Dunia permusikan memang penuh drama, lebih seru dari sinetron azab Indosiar. Kali ini, giliran Matty Healy, pentolan The 1975, yang bikin geger jagat maya. Bayangkan, lagi asyik dengerin album, eh, tiba-tiba satu lagu raib tanpa jejak. Kira-kira, lebih sakit mana: diputusin pacar atau lagu favorit dihapus dari playlist?
Para penggemar The 1975 mendadak panik saat menyadari lagu “Human Too” dari album Being Funny in a Foreign Language (2022) menghilang dari platform streaming. Usut punya usut, dalangnya tak lain dan tak bukan adalah Matty Healy sendiri. Alasannya? Simpel: dia nggak suka lagi sama lagunya di album itu. Lha, terus?
“Hey! Human Too was removed from the album so the album is more how I want it to be,” tulis Healy di sebuah thread Reddit tentang hilangnya lagu tersebut. “Previous physical release obviously remains the same.” Jadi, buat yang masih punya CD fisiknya, selamat! Anda memiliki artefak langka.
Sontak, netizen—terutama fans The 1975—terbelah dua. Ada yang kecewa berat, merasa seperti kehilangan separuh jiwa. Ada juga yang berspekulasi ini cuma taktik marketing menjelang album baru. Tapi, mayoritas justru sibuk pamer edisi fisik album yang masih menyimpan “Human Too.” Rebutan rare item, bos!
Dalam komentarnya, Healy juga memberi sinyal bahwa ia mungkin akan menghapus lagu lain dari album Notes On A Conditional Form, yaitu “What Should I Say.” Alasannya? Karena dia kurang sreg. Duh, labilnya melebihi anak SMA baru putus cinta.
Matty Healy: Antara Perfeksionis dan Tukang Prank?
Keputusan Healy ini menimbulkan pertanyaan: apakah seorang musisi punya hak penuh untuk mengubah karya yang sudah dirilis? Atau, apakah karya itu sudah menjadi milik publik setelah dinikmati banyak orang? Pertanyaan filosofis ini lebih rumit dari cara install game bajakan zaman dulu.
Di satu sisi, Healy berhak menentukan arah artistik bandnya. Dia punya visi, dan dia ingin albumnya sesuai dengan visi itu. Ibaratnya, dia adalah developer game yang berhak melakukan update atau nerf karakter yang dianggap overpowered.
Di sisi lain, penggemar juga punya hak untuk menikmati karya yang sudah mereka beli atau dengarkan. Menghapus lagu dari album sama saja dengan menghapus kenangan atau pengalaman yang terasosiasi dengan lagu tersebut. Ini seperti update game yang justru bikin gameplay jadi nggak seru.
Keputusan Healy ini juga memicu perdebatan tentang esensi sebuah album. Apakah album itu sebuah entitas yang sakral dan nggak boleh diubah? Atau, apakah album itu cuma kumpulan lagu yang bisa diutak-atik sesuka hati oleh sang musisi? Diskusi ini lebih panjang dari antrean tiket konser coldplay.
“What Should I Say”: Selamatkan Lagu dari Kepunahan!
Mendengar ancaman Healy untuk menghapus “What Should I Say,” seorang penggemar langsung membuat thread di subreddit The 1975. Isinya? Permohonan yang sangat dramatis: “I am BEGGING YOU MATTY PLEASE DON’T DO THIS! This song is so important to me, I think it’s such a bop, if it has no fans I am dead, if I never got to hear this song again it will be the loss of my life.” Lebay? Mungkin. Tapi, itulah kekuatan cinta seorang penggemar.
Ajaibnya, Healy merespons! Dengan singkat dan padat, ia menulis: “Ok no worries x.” Fiuh, selamatlah “What Should I Say” dari jurang kepunahan. Setidaknya, untuk saat ini.
Reaksi Healy ini menunjukkan bahwa dia sebenarnya peduli dengan pendapat penggemarnya. Dia mungkin perfeksionis, tapi dia juga manusia yang bisa luluh oleh permohonan yang tulus. Atau, mungkin dia cuma prankster yang senang melihat fansnya panik? Who knows?
Album: Antara Karya Seni dan Produk Komersial
Kasus “Human Too” dan “What Should I Say” ini membuka diskusi yang lebih luas tentang status sebuah album di era digital. Dulu, album adalah sebuah karya seni yang utuh dan tak terpisahkan. Sekarang, album lebih sering dilihat sebagai kumpulan lagu yang bisa didengarkan secara terpisah-pisah via playlist atau streaming.
Perubahan ini memengaruhi cara musisi berkarya. Mereka jadi lebih fokus pada menciptakan lagu-lagu yang catchy dan viral, daripada membuat album yang koheren dan bermakna. Ibaratnya, mereka lebih memilih membuat skin keren untuk karakter game, daripada membuat cerita yang menarik.
Musik dan Kebebasan Berekspresi: Batasnya di Mana?
Di tengah kebebasan berekspresi, seorang musisi memang punya hak untuk melakukan apa pun dengan karyanya. Tapi, perlu diingat bahwa karya itu juga punya dampak pada orang lain. Penggemar berhak merasa kecewa atau marah jika karya yang mereka cintai tiba-tiba diubah atau dihapus.
Dalam kasus Matty Healy, mungkin dia cuma ingin membuat albumnya lebih baik. Tapi, caranya yang kontroversial justru menimbulkan drama yang lebih besar. Mungkin, lain kali dia bisa mempertimbangkan untuk meminta pendapat penggemar sebelum membuat keputusan yang drastis. Atau, mungkin dia memang sengaja mencari sensasi? Entahlah, hanya Matty Healy yang tahu.
Yang jelas, insiden ini jadi pengingat bahwa dunia musik itu dinamis dan penuh kejutan. Seperti game yang terus di-update, musik pun terus berubah dan berkembang. Sebagai pendengar, kita cuma bisa menikmati permainannya dan berharap developer-nya nggak bikin keputusan yang aneh-aneh. Kalau enggak, ya, siap-siap pindah game alias cari musisi lain.


