanyakan masih di bawah umur. Singkatnya, dia bilang Sombr nggak punya bakat entertain. Pedes, ya?

Tapi, kritikan itu nggak berhenti di situ. Si content creator juga membandingkan Sombr dengan Napoleon Dynamite dan menyebutnya “slender man”. Nah, di sinilah masalahnya mulai melebar. Banyak netizen yang ikut-ikutan mengkritik fisik Sombr. Body shaming pun nggak terhindarkan. Miris!

@meganator__

idk what i expected but it was certainly not that

♬ original sound – 𝓂𝑒𝑔💌

Sombr Balas Kritikan: “Ini Skill Issue!”

Nggak terima dengan kritikan pedas itu, Sombr pun angkat bicara. Lewat video TikTok, dia menuduh si content creator melakukan body shaming. Dia juga menyayangkan komentar negatif yang menyerang fisiknya. Menurutnya, kalau umurmu 25 tahun dan datang ke konser musisi yang umurnya baru 20 tahun, ya wajar aja kalau banyak penonton yang lebih muda. Istilahnya, “skill issue!”

Sombr juga menjelaskan bahwa humornya memang nggak semua orang bisa terima. Dia mengakui sering membuat lelucon “brain rot” yang mungkin nggak cocok buat semua kalangan. Tapi, dia menegaskan bahwa konsernya terbuka untuk semua orang, tanpa memandang umur, jenis kelamin, atau ras. “Live a little, enjoy life!” serunya.

Mungkin banyak dari kita yang pernah mengalami hal serupa. Dikritik, dihakimi, bahkan di-bully karena penampilan fisik. Padahal, yang namanya selera itu kan relatif. Nggak semua orang harus suka dengan apa yang kita lakukan. Tapi, bukan berarti kita boleh seenaknya menghina orang lain, kan?

Kenapa Kritik Berujung Body Shaming?

Pertanyaannya, kenapa sih kritik bisa berujung body shaming? Apa karena kita terlalu mudah menghakimi orang lain berdasarkan penampilan luar? Atau karena kita terlalu fokus pada kekurangan orang lain, sampai lupa bahwa setiap orang punya kelebihan masing-masing?

Mungkin juga karena media sosial bikin kita merasa punya hak untuk berkomentar apa saja, tanpa memikirkan dampaknya. Kita lupa bahwa di balik setiap akun, ada manusia dengan perasaan yang bisa terluka. Padahal, kalau dipikir-pikir, ngapain juga sih kita ngurusin hidup orang lain? Mending fokus sama diri sendiri, kan?

Generasi David Bowie Kok Jadi Bahan Olok-Olokan?

Ironisnya, ada yang menyebut Sombr sebagai “David Bowie-nya generasi ini”. Padahal, David Bowie dikenal sebagai musisi yang berani tampil beda dan melawan norma. Tapi, kenapa Sombr malah jadi bahan olok-olokan karena penampilannya? Apakah standar kecantikan kita sudah sebegitu sempitnya?

Atau mungkin karena kita terlalu terpaku pada image yang sempurna di media sosial? Kita lupa bahwa dunia nyata itu nggak seindah filter Instagram. Manusia itu ya nggak ada yang sempurna. Ada yang kurus, ada yang gemuk, ada yang tinggi, ada yang pendek. Yang penting kan hatinya baik, kan?

Body Positivity: Bukan Sekadar Tren, Tapi Kesadaran

Untungnya, isu body shaming ini semakin banyak dibicarakan. Gerakan body positivity juga semakin populer. Tujuannya sederhana: menerima dan mencintai diri sendiri apa adanya. Nggak peduli apa kata orang, yang penting kita nyaman dengan diri sendiri. Self-love is the best love!

Tapi, body positivity bukan cuma sekadar tren. Ini adalah kesadaran bahwa setiap tubuh itu berharga. Bahwa setiap orang punya hak untuk merasa percaya diri dan bahagia, tanpa harus memenuhi standar kecantikan yang nggak realistis. Bahwa kesehatan mental itu jauh lebih penting daripada penampilan fisik.

Konser Itu Hiburan, Bukan Ajang Penghakiman

Intinya, konser itu tempat buat senang-senang, bukan ajang penghakiman. Kalau nggak suka sama penampilannya, ya nggak usah ditonton. Nggak perlu juga menghina atau merendahkan orang lain. Lebih baik fokus sama musiknya, sama energinya, sama pengalaman yang bisa kita dapatkan. Toh, yang penting kita happy, kan?

Lagipula, selera orang kan beda-beda. Mungkin si content creator nggak suka sama konser Sombr, tapi jutaan fans lainnya justru merasa terhibur. Yang penting Sombr tetap berkarya, tetap jadi dirinya sendiri, dan tetap menebar energi positif. Biarkan orang lain menilai, yang penting dia nggak merugikan siapa-siapa.

Dari Drama Sombr, Kita Belajar Apa?

Dari drama Sombr ini, kita bisa belajar banyak hal. Bahwa kritik itu boleh, tapi jangan sampai menjurus ke body shaming. Bahwa media sosial itu pedang bermata dua, bisa jadi alat untuk menyebarkan kebaikan, tapi juga bisa jadi sarang kebencian. Bahwa body positivity itu penting, tapi lebih penting lagi adalah menghargai perbedaan dan menghormati sesama.

Jadi, lain kali kalau mau komentar di media sosial, pikirkan dulu dampaknya. Apakah komentar kita akan menyakiti orang lain? Apakah komentar kita akan membuat dunia jadi lebih baik? Atau justru sebaliknya? Ingat, jari kita memang kecil, tapi dampaknya bisa besar. Bijaklah dalam menggunakan media sosial. Jangan sampai kita jadi bagian dari masalah, tapi jadilah bagian dari solusi.

Previous Post

Indycar Racing 2: Nostalgia Jadi Realita dengan Modifikasi Canggih!

Next Post

Game Fatal Frontier 1869: Paydirt Games Raih Dana 31 Miliar Rupiah, Siap Rilis PC!

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *