Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Tembok Uluwatu Retak Lagi, Proyek ‘Darurat’ Jadi Wisata?

Uluwatu Sea Wall, sebuah proyek infrastruktur yang bagai drama sinetron di Bali, kembali jadi buah bibir. Awalnya digadang-gadang sebagai pahlawan penjinak tebing kapur yang retak dan tergerus, kini proyek ini memancing tanya dan riuh rendah soal nasibnya. Spekulasi beredar liar; jalan akses yang katanya demi kestabilan tebing, jangan-jangan kelak jadi gerbang menuju proyek pariwisata baru yang lebih menggiurkan.

Kabar terbaru membahana bagai ombak di pesisir Uluwatu. Retakan baru di tebing kapur dan dugaan kerusakan pada struktur sea wall yang belum lama berdiri sukses membuat warga lokal dan pegiat lingkungan mengernyitkan dahi. Lokasinya yang sakral, hanya selangkah dari Pura Luhur Uluwatu, yang merupakan salah satu ocean temple terpenting bagi umat Hindu Bali dan magnet jutaan turis, membuat isu ini semakin sensitif.

Proyek Kontroversial: Awal Mula dan Polemik AMDAL

Fase pertama Uluwatu Sea Wall project diklaim rampung tahun lalu, namun tidak lepas dari kontroversi. Keluhan warga lokal bergema di pengadilan, menyoroti dugaan proyek yang dimulai tanpa adanya AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) yang memadai. Keputusan pengadilan mengizinkan pembangunan jalan akses darurat dengan dalih situasi genting, namun warga bersikukuh bahwa retakan di tebing sudah ada lebih dari dua dekade dan tidak menunjukkan tanda-tanda memburuk.

Menjawab kekhawatiran publik, I Made Sumerta, Kepala Desa Adat Pecatu, mengakui bahwa proyek sempat diterjang badai. “Ya, memang kena badai. Ada bagian yang ambruk. Tembok pembatasnya juga ambruk duluan karena cuaca ekstrem,” ujarnya blak-blakan. Ia juga menyebutkan bahwa kejadian tersebut kemungkinan terjadi beberapa bulan lalu akibat hantaman ombak besar, pasca upacara Mulang Pakelem.

Sumerta menyuarakan harapannya agar proyek ini, dalam jangka panjang, mampu mengamankan bibir pantai dan kuil di atasnya. “Melihat kondisi ini, kita bisa evaluasi dan perbaiki menjadi lebih tinggi dan kokoh. Ini pelajaran berharga,” ungkapnya, seraya meminta perbaikan dan evaluasi, terutama pada bagian bawah pura.

Ia menambahkan, “Saya berharap ini diselesaikan. Kalau dihentikan sekarang, akan terkesan perencanaannya kurang matang. Ini untuk melindungi tebing, jadi semoga disempurnakan. Perlu ditinjau ulang situasi di lapangan.” Pernyataan ini muncul di tengah ramainya diskusi di media sosial mengenai kondisi sea wall tersebut.

Penjelasan Resmi: Bukan Kerusakan, Hanya Tahap Awal

Menanggapi riuh rendah di jagat maya, Anak Agung Rama Putra, Pejabat Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kabupaten Badung, memberikan klarifikasi. Ia menjelaskan bahwa foto-foto yang beredar bukanlah indikasi kerusakan permanen, melainkan kondisi normal pada akhir fase proyek yang belum selesai. “Itu bukan struktur akhir, pengerjaannya belum rampung. Jadi terlihat seperti terurai. Masih berupa timbunan kapur,” tegasnya.

Putra menegaskan bahwa timnya memantau area tersebut secara ketat melalui kamera CCTV. Menurutnya, struktur tersebut tampak mengalami erosi karena material kapur belum dilapisi bahan pelindung dan terus-menerus dihantam pasang surut air laut.

Tahap Lanjutan: Harapan dan Kendala Tender

Proyek ini jauh dari kata mangkrak. Putra memastikan bahwa tahap akhir konstruksi akan dimulai pada tahun 2026. Fokusnya adalah pemasangan armor stone dan lapisan kapur untuk memperkuat struktur pelindung pantai. Ia menambahkan, “Lapisan akhir akan diimplementasikan pada tahun 2026 menggunakan armor stone dan kapur. Tidak ada kerusakan pada bagian yang sudah selesai sebelumnya.”

Tahapan pengerjaan proyek ini, baik yang sudah maupun yang akan datang, direncanakan secara strategis. Batu pelindung akan dilapisi kapur untuk memperkuat struktur. Bahkan, struktur batu yang sudah terpasang diklaim telah berkontribusi mengurangi kekuatan terjangan ombak.

Putra kembali menekankan urgensi proyek ini. Tanpa struktur pelindung pantai, tebing Pura Luhur Uluwatu akan terus-menerus menghadapi hantaman langsung ombak laut lepas. “Tanpa struktur tanggul, tebing Pura Luhur Uluwatu harus menahan benturan langsung dari ombak laut lepas,” jelasnya.

Ia meminta kesabaran publik sembari menunggu proses yang akan berlanjut tahun ini. “Pengerjaan struktur pelindung pantai Pura Luhur Uluwatu tahun 2026 sudah masuk dalam proses tender,” ungkapnya. Harapan besar disematkan agar fase selanjutnya proyek dapat dimulai pada musim liburan puncak. Namun, proses tender seringkali memakan waktu lama dan menjadi batu sandungan bagi banyak proyek besar lainnya di Bali.

Previous Post

Solo Dev Nangis Haru, Game Indie Laku Rp3,7 Miliar dalam Seminggu

Next Post

Terapi Jantung: Klaim Lebih Unggul, Hasilnya Justru Mengejutkan Pasien

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *