Siapa sangka, di tengah hiruk pikuk politik global yang konon katanya ‘demi kedamaian’, ada saja jurus-jurus baru yang diluncurkan. Presiden AS Donald Trump, dengan gaya khasnya yang tak pernah lepas dari bumbu bombastis, kabarnya sudah membisikkan ke telinga para loyalisnya di Kongres: perang dengan Iran ini bakal kelar “dalam waktu dekat.” Ya, seolah-olah ini cuma ajang pamer kekuatan militer sesaat, bukan konflik yang berpotensi menguras sumber daya dan nyawa. Operasi yang dijuluki ‘Epic Fury’ ini, yang entah kenapa terdengar seperti nama sebuah band rock lawas, diklaim Trump telah membereskan sebagian besar persenjataan Iran. Angka ’80 persen’ itu jelas bukan angka sembarangan, kalau benar, ini ibarat game FPS di mana musuh tiba-tiba kehabisan peluru dan hanya menyisakan tembakan ‘trickle’. Sungguh sebuah narasi yang meyakinkan, bukan? Terlebih lagi, pasca serangan awal 28 Februari yang diklaim menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei, ketegangan semakin memuncak. Kini, memasuki minggu kedua, Trump justru semakin optimistis, seolah ia punya jadwal pasti kapan ‘pertunjukan’ ini akan usai dan dunia akan ‘jauh lebih aman’. Entah amannya itu untuk siapa, kita tunggu saja.
Trump membingkai aksi militer ini sebagai ‘ekspedisi kecil’ yang perlu dilakukan untuk membasmi ‘kejahatan tertentu’. Kata ‘ekspedisi kecil’ ini terdengar agak meremehkan, seolah-olah ini hanya perjalanan akhir pekan ke luar kota yang kebetulan ada sedikit insiden. Namun, menurut sang presiden, berkat ‘kapabilitas luar biasa’ militer AS, ekspedisi ini dipastikan hanya akan berlangsung ‘jangka pendek’. Dampaknya pada ekonomi pun disebutnya hanya ‘sedikit jeda’, yang akan segera pulih dan ‘melampaui segalanya’. Analogi yang menarik, seolah ekonomi itu ibarat mobil balap yang sedikit tersendat sebelum akhirnya melesat tak terkendali. Sungguh keyakinan yang patut diacungi jempol, atau mungkin patut dipertanyakan kejelasannya. Jika memang sekadar ‘jeda’, mengapa pengerahan militer yang masif dan dampak yang terjadi terasa begitu signifikan?
Lebih lanjut, Trump mengklaim telah menenggelamkan ’46 kapal laut Iran kelas atas’ dalam waktu tiga setengah hari. Cerita mengenai percakapannya dengan seorang pejabat militer yang memilih menenggelamkan kapal daripada menangkapnya karena ‘lebih menyenangkan’ dan ‘lebih aman’ semakin menambah bumbu narasi. Ini seperti adegan film aksi di mana keputusan strategis dibuat atas dasar kesenangan semata. Apakah logika seperti ini yang digunakan dalam peperangan modern? Jika benar demikian, dunia militer harus segera memperbarui buku panduannya. Pernyataan ini seolah menyiratkan bahwa penghancuran lebih disukai daripada pengelolaan aset, sebuah paradoks tersendiri dalam dunia strategi. Keberhasilan ini, tentu saja, harus diapresiasi, meski konteksnya terasa sedikit… absurd.
Di sisi lain, Trump juga mengklaim bahwa AS berhasil mencegah serangan imanen Iran yang akan terjadi ‘dalam seminggu’ terhadap AS dan sekutunya. Klaim ini dilontarkan tanpa adanya bukti konkret yang disajikan, sebuah pola yang cukup sering terlihat. Ia bahkan menuduh Iran mengarahkan rudal ke negara-negara Timur Tengah yang netral, yang kemudian berpihak pada AS. Analisis ini, jika benar, menunjukkan adanya permainan geopolitik yang kompleks, di mana setiap gerakan diperhitungkan untuk mengamankan posisi yang lebih menguntungkan. Tujuannya, menurut Trump, adalah untuk ‘menguasai Timur Tengah’. Sebuah ambisi yang besar, jika memang terbukti adanya rencana semacam itu.
