Dunia esports itu panggung sandiwara, eh, maksudnya panggung kompetisi yang keras. Tapi, di balik layar, ada drama ala Bollywood dan koreografi yang (kadang) bikin geleng-geleng kepala. Nah, kali ini, kita nggak cuma ngomongin soal strategi pick hero atau farming yang efisien. Kita mau bahas sisi lain dari pro player yang satu ini: Taki, sang kapten TSW yang ternyata juga jago nge-dance. Kira-kira, lebih jago mana ya, nge-lead tim atau ngegoyangin pinggul?
Dari Kalah di Game Sampai Belajar Goyang Pinggul: Curhatan Taki
Setelah TSW harus mengakui keunggulan FlyQuest, Taki nggak cuma meratapi kekalahan. Dalam sebuah wawancara, ia blak-blakan soal kesalahan tim di early game yang bikin Azir musuh jadi OP (overpowered). “Kami sudah menyiapkan banyak hal, tapi sayangnya nggak berjalan sesuai rencana. Kami merasa bersalah karena mati konyol di awal-awal,” ujarnya. Ibarat lagi PDKT, udah siapin gombalan maut, eh malah salah kirim ke grup keluarga.
Meski begitu, Taki nggak patah semangat. Ia justru melihat kekalahan sebagai pelajaran berharga. Apalagi, dengan format BO3 (Best of Three) yang diterapkan di Swiss stage, TSW punya kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan. “Kalau bikin kesalahan di game pertama, kami masih punya kesempatan untuk memperbaikinya,” katanya. Prinsip yang sama kayak habis putus cinta: masih ada kesempatan buat balikan, eh.
Ngefans Keria Sampai Pengen Ketemu di Land of Dawn
Ketika ditanya soal pemain yang paling diidolakannya, Taki tanpa ragu menyebut nama Keria. “Top five support saya adalah Keria, ON, Duro, Kael, dan Hang. Dan pemain yang paling ingin saya hadapi adalah Keria, karena saya pernah menghadapinya tiga tahun lalu di MSI dan saya sangat mengaguminya,” ungkapnya. Mungkin dalam hati Taki berkata, “Keria, kau adalah inspirasiku. Suatu saat nanti, aku akan mengalahkanmu dengan hero support andalanku!”
Tapi, tunggu dulu, jangan salah paham. Kekaguman Taki pada Keria bukan cuma soal skill in-game. Ada hal lain yang membuat Taki begitu mengidolakan Keria. Apa itu? Mari kita bahas di bagian selanjutnya.
Goyang TikTok Lebih Viral daripada Savage?
Selain jago main game, Taki juga dikenal sebagai TikTokers dengan goyangan mautnya. Bahkan, beberapa video dance-nya viral di media sosial. “Saya sangat berterima kasih karena kalian menghargai gerakan dance saya. Semua ini berawal ketika saya menari bersama rekan satu tim dan itu direkam. Saya hanya mencoba untuk positif dengan teman-teman saya, dengan rekan satu tim saya, tapi untungnya internet menanggapinya dengan baik, menanggapinya secara positif. Dan saya ingin menyebarkan hal positif,” jelasnya.
Joget Hip-Hop Jadi Jurus Ampuh Hilangkan Stress
Ternyata, Taki sudah lama menekuni dunia tari. “Untuk menari, gaya menari favorit saya, itu harus yang melibatkan pinggul, karena saya telah melakukannya sejak sekolah menengah,” katanya. Mungkin, dengan bergoyang, Taki bisa melepaskan penat setelah latihan keras atau kalah di pertandingan. Siapa tahu, goyang pinggul juga bisa jadi strategi baru untuk mengalahkan musuh. Bayangin aja, musuh lagi fokus nge-kill, eh, malah di-distract sama goyangan maut.
Rating Jujur untuk Skewmond dan Caps: “Kurang Greget!”