Pertunjukan Spektakuler Operasi ‘Epic Fury’
Trump tidak ragu merayakan ‘pembantaian’ para petinggi Iran. Ia menyebut mereka ‘sudah tiada’, dan ‘tidak ada yang tahu siapa yang akan memimpin negara itu’. Ini mengingatkan pada operasi pembunuhan Qassem Soleimani di masa lalu, yang disebut Trump sebagai ‘ayah dari bom pinggir jalan’. Soleimani, sebagai komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), memang memegang peranan penting dalam jaringan regional Iran. Keberhasilan menghabisi para pemimpin kunci ini, jika dilihat dari kacamata Trump, adalah langkah strategis yang brilian, menciptakan ketidakpastian dalam kepemimpinan lawan.
Sang presiden bahkan menyatakan bahwa AS telah ‘menang dalam banyak hal’, namun belum cukup. ‘Kami akan terus maju lebih bertekad dari sebelumnya untuk mencapai kemenangan akhir yang akan mengakhiri bahaya yang telah berlangsung lama ini sekali untuk selamanya. Empat puluh tujuh tahun, itu seharusnya sudah dilakukan sejak lama,’ tegasnya. Pernyataan ini menyiratkan adanya dendam historis atau agenda jangka panjang yang belum terselesaikan. Jika konflik ini memang sudah ‘seharusnya’ selesai empat puluh tujuh tahun lalu, mengapa baru sekarang tindakan tegas diambil? Sebuah pertanyaan yang menggantung di udara, menunggu jawaban yang lebih memuaskan daripada sekadar retorika kemenangan.
Nasib Mojtaba Khamenei: Kecewa dengan Pilihan Iran
Yang menarik, Trump mengaku ‘kecewa’ dengan penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Iran, menggantikan ayahnya. Menurutnya, penunjukan ini ‘akan mengarah pada masalah yang sama saja bagi negara tersebut’. Pernyataan ini menunjukkan adanya preferensi Trump terhadap kepemimpinan tertentu di Iran, atau setidaknya ketidakpuasan terhadap sosok yang dianggapnya tidak akan membawa perubahan positif. Ketika ditanya apakah pemimpin baru ini menjadi target, Trump memilih jawaban yang ‘tidak pantas’ diucapkan, sementara Israel sendiri telah menyatakan niat untuk membunuh pengganti Ali Khamenei. Ini menunjukkan adanya ketidakpastian dan permainan strategi yang sangat halus dalam eskalasi konflik ini, di mana pengumuman seorang pemimpin baru bisa memicu reaksi yang lebih agresif.
Trump juga enggan memberikan detail lebih lanjut mengenai rencananya menghadapi Mojtaba Khamenei. ‘Tidak akan diberitahu. Tidak senang dengannya,’ ujarnya. Sikap tertutup ini bisa diartikan sebagai taktik negosiasi atau ancaman terselubung. Israel sendiri telah menunjukkan niatnya untuk melakukan assassinate terhadap pemimpin baru Iran, sebuah langkah yang semakin memperkeruh suasana dan menunjukkan betapa berbahayanya situasi di kawasan tersebut. Respons Israel ini, jika diikuti oleh AS, akan menciptakan spiral kekerasan yang sulit dihentikan. Keputusan untuk tidak ‘memberitahu’ rencananya bisa jadi pertanda bahwa AS memiliki strategi yang lebih licik dan mematikan, atau justru hanya gertakan untuk menekan Iran.
Perang ini, dengan segala klaim kemenangan dan pernyataan optimis dari pihak AS, masih menyisakan banyak pertanyaan. Narasi ‘ekspedisi kecil’ yang segera berakhir ini terasa kontras dengan kenyataan eskalasi geopolitik yang terjadi. Apakah ini sekadar manuver politik untuk mendapatkan dukungan domestik, atau memang ada strategi brilian di baliknya? Keberhasilan militer yang diklaim luar biasa, jika benar, patut dianalisis lebih dalam. Namun, tanpa transparansi dan bukti yang lebih kuat, semua klaim tersebut akan tetap berada di ranah spekulasi dan retorika belaka. Dunia menunggu lebih dari sekadar klaim, tetapi kepastian dan solusi damai yang berkelanjutan, bukan sekadar ‘kemenangan’ yang dicapai dengan mengorbankan stabilitas global.