Nggak cuma jago nge-dance sendiri, Taki juga punya penilaian jujur untuk goyangan orang lain. Ketika diperlihatkan video dance Skewmond dan Caps dari tim G2, Taki memberikan rating yang cukup pedas. “Saya hanya akan memberi peringkat 4 dari 10. Saya telah melihat ini kemarin dan saya pikir mereka tidak benar-benar bersemangat. Mereka belum memberikan semua yang mereka miliki,” ujarnya. Wah, pedas juga ya kritiknya. Tapi, ada benarnya juga sih. Mungkin, Skewmond dan Caps harus belajar lagi sama Taki.
Taki Siap Jadi Guru Dance Dadakan untuk Skewmond dan Caps
Mendengar kritikan pedas dari Taki, sang pewawancara langsung bertanya, “Apakah Anda akan menghabiskan waktu untuk mengajari SkewMond dan Caps menari?” Dengan sigap, Taki menjawab, “Ya.” Bahkan, ia sudah punya rencana untuk mengajari Skewmond dan Caps gerakan dance yang lebih natural. “Saya akan mengajari mereka untuk menari dengan lagu yang sama persis dan saya akan mengajari mereka tentang cara menari sedikit lebih alami,” katanya. Siap-siap aja ya, Skewmond dan Caps. Bakal dapat kelas dance intensif dari Taki.
Jadi Kapten Itu Berat, Biar Aku Saja… Eh, Gimana Ya?
Selain jago main game dan nge-dance, Taki juga punya tanggung jawab besar sebagai kapten tim TSW. Tapi, apa sih yang sudah ia pelajari selama menjadi kapten? “Awalnya saya merasa sangat tertekan, tetapi seiring waktu saya terbiasa dengan itu. Saya pikir sesuatu yang Anda pelajari dari menjadi seorang kapten adalah bahwa semua yang Anda lakukan adalah memberikan contoh untuk tim Anda, jadi Anda harus berhati-hati dengan apa yang Anda lakukan,” jelasnya. Jadi kapten itu memang nggak gampang. Harus bisa jadi contoh yang baik, bisa memotivasi tim, dan bisa mengambil keputusan yang tepat. Ibarat jadi orang tua, harus bisa jadi panutan untuk anak-anaknya.
Map Baru Bikin Puyeng? Curhatan Gamer Veteran
Topik beralih ke hal lain. Belum lama ini, Riot Games mengumumkan akan menghadirkan kembali map musim dingin di League of Legends. Tanggapan Taki? “Saya lebih suka gaya map tradisional, tetapi saya memahami fakta bahwa mereka harus terus mengubahnya untuk meramaikan suasana,” katanya. Rupanya, Taki lebih nyaman dengan map yang sudah familiar. Tapi, ia juga sadar bahwa perubahan itu perlu untuk menjaga kesegaran game. “Saya telah bermain dengan map aslinya untuk waktu yang sangat, sangat lama, dan baru-baru ini mereka mengeluarkan map baru dan saya harus terbiasa melihatnya,” tambahnya. Maklum lah ya, namanya juga gamer veteran. Udah cinta mati sama map lama.
Pesan Taki untuk Fans Vietnam dan TSW: Terima Kasih!
Di akhir wawancara, Taki menyampaikan pesan untuk para penggemarnya di Vietnam dan seluruh fans TSW. “Terima kasih telah mendukung saya dan tim saya. Terima kasih banyak,” ucapnya dengan tulus. Dukungan dari fans memang sangat berarti bagi para pro player. Itu adalah motivasi terbesar untuk terus berjuang dan memberikan yang terbaik.
Esports: Antara Strategi Jitu dan Goyangan Maut
Dari wawancara ini, kita bisa melihat bahwa seorang pro player nggak cuma dituntut untuk jago main game. Mereka juga harus punya kepribadian yang menarik, bisa menghibur, dan bisa menginspirasi. Taki adalah salah satu contohnya. Ia adalah seorang kapten yang bertanggung jawab, seorang gamer yang kompetitif, dan seorang TikTokers yang menghibur. Jadi, jangan heran kalau esports semakin digandrungi oleh banyak orang. Karena di dunia esports, ada kombinasi antara strategi jitu dan goyangan maut.
Jadi, kapan nih Taki buka kelas dance online buat para gamer yang pengen jago goyang kayak dirinya? Atau mungkin, kita bikin aja kompetisi dance antar tim esports? Pasti seru tuh!


